51动漫

51动漫 Official Website

Faktor Risiko Sepsis Neonatus yang Resistan terhadap Berbagai Macam Obat

Faktor Risiko Sepsis Neonatus yang Resistan terhadap Berbagai Macam Obat
Sumber: The Asianparent

Sepsis neonatorum, yang dikenal juga sebagai infeksi sistemik pada bayi baru lahir hingga usia 28 hari, masih menjadi penyebab ketiga kematian bayi baru lahir. Keadaan seperti ini membutuhkan perawatan intensif di unit perawatan intensif neonatus karena gangguan pernafasan berat dan ketidakstabilan hemodinamik. Bayi yang dirawat di unit perawatan intensif neonatus berisiko tinggi terinfeksi organisme resisten obat berganda, yang diketahui memiliki tingkat mortalitas lebih tinggi. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko infeksi sistemik pada bayi baru lahir hingga usia 28 hari yang disebabkan oleh organisme resisten obat berganda.

Penelitian ini merupakan studi potong-lintang yang mengambil data sekunder melalui rekam medis elektronik dari departemen mikrobiologi klinik dan unit perawatan intensif neonatus di Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut dr. Ramelan, Surabaya. Dari rekam medis elektronik tersebut, bayi baru lahir hingga usia 28 hari dengan tanda dan gejala klinis infeksi sistemik yang dilakukan pengambilan darah untuk dikultur, diambil sebagai populasi dalam penelitian ini. Apabila hasil kultur darahnya negatif atau tumbuh jamur akan dikeluarkan dari populasi penelitian. Jumlah sampel penelitian yang dibutuhkan, dihitung secara manual dengan rumus proporsi tunggal. Proporsi diambil dari penelitian serupa di Arab Saudi timur dengan proporsi sebesar 5.16%, didapatkan jumlah sampel minimal yang dibutuhkan sebesar 76 neonatus. Semua neonatus yang dirawat di unit perawatan intensif neonatus kami yang memenuhi kriteria sampel penelitian, mulai tanggal 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2022, diambil datanya melalui rekam medis elektronik. Data yang diambil dari rekam medis elektronik untuk menggambarkan karakteristik penelitian, termasuk: jenis kelamin, onset sepsis, berat badan lahir, usia kehamilan, kurva Lubchenco, metode persalinan, riwayat ketuban pecah dini dengan durasi lebih dari 18 jam, tipe cairan ketuban, riwayat penggunaan antibiotik selama persalinan, adanya malformasi kongenital, tipe admisi, durasi lama rawat inap, skor Apgar pada menit ke-5, riwayat penggunaan alat bantu nafas, riwayat pemasangan akses sentral, dan keluaran pasien.

Analisis deskriptif dilakukan dalam penelitian ini dengan membandingkan distribusi frekuensi kelompok neonatus terinfeksi organisme resisten obat berganda dan dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi organisme resisten obat berganda dari data karakteristik pasien. Analisis univariat dilakukan dengan uji chi-square. Setelah mengidentifikasi faktor risiko yang signifikan, dilakukan analisis multivariat untuk mengetahui faktor risiko signifikan mana yang berkaitan dengan infeksi organisme resisten obat berganda. Nilai p dikatakan signifikan apabila kurang dari 0.05. Semua analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 29. Jumlah akhir sampel penelitian kami sebanyak 113 neonatus dari 266 neonatus yang dilakukan pemeriksaan kultur darah. Risiko terinfeksi organisme resisten obat berganda meningkat hampir dua kali lipat pada neonatus dengan berat badan lahir rendah, riwayat cairan ketuban berwarna hijau, skor Apgar yang rendah, riwayat penggunaan alat bantu nafas invasif maupun non-invasif; tiga kali lipat pada neonatus dengan riwayat ketuban pecah dini lebih dari 18 jam; dan lima kali lipat pada neonatus dengan durasi rawat inap yang lebih lama. Lama rawat inap menjadi salah satu faktor risiko terjadinya infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten antibiotik karena proses transmisi silang atau tekanan selektif terhadap mikrobiom selama pengobatan dengan antibiotik. Sebaliknya, neonatus yang terinfeksi dengan jenis bakteri yang resisten dapat memperpanjang durasi rawat inap karena sulit untuk ditangani.

Melalui penelitian ini, diketahui mayoritas neonatus terinfeksi oleh organisme resisten obat berganda. Hal ini menunjukkan bahwa di rumah sakit tersier, beban infeksi organisme resisten obat berganda masih tinggi. Oleh karena itu, survelains kontinu untuk mengetahui kerentanan antibiotik masih dibutuhkan untuk mempertahankan terapi antibiotik empiris yang optimal. Pengembangan dari praktik kontrol infeksi, menghindari penggunaan antibiotik secara irasional, dan perbaikan dari protokol terapi diperlukan untuk mencegah resistensi antibiotik yang lebih lanjut. Proses audit dan adanya program pengembangan kualitas secara kontinu juga penting dalam melawan resistensi antibiotik. Penelitian kami tentunya memiliki keterbatasan, studi multisenter yang lebih representatif perlu dilakukan untuk kedepannya.

Penulis: Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,Sp.A(K)

Link:

Baca juga: Analisis Kuantitatif dan Kualitatif Penggunaan Antibiotik pada Pasien Neonatus

AKSES CEPAT