Perkembangan saluran genital wanita merupakan proses biologis yang kompleks melibatkan diferensiasi sel, migrasi, fusi, dan kanalisasi. Kegagalan dalam proses ini dapat menyebabkan berbagai kelainan bawaan, termasuk septum vagina. Septum vagina terbagi menjadi dua jenis utama: longitudinal dan transversal, yang dapat mempengaruhi proses persalinan secara signifikan. Dalam laporan ini, kami membahas tiga kasus unik di RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang menunjukkan bagaimana septum vagina mempengaruhi persalinan dan langkah medis yang diambil untuk mengelola kondisi ini.
Kasus Klinis :
Kasus 1: Kehamilan Kembar dengan Septum Vagina Longitudinal.
Seorang wanita berusia 21 tahun dengan kehamilan kembar dan diagnosis septum vagina longitudinal datang ke rumah sakit pada usia kehamilan 32/33 minggu. Selama proses persalinan, septum vagina yang terdeteksi dilakukan eksisi secara hati-hati, memungkinkan bayi pertama lahir dengan berat 1700 gram dan panjang 43 cm, dengan skor Apgar 7 dan 8. Bayi kedua lahir 15 menit kemudian dengan berat 1500 gram dan panjang 42 cm. Pasien dipulangkan dalam kondisi stabil dan menerima pemeriksaan lanjutan di klinik pascapersalinan tanpa komplikasi lebih lanjut.
Kasus 2: Septum Vagina Transversal Parsial.
Pasien kedua adalah seorang wanita berusia 24 tahun dengan septum vagina transversal parsial tebal sekitar 0,7 cm. Awalnya, rencana operasi eksisi septum dijadwalkan, namun pasien dinyatakan hamil sebelum operasi dilaksanakan. Karena potensi komplikasi seperti perdarahan dan robekan selama persalinan, tim medis memutuskan untuk melakukan operasi sesar terencana pada usia kehamilan 38/39 minggu. Bayi lahir dengan berat 3500 gram dan panjang 50 cm dengan skor Apgar 8 dan 9. Pasien menjalani perawatan pascapersalinan selama dua hari dan dijadwalkan untuk operasi eksisi septum setelah masa nifas selesai.
Kasus 3: Sindrom Herlyn-Werner-Wunderlich.
Kasus ketiga adalah pasien berusia 24 tahun dengan riwayat sindrom Herlyn-Werner-Wunderlich dan eksisi septum sebelumnya. Selama kehamilan baru, pemeriksaan menunjukkan posisi janin sungsang dan uterus didelphys. Dengan mempertimbangkan risiko komplikasi selama persalinan, tim medis memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Bayi lahir dengan berat 3000 gram dan panjang 49 cm dengan skor Apgar 7 dan 8. Pasien dipulangkan dalam kondisi baik dan dijadwalkan untuk pemeriksaan lanjutan.
Diagnosis kelainan bawaan seperti septum vagina memerlukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan pencitraan ultrasonografi atau MRI. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan inspekulo dapat mengungkapkan struktur fibrosa yang menunjukkan keberadaan septum. Diagnosis dini sangat penting untuk menghindari komplikasi yang tidak diinginkan selama persalinan. Penatalaksanaan septum vagina tergantung pada lokasi dan ketebalan septum. Septum tipis biasanya dapat dieksisi dengan prosedur minimal invasif, sementara septum tebal membutuhkan pembedahan yang lebih kompleks. Eksisi septum selama persalinan hanya dilakukan jika pasien tidak dapat menjalani operasi sebelum kehamilan. Dalam kasus septum vagina longitudinal, eksisi harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari cedera pada kandung kemih dan rektum. Septum vagina dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk perdarahan hebat, robekan jaringan, dan obstruksi selama persalinan. Selain itu, kehadiran septum vagina dapat menyebabkan posisi janin abnormal seperti sungsang, yang sering kali memerlukan tindakan operasi sesar.
Dalam tiga kasus yang dibahas, pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien terbukti efektif. Satu pasien berhasil menjalani persalinan normal setelah eksisi septum, sementara dua pasien lainnya menjalani operasi sesar untuk menghindari komplikasi yang berpotensi fatal. Beberapa studi menyebutkan bahwa septum vagina transversal yang tebal harus dieksisi sebelum kehamilan untuk meminimalkan risiko selama persalinan. Kasus dengan uterus didelphys juga memerlukan perhatian khusus karena deformitas uterus dapat menyebabkan posisi janin yang abnormal.
Diagnosis dini, perencanaan yang matang, dan intervensi bedah yang sesuai sangat penting dalam mengelola kasus septum vagina selama kehamilan. Tim medis perlu waspada terhadap kondisi ini untuk menghindari komplikasi dan memberikan hasil terbaik bagi ibu dan bayi. Pemeriksaan lanjutan setelah persalinan juga penting untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan dan memastikan tidak ada komplikasi jangka panjang.
Penulis: Varendra RM, Hardianto G, Kurniawati EM
Link:
Baca juga: Menilai Dampak Kondom, Mikrobisida Vagina, dan Optimalisasi Perawatan





