Banjir merupakan bencana paling sering terjadi dan paling merusak di Indonesia, terutama di wilayah pesisir seperti Pulau Madura. Kelompok lanjut usia menjadi populasi paling rentan karena keterbatasan fisik, akses terhadap layanan darurat, dan dukungan sosial yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi berbagai faktor yang memengaruhi ketangguhan lansia dalam menghadapi dan memulihkan diri dari bencana banjir di Pulau Madura, Indonesia.
Penelitian dilakukan di empat kabupaten di Madura: Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, dengan melibatkan sebanyak 399 orang lansia sebagai responden. Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini menganalisis lima dimensi utama yang membentuk ketangguhan, yaitu faktor demografis, kondisi kesehatan, persepsi risiko, dukungan kelembagaan, dan sikap terhadap bencana. Teknik analisis yang digunakan meliputi Spearman correlation dan Principal Component Analysis (PCA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia, status kesehatan, pengalaman banjir sebelumnya, ketersediaan bantuan institusional, dan kesiapsiagaan bencana merupakan faktor paling signifikan dalam membentuk ketangguhan lansia. Indikator kritis lainnya mencakup jenis kelamin, penggunaan alat bantu jalan, kebutuhan bantuan dalam aktivitas harian, serta akses terhadap layanan darurat. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan multidimensional dan intervensi yang terfokus untuk melindungi kelompok lansia di wilayah rawan bencana.
Penelitian ini memberikan rekomendasi agar kebijakan pengurangan risiko bencana di daerah rawan banjir dapat lebih inklusif dengan mempertimbangkan kebutuhan khusus kelompok lanjut usia. Dukungan sosial, edukasi kebencanaan yang sesuai usia, serta penguatan kapasitas institusi lokal menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat secara keseluruhan.
Penulis: Hijrah Saputra, Prasetyo Widyo Iswara, Nik Norliati Fitri Md Nor, Fadly Usman
Artikel selengkapnya dapat diakses di: https://www.scopus.com/pages/publications/105009291117





