51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Dinamika Jumlah Neutrofil Mutlak yang Diperpanjang pada Pasien Kanker Payudara

Foto by Mayapada Hospital

Kanker payudara merupakan keganasan yang terutama menyerang wanita di Indonesia dan di seluruh dunia dengan mortalitas dan morbiditas yang relatif tinggi. Kombinasi diagnosis dini, pengobatan segera, dan rehabilitasi dapat meningkatkan perawatan kanker payudara. Indonesia sebagai negara berkembang terus berkembang setiap hari untuk menyediakan layanan kesehatan yang dapat diakses oleh masyarakatnya. Diagnosis dini yang dapat diakses dengan integrasi pemeriksaan klinis, pencitraan, dan analisis histopatologi masih dapat ditingkatkan. Selain itu, terapi kanker payudara di Indonesia masih memiliki ruang untuk perbaikan.

Pengobatan kanker payudara terdiri dari pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi. Pembedahan dan radioterapi memberikan penatalaksanaan lokal kanker payudara di lokasi primer dan jaringan sekitarnya, sedangkan kemoterapi sebagai terapi sistemik memberikan terapi sistemik dan penatalaksanaan mikrometastasis kanker payudara dan metastasis jauh.

Kemoterapi sebagai terapi sistemik memberikan cakupan seluruh tubuh untuk terapi kanker payudara. Namun kemoterapi juga menunjukkan reaksi merugikan sistemik termasuk alopesia, mual, muntah, perdarahan gastrointestinal, sindrom lisis tumor, cedera hati, cedera ginjal, cedera jantung, dan neutropenia akibat kemoterapi. Penyesuaian dosis kemoterapi, siklus, interval, dan pemantauan fungsi organ harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan efikasi maksimal dengan efek samping minimal.

Rejimen kemoterapi kombinasi TAC yang terdiri dari docetaxel, adriamycin (doxorubicin), dan cyclophosphamide adalah pilihan kemoterapi lini pertama kanker payudara karena memberikan kemanjuran yang layak. Namun kemoterapi TAC diketahui menginduksi neutropenia yang diinduksi kemoterapi sebesar 22% -25% (risiko tinggi) dan neutropenia demam sebagai sifat dari efek myelosupresif.

Neutropenia adalah kondisi penurunan jumlah neutrofil dalam sirkulasi darah, sedangkan neutropenia demam terjadi pada pasien dengan neutropenia dengan manifestasi demam tinggi. Tingkat neutrofil yang rendah sebagai granulosit dan komponen sistem kekebalan tubuh, membuat pasien terpapar infeksi. Dengan neutropenia yang parah, pasien dapat mengalami infeksi parah dan sepsis yang menyebabkan kematian. Pemantauan ketat terhadap ANC (jumlah neutrofil absolut) pada pasien yang menerima kemoterapi TAC harus dilakukan untuk mencegah kondisi ini. Febrile neutropenia, dan sepsis dapat memperburuk kondisi pasien kanker payudara yang memiliki kondisi relatif imunosupresi. Oleh karena itu, perlu untuk mengelola kekurangan ini melalui beberapa langkah, termasuk pemberian faktor pertumbuhan.

Pemberian G-CSF (granulocyte-colony stimulating factor) secara subkutan dapat menginduksi produksi granulosit di sumsum tulang. Dengan pemberian durasi neutropenia G-CSF selama kemoterapi TAC dapat dipersingkat dan mendorong pemulihan ANC lebih cepat. Ada beberapa produk G-CSF yang sudah dipasarkan di seluruh dunia sebagai obat bernama filgrastim. Modifikasi prosedur pemberian filgrastim dapat dievaluasi lebih lanjut untuk mengevaluasi dinamika ANC, titik kritis, dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemberian filgrastim. Penelitian ini melakukan injeksi filgrastim subkutan setiap hari dengan target ANC ≥ 10.000/mm3 atau 14 hari pemberian filgrastim.

Tim Peneliti Divisi Hematologi-Onkologi Medis Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ami Ashariatim, dr., Sp.PD-KHOM, FINASIM, melakukan evaluasi pemberian extended filgrastim sebagai profilaksis neutropenia di pasien kanker payudara yang menerima rejimen TAC. Penelitian ini dilakukan di Graha Amerta, Surabaya melalui evaluasi harian ANC selama pemberian filgrastim dan kemoterapi TAC terhadap 42 pasien dengan usia antara 31-70 tahun.

Berdasarkan penelitian ini ada beberapa temuan yang perlu digarisbawahi sebagai poin penting selama kemoterapi TAC dengan pemberian filgrastim. Selama penelitian ini terdapat 95,2% kejadian neutropenia non demam dan 4,8% kejadian neutropenia demam. Dengan rata-rata lama pemberian figrastim 9,57±0,70 hari. Pola ANC pasien juga diamati dengan 3 fase, langkah pertama peningkatan ANC hingga hari ke-2 pasca pemberian filgrastim, langkah kedua kemiringan ANC hingga mencapai nadir sebagai jumlah ANC terendah, dan langkah ketiga pemulihan ANC. Durasi pengobatan untuk mencapai ANC >10000/mm3 pada penelitian ini adalah 8“11 hari, dengan rata-rata 9,6±0,7 hari.

Selama pemberian filgrastim kejadian neutropenia selama kemoterapi TAC pada pasien kanker payudara masih terjadi dan menonjol pada 5-7 hari pasca kemoterapi. Berdasarkan analisis korelasi, disarankan bahwa nadir sebagai titik terendah ANC harus dicatat sebagai tonggak penting untuk kemiringan ANC dan evaluasi pemulihan karena korelasi menunjukkan pada pasien dengan nadir ANC yang lebih rendah dapat memperpanjang kemiringan dan pemulihan ANC yang pada akhirnya menghasilkan durasi pemberian filgrastim yang lebih lama. Analisis faktor usia menunjukkan bahwa terlepas dari usia, keparahan neutropenia dan pemulihan ANC tidak berbeda secara signifikan. Penerapan klinis dari penelitian ini menunjukkan bahwa nadir ANC pada 5-7 hari pasca kemoterapi adalah garis waktu yang penting di mana pengamatan klinis harus dilakukan dengan hati-hati dan penilaian nadir dapat memberikan gambaran penting bagi dokter tentang pemulihan ANC. Informasi tentang kemoterapi dan dinamika ANC dengan pemberian filgrastim yang tidak dipengaruhi secara signifikan oleh usia dapat menyarankan kemoterapi yang relatif aman bahkan pada pasien geriatri. Pemberian filgrastim lanjutan dilakukan 8-11 hari dengan target ANC >10.000/mm3.

Studi ini menunjukkan bahwa pemberian filgrastim yang diperpanjang dapat diadopsi sebagai protokol untuk manajemen CIN pada pasien kanker payudara yang menerima kemoterapi TAC dengan keamanan relatif terhadap CIN dan usia. Evaluasi ANC selama pengobatan juga harus dilakukan dengan waspada terutama pada 5-7 hari pasca kemoterapi atau ANC nadir. Evaluasi nadir ANC juga dapat memprediksi pemulihan ANC. Namun, penelitian ekstensif untuk mengkonfirmasi temuan ini dan untuk mengevaluasi pola pemberian filgrastim secara objektif harus dilakukan untuk meningkatkan objektivitas sebelum diadaptasi dalam pedoman medis.

Penulis: Prof. Dr. Ami Ashariati Prayoga, dr., Sp.PD-KHOM.

Link Jurnal:

AKSES CEPAT