Kanker lambung merupakan penyebab kematian keempat akibat kanker di seluruh dunia dan masih menjadi kanker saluran cerna yang umum di wilayah Asia Tenggara (ASEAN). Mayoritas perdarahan saluran cerna bagian atas yang ganas disebabkan oleh kanker tertentu. Pendarahan akibat kanker lambung dapat menyebabkan anemia berat, syok hipovolemik, dan kondisi yang mengancam jiwa dan lebih parah mengakibatkan kematian. Kejadian hemoragik akut ini menyebabkan keterlambatan pengobatan pada pasien yang memerlukan kemoterapi dan komplikasi akibat reaksi transfusi. Oleh karena itu, mencapai hemostasis sangat penting untuk meningkatkan kondisi klinis.
Pasien kanker lambung yang datang ke unit gawat darurat dengan perdarahan saluran cerna bagian atas sebagian besar sudah berada pada stadium lanjut yang tidak dapat direseksi sehingga menyebabkan angka kematian yang lebih tinggi. Berdasarkan latar belakang tersebut tersebut, peneliti dari Fakultas kedokteran UNAIR berkolaborasi dengan para peneliti dari Thailand untuk melakukan penelitian terkait perdarahan saluran cerna pada pasien kanker lambung. Penelitian berbasis pada populasi besar yang menekankan pada kasus kanker lambung, mengidentifikasi faktor-faktor risiko dan tingkat kelangsungan hidup yang secara keseluruhan dapat mengarah pada penatalaksanaan yang tepat untuk perdarahan pada pasien kanker lambung di ASEAN.
Penelitian merupakan studi kohort retrospektif ini dilakukan antara tahun 2007-2022 di pusat perawatan tersier di Thailand. Informasi klinis, temuan endoskopi dan tipe histologis ditinjau secara ekstensif dan dibandingkan antara pasien yang mengalami perdarahan dan yang tidak pendarahan. Pasien dipantau setidaknya selama 5 tahun. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20.981 pasien yang menjalani endoskopi saluran cerna bagian atas selama masa penelitian. Total terdapat 180 pasien kanker kanker lambung dengan usia rata-rata 60 tahun. Sebanyak 65 (36,1%) pasien mengalami perdarahan gastrointestinal. Hipertensi dan penyakit ginjal kronis secara signifikan lebih sering terjadi pada penderita perdarahan dibandingkan non-pendarahan. Infeksi H. pylori juga secara signifikan lebih sering terjadi pada penderita perdarahan dibandingkan non-pendarahan. Terkait dengan kelangsungan hidup, pasien penderita pendarahan secara signifikan lebih rendah dibandingkan orang yang tidak mengalami pendarahan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendarahan akibat kanker lambung bukanlah suatu kondisi yang jarang terjadi. Mayoritas pasien datang pada stadium lanjut dengan prognosis buruk. Jenis kelamin laki-laki, hipertensi, penyakit ginjal kronis, dan infeksi H. pylori merupakan prediktor perdarahan pada pasien kanker. Diagnosis dini dan pengobatan yang cepat adalah kunci untuk meningkatkan kondisi klinis.
Penulis: Prof. Ratha-Korn Vilaichone, MD., Ph.D., FACG.AGAF.
Artikel dapat diakses pada: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0291926





