Penelitian ini menunjukkan prevalensi Escherichia coli ( E. coli ) penghasil ESBL telah meningkat secara signifikan, yang berdampak pada prognosis karena pilihan pengobatan yang tertunda atau terbatas. Escherichia coli (E. coli) adalah bakteri yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari”banyak ditemukan di usus manusia dan hewan. Namun, beberapa jenis
E. coli dapat menjadi ancaman serius, terutama ketika telah berkembang menjadi penghasil Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL). Bakteri jenis ini dapat œmenangkal™™ banyak antibiotik umum, membuat infeksi lebih sulit ditangani. Dalam beberapa tahun terakhir, infeksi
E. coli penghasil ESBL semakin sering ditemukan di berbagai rumah sakit di dunia, termasuk Indonesia. Kondisi ini menuntut tenaga medis untuk lebih waspada dan cermat dalam memberikan pengobatan awal. Tujuan penelitian untuk menentukan pola demografi, faktor risiko, dan luaran klinis E. coli penghasil ESBL di rumah sakit rujukan utama di Indonesia dengan menggunkan metode penelitian observasional yang berfokus pada pasien rawat inap dengan bakteremia karena E. coli selama tahun 2022“2024.
Hasil penelitian dapat mengidentifikasi 224 pasien selama 2022-2024 dengan lama rawat inap selama 3“13 hari. Mortalitas terjadi pada 66,55% pasien, dan tidak ada perbedaan mortalitas antara pasien dengan E. coli ESBL dan pada pasien dengan E. coli non-ESBL . Tingkat keparahan penyakit, sebagaimana didefinisikan oleh skor bakteremia Pitt (PBS), lebih tinggi pada kelompok E. coli ESBL . Infeksi saluran kemih (ISK), penggunaan antibiotik sebelumnya, dan pemasangan kateter vena sentral (CVC) merupakan faktor risiko independen untuk bakteremia akibat bakteremia E. coli ESBL . Jenis kelamin laki-laki, lama rawat inap (LOS) yang lebih pendek, tumor padat, pneumonia, ventilasi mekanis, pemasangan CVC, terapi antibiotik awal yang tidak tepat (IIAT), dan skor penilaian kegagalan organ berurutan (SOFA) merupakan faktor risiko mortalitas pada bakteremia yang disebabkan oleh E. coli , termasuk penghasil ESBL dan non-ESBL. Jenis kelamin laki-laki, LOS yang lebih pendek, penggunaan CVC, dan skor SOFA merupakan faktor risiko independen untuk mortalitas pada bakteremia akibat E. coli ESBL. Sehingga dapat disimpulkan bahwa E. coli penghasil ESBL meningkatkan keparahan bakteremia. Mengenali pasien yang berisiko tinggi terkena infeksi E. coli penghasil ESBL sangat penting untuk memulai pengobatan antibiotik empiris yang tepat yang menargetkan patogen penghasil ESBL.
Penulis: Prof. Dr. Nasronudin, dr., Sp.PD-KPT
Link:





