Penyakit refluks gastroesofageal/Gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah suatu kondisi yang berkembang ketika terjadi aliran balik asam lambung ke esofagus/kerongkongan. Paparan asam lambung dalam jangka panjang dapat mengiritasi sel esofagus dan menyebabkan tiga manifestasi penyakit berbeda bila diperiksa melalui endoskopi dan/atau mikroskop: (1) penyakit refluks non-erosif/non-erosive reflux disease (NERD), (2) esofagitis erosif (EE), dan (3) Barrett esofagus (BE). Gambaran klinis yang khas dari GERD adalah nyeri ulu hati dan naiknya asam lambung, dengan gambaran klinis yang tidak khas, seperti nyeri perut atas, nyeri serta kesulitan menelan, mual, batuk kronis, erosi gigi, radang tenggorokan, dan asma. Sekitar 30% kasus GERD dapat berkembang menjadi EE, dan 1“13% kasus EE juga dapat terus berkembang menjadi BE. Namun, laporan kasus EE di seluruh dunia masih belum jelas, walau para ahli memperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 1% dari populasi. Selain membebani kualitas hidup, radang esofagus yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan kanker. Karena dampak jangka panjangnya, sangat penting untuk mengidentifikasi faktor risiko yang berkontribusi terhadap perkembangan EE untuk menentukan perlunya analisis endoskopi dan/atau mikroskop untuk mendeteksi erosi mukosa secara dini. Selain itu, mengetahui faktor risiko EE penting untuk mencegah perkembangan EE menjadi BE dan kanker esofagus.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, kami melakukan penelitian dengan desain meta analisis menggunakan metode PRISMA. Kami melakukan pencarian studi melalui database jurnal ilmiah secara sistematis dan mengukur besar pengaruh faktor risiko serta angka kejadian EE di seluruh dunia. Kami menginklusi 114 penelitian observasional yang melibatkan 759.100 subyek partisipan pada penelitian ini. Analisis keseluruhan menunjukkan bahwa angka kejadian EE di seluruh dunia sebanyak 28%. Berdasarkan benua, Afrika menduduki peringkat pertama angka kejadian EE terbesar (47%), disusul oleh Timur Tengah (43%). Menariknya, angka kejadian EE di Amerika (36%) dan Eropa (34%) lebih tinggi dibandingkan Asia. Berdasarkan negara, angka kejadian terbesar diduduki oleh Indonesia (55%), India (52%), Nigeria (50%), Peru (50%), dan Albania (48%). Negara dengan angka kejadian EE terendah adalah Swedia (17%).
Dari analisis berbagai macam faktor yang diduga mempengaruhi risiko EE, kami menemukan bahwa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya EE antara lain: Usia di atas 60 tahun (risiko 2,03 kali lipat), ras kulit putih/Kaukasia (1,67 kali lipat), belum/tidak menikah (1,08 kali lipat), obesitas sentral (1,29 kali lipat), diabetes mellitus (1,24 kali lipat), hipertensi (1,16 kali lipat), dislipidemia (1,15 kali lipat), hipertrigliseridemia (1,42 kali lipat), hernia perut (4,07 kali lipat), dan perlemakan hati non alkohol (1,26 kali lipat). Di sisi lain, infeksi bakteri Helicobacter pylori dan gastritis atrofi dapat menurunkan risiko terjadinya EE sebanyak 0,56 dan 0,51 kali lipat, sehingga keduanya merupakan faktor protektif EE.
Penelitian kami menunjukkan bahwa risiko EE pada pria dua kali lipat dibandingkan pada wanita. Kombinasi aspek perilaku, imunologi, dan metabolik pada pria dapat meningkatkan risiko EE, misalnya kebiasaan mengonsumsi rokok dan alkohol. Kondisi penuaan, berat badan lebih besar, dan diafragma yang besar juga merupakan faktor yang menyebabkan pria lebih mudah terkena EE. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa risiko EE pada populasi wilayah barat (kulit putih/Kaukasia) kira-kira dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pada populasi non-kulit putih/Kaukasia. Faktor gaya hidup, anatomi, dan genetik kemungkinan merupakan penyebab tingginya risiko EE pada populasi Barat. Contoh dalam hal ini antara lain pola makan, kebiasaan minum alkohol, distribusi jaringan lemak, ukuran sel lambung yang lebih besar dan perbedaan genetik maupun komposisi tubuh pada populasi barat. Pola makan khas Barat dikenal tinggi lemak, natrium, kalori, dan gula, tetapi rendah serat, buah-buahan, dan sayur-sayuran.
Selain itu, kami juga menemukan bahwa hernia perut merupakan faktor risiko terjadinya EE. Beberapa kondisi, contohnya kehamilan, riwayat operasi, usia lanjut, dan kelebihan berat badan, dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hernia perut. Data kami juga menunjukkan bahwa gangguan metabolik seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dislipidemia, dan perlemakan hati meningkatkan risiko terjadinya EE. Orang yang mengalami obesitas cenderung mengalami peningkatan asam lambung yang lebih sering dan intens dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami obesitas. Obesitas dan diabetes juga dapat menyebabkan radang serta gangguan pada esofagus. Pada diabetes juga terjadi gangguan saraf yang mengganggu proses pengosongan lambung.
Menariknya, dalam penelitian ini kami menemukan atrofi lambung dan infeksi H.pilori sebagai faktor protektif EE. Keduanya merupakan gangguan lain yang terjadi pada lambung di luar EE. Atrofi lambung berarti lambung mengalami pengecilan. Terdapat dua jenis atrofi lambung, yaitu tipe tertutup dan terbuka. Pasien dengan atrofi tipe terbuka memiliki risiko yang lebih kecil untuk mengalami EE karena gangguan produksi asam lambung. Pasien dengan infeksi H.pilori juga memiliki risiko yang lebih kecil untuk mengalami EE karena proses peradangan kronis H.pilori dapat menyebabkan atrofi lambung dan menurunkan kemampuan produksi asam lambung. Akan tetapi, walaupun H.pilori bersifat protektif terhadap EE, eradikasi infeksi ini tetap mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya kanker lambung sebagai komplikasi lanjut.
Berdasarkan temuan kami, perawatan dan pencegahan EE yang yang komprehensif diperlukan untuk menangani penyakit ini, terlebih di Indonesia yang merupakan negara dengan angka kejadian EE terbesar di dunia. Pengendalian faktor risiko EE beserta keputusan kapan harus dilakukan endoskopi berdasarkan faktor risiko diharapkan dapat dibangun untuk membantu para profesional medis memberikan penatalaksanaan yang tepat dan komprehensif pada pasien yang berisiko tinggi terkena EE.
Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu
Dosen Fakultas Kedokteran Unair
Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: Risk factors and 26‘years worldwide prevalence of endoscopic erosive esophagitis from 1997 to 2022: a meta‘analysis yang dimuat pada jurnal ilmiah Scientific Reports vol 13:15249 tahun 2023.
Link artikel asli dapat dilihat pada:





