Pandemi COVID-19 memberikan dampak besar terhadap sistem kesehatan global. Salah satu konsekuensi yang banyak dilaporkan di berbagai negara adalah meningkatnya penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap, meskipun laju koinfeksi bakteri pada COVID-19 relatif rendah. Kondisi ini penting diperhatikan karena penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat mendorong resistensi antimikroba (AMR), yang sudah menjadi ancaman kesehatan global jauh sebelum pandemi. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Filipina, pandemi turut mengubah pola terapi di rumah sakit”terutama pada pasien dengan keluhan respiratori berat”seiring tingginya ketidakpastian klinis pada fase awal pandemi. Artikel ini menelaah perubahan penggunaan antibiotik rawat inap di rumah sakit Indonesia dan Filipina selama pandemi COVID-19, dengan fokus pada antibiotik intravena.
Penelitian dilakukan di enam rumah sakit (tiga di Indonesia dan tiga di Filipina) selama 36 bulan (Maret 2018 hingga Februari 2021). Data dikumpulkan secara retrospektif dan dibagi menjadi dua periode: pra-pandemi (Maret 2018“Februari 2020) dan pandemi (Maret 2020“Februari 2021), dengan onset pandemi ditetapkan pada Maret 2020. Penggunaan antibiotik dihitung sebagai defined daily dose (DDD) per 1000 patient-days atau per 1000 discharges. Perbandingan median penggunaan antibiotik antara periode pra-pandemi dan pandemi dianalisis menggunakan regresi kuantil, sedangkan perubahan pola penggunaan selama pandemi dianalisis menggunakan interrupted time series.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan antibiotik tidak terjadi merata di semua fasilitas, tetapi kenaikan bermakna terlihat pada beberapa rumah sakit. Secara keseluruhan, penggunaan semua antibiotik meningkat secara signifikan pada 3 dari 6 rumah sakit selama periode pandemi (Δ 12,5%“63,6%; Hospital A, D, F). Peningkatan juga menonjol pada antibiotik spektrum luas: penggunaan ceftriaxone meningkat signifikan pada 3 rumah sakit (Δ 37,1%“55,4%; Hospital A, D, F), dan penggunaan anti-pseudomonal meningkat signifikan pada 3 rumah sakit (Δ 51,5%“161,5%; Hospital A, B, F). Meskipun pemakaian anti-MRSA secara umum rendah, tetap ditemukan peningkatan bermakna pada dua rumah sakit (Δ 82,6% dan 212,6%; Hospital F dan A).
Interrupted time series analysis (ITSA) menunjukkan adanya lonjakan tiba-tiba pada awal pandemi di sebagian rumah sakit. Semua antibiotik gabungan, lonjakan tiba-tiba pada onset pandemi terjadi pada tiga dari enam rumah sakit (Hospital A, C, F). Namun ada pola yang menarik terlihat pada Hospital F, karena setelah lonjakan awal, penggunaan antibiotik menunjukkan penurunan bermakna dari waktu ke waktu selama periode pandemi, sejalan dengan adanya mekanisme pemantauan penggunaan antibiotik dan upaya menekan penggunaan antibiotik yang berlebihan (overuse). Namun, di akhir periode studi, tingkat penggunaan (termasuk anti-pseudomonal) masih lebih tinggi dibanding pra-pandemi. Sebaliknya, Hospital A menunjukkan peningkatan berkelanjutan (sustained increase) pada beberapa kelompok antibiotik selama periode pandemi.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pandemi COVID-19 berkaitan dengan peningkatan penggunaan antibiotik di rawat inap pada sebagian rumah sakit di Indonesia dan Filipina, terutama antibiotik spektrum luas. Temuan ini menguatkan urgensi antimicrobial stewardship (AMS) atau penatagunaan antibiotik (PGA) yang konsisten, termasuk pada masa krisis. Program PGA yang konsisten dan berkesinambungan, misalnya melalui audit dan umpan balik, evaluasi ulang terapi 48“72 jam, de-eskalasi berbasis klinis dan mikrobiologi, serta pembatasan rasional antibiotik spektrum luas, dibutuhkan agar respons klinis selama pandemi tidak memperburuk beban resistensi antimikroba di masa depan.
Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Fazal AZ, McGovern OL, Mahon GW, Lessa FC, Gler MT, Garcia J, et al. Trends in inpatient antibiotic use in Indonesia and the Philippines during the COVID-19 pandemic. Antimicrobial Stewardship and Healthcare Epidemiology. 2025 Jun 25;5(1).





