Emotional eating, atau makan secara emosional, adalah kondisi di mana seseorang makan bukan karena rasa lapar fisik, tetapi lebih karena respon terhadap stres atau emosi tertentu. Fenomena ini kian menarik perhatian, terutama di kalangan pekerja sedentari, yang sering kali menghabiskan waktu lebih banyak dalam posisi duduk atau kurang bergerak selama jam kerja. Sebuah studi terbaru berjudul 淓motional Eating on Sedentary Workers: Is It Caused by Individual Characteristics, Exercise Habits, and Work Stress? menyajikan temuan yang penting mengenai faktor-faktor penyebab emotional eating pada pekerja sedentari, khususnya pada perusahaan Kalla Group. Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin adalah faktor yang paling dominan dalam memengaruhi tingkat emotional eating pada pekerja sedentari, diikuti oleh kebiasaan olahraga, usia, dan tingkat stres kerja. Keempat faktor ini memiliki kontribusi berbeda dalam meningkatkan atau mengurangi potensi seseorang untuk melakukan emotional eating.
- Jenis Kelamin: Data menunjukkan bahwa jenis kelamin memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku emotional eating. Hasil ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih sering melakukan emotional eating dibandingkan laki-laki. Perbedaan ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk hormon, peran sosial, dan respons terhadap stres.
- Kebiasaan Olahraga: Kebiasaan olahraga secara rutin ternyata berdampak besar dalam mengurangi emotional eating. Aktivitas fisik membantu menurunkan stres dan meningkatkan mood sehingga kecenderungan untuk makan secara emosional bisa ditekan. Penelitian ini juga mendukung fakta bahwa olahraga mampu memberikan “pelampiasan” yang lebih sehat bagi pekerja, yang mungkin mengalami stres akibat pekerjaan sedentari mereka.
- Usia: Meskipun usia tidak menjadi faktor paling dominan, penelitian ini menemukan bahwa pekerja berusia lebih muda cenderung lebih rentan terhadap emotional eating dibandingkan mereka yang lebih tua. Bisa jadi, hal ini berkaitan dengan tingkat kematangan emosional dan pengalaman hidup yang lebih luas pada pekerja yang lebih tua.
- Stres Kerja: Tidak bisa dipungkiri, stres kerja juga menjadi faktor penyebab emotional eating. Pekerjaan yang monoton, tenggat waktu yang ketat, dan kurangnya aktivitas fisik selama bekerja meningkatkan risiko stres, yang kemudian memicu keinginan untuk makan sebagai bentuk pelampiasan emosi.
Berdasarkan hasil penelitian ini, pengendalian emotional eating dapat dilakukan melalui pendekatan yang disesuaikan dengan jenis kelamin pekerja. Mengingat adanya perbedaan respons antara laki-laki dan perempuan terhadap emotional eating, intervensi berbasis gender dapat menjadi strategi yang efektif. Misalnya, untuk pekerja perempuan, bisa diterapkan program dukungan psikologis atau konseling yang menekankan pada pengendalian emosi dan manajemen stres, sementara untuk pekerja laki-laki, bisa diterapkan program peningkatan aktivitas fisik.
Kebiasaan olahraga menjadi kunci penting dalam menurunkan risiko emotional eating. Oleh karena itu, pihak manajemen di perusahaan-perusahaan, terutama yang memiliki tipe pekerja sedentari, disarankan untuk menyediakan program olahraga rutin bagi karyawannya. Contohnya, mereka bisa menyediakan gym di tempat kerja, mengadakan kegiatan olahraga mingguan, atau memberikan waktu khusus bagi karyawan untuk bergerak di sela-sela jam kerja.
Olahraga tidak hanya membantu menurunkan stres, tetapi juga meningkatkan kesehatan fisik dan mental karyawan secara keseluruhan. Dengan demikian, manfaat yang didapat tidak hanya berfokus pada emotional eating, tetapi juga pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan karyawan.
Tentu, tidak mudah bagi manajemen untuk langsung menerapkan intervensi yang sesuai bagi seluruh karyawan. Sebagian karyawan mungkin tidak terbiasa atau kurang termotivasi untuk berolahraga, sedangkan sebagian lainnya mungkin menghadapi tantangan fisik tertentu. Maka dari itu, penting bagi manajemen untuk:
- Mengidentifikasi kebutuhan karyawan berdasarkan survei: Survei internal mengenai kebiasaan makan, tingkat stres, dan ketertarikan karyawan terhadap olahraga bisa menjadi langkah awal yang baik.
- Menyediakan fasilitas olahraga yang mudah diakses: Misalnya, jika tidak memungkinkan untuk menyediakan gym, perusahaan bisa memberikan akses diskon ke pusat kebugaran atau mengadakan kelas olahraga di tempat kerja.
- Menawarkan program dukungan kesehatan mental: Program seperti konseling atau pelatihan manajemen stres bisa melengkapi intervensi fisik dan membuat pendekatan menjadi lebih holistik.
Penelitian ini memberikan wawasan bahwa emotional eating pada pekerja sedentari dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, kebiasaan olahraga, usia, dan stres kerja. Manajemen perusahaan dapat mengambil langkah strategis dengan menyediakan fasilitas olahraga dan dukungan kesehatan mental, serta merancang program yang sesuai dengan kebutuhan berdasarkan faktor individu. Melalui pendekatan ini, perusahaan tidak hanya akan membantu mengurangi emotional eating tetapi juga meningkatkan kesehatan dan produktivitas karyawan secara keseluruhan.
Dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih mendukung kesejahteraan fisik dan mental, diharapkan dapat tercipta budaya kerja yang lebih sehat, produktif, dan harmonis.
Penulis: Shintia Yunita Arini, S.KM., M.KKK.
Link:
Baca juga: Cegah Penurunan Kinerja Otak Saat Olahraga dengan Memanfaatkan Teknik Pendinginan





