51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Festival sebagai Mesin Transformasi: Kisah Kebangkitan Banyuwangi Lewat Budaya

(Foto: Pawarta Jawa Timur)
(Foto: Pawarta Jawa Timur)

Di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi pernah hanya dikenal sebagai pintu pelabuhan menuju Bali. Namun dalam satu dekade terakhir, citra itu berubah drastis. Melalui strategi pembangunan yang berfokus pada festival budaya, pemerintah daerah Banyuwangi mengubah wajah kotanya menjadi salah satu destinasi wisata paling inovatif di Indonesia. Artikel ini mengisahkan bagaimana festival bukan hanya jadi ajang hiburan, tapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi lokal, medium ekspresi budaya, dan simbol kebangkitan pasca-pandemi.

Sejak awal 2010-an, Banyuwangi mulai membangun kalender festival tahunan dengan tujuan mendorong ekonomi lokal berbasis budaya dan pariwisata. Di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas (2010“2021), festival-festival seperti Kuwung dan Gandrung Sewu tidak hanya menjadi pertunjukan budaya, tetapi juga alat diplomasi budaya dan promosi wilayah. Dalam kurun waktu 7 tahun, jumlah wisatawan melonjak dari 800 ribuan pada 2011 menjadi lebih dari 5 juta orang pada 2018 (Sodiqin, 2019).

Keberhasilan Banyuwangi menjadi studi kasus penting bagaimana daerah mampu memanfaatkan keunggulan lokal: budaya Osing, kedekatan geografis dengan Bali, serta infrastruktur pelabuhan, bandara, dan kereta. Poin penting lainnya adalah keberanian pemerintah daerah dalam menyediakan ruang aman untuk ekspresi budaya, bahkan saat menghadapi tekanan kelompok konservatif. Dalam hal ini, Banyuwangi menunjukkan bahwa transformasi sosial dan ekonomi bisa dimulai dari panggung festival.

Namun semua itu diuji oleh pandemi COVID-19. Sejak 2020, mobilitas dan kerumunan dibatasi. Festival ditiadakan. Ekonomi pariwisata terhenti. Tapi justru dari keterpurukan ini, Banyuwangi kembali bangkit dengan semangat baru. Data menunjukkan, festival Banyuwangi kembali aktif dengan 55 agenda pada 2023 dan melonjak jadi 79 pada 2024 (Ikhwan, 2023). Wisatawan pun kembali berdatangan: hampir 3 juta orang berkunjung pada 2022, dan jumlah wisatawan mancanegara meningkat pesat sepanjang 2023 (Antara, 2023).

Salah satu simbol dari kebangkitan pascapandemi adalah rencana revitalisasi Asrama Inggrisan”kompleks bangunan bersejarah peninggalan kolonial Inggris yang dulunya menjadi simpul jaringan kabel bawah laut global pada abad ke-19. Lokasinya strategis, tepat menghadap alun-alun tempat festival diadakan. Pemerintah merencanakan kompleks ini menjadi hotel, museum, dan ruang pertemuan”menggabungkan warisan sejarah dengan pariwisata masa kini (Fauziyah & Afifa, 2023). Ini adalah bentuk nyata bahwa festival bukan hanya panggung budaya, tapi memicu geliat pembangunan ekonomi dan pelestarian sejarah.

Proyek-proyek ini tak hanya bicara tentang pariwisata, tetapi juga tentang social reimagining”cara masyarakat membayangkan kembali sejarah dan identitasnya lewat peristiwa budaya. Bahkan proyek lintas negara pernah dirancang untuk menghubungkan Banyuwangi dengan Broome, Australia Barat, melalui pertunjukan digital antar komunitas adat. Meskipun batal karena pandemi, ide ini menunjukkan potensi festival sebagai jembatan antarbudaya.

Kisah Banyuwangi membuktikan bahwa festival bisa menjadi instrumen transformasi sosial dan ekonomi jika dikembangkan secara strategis, inklusif, dan berkelanjutan. Investasi pada kalender budaya, pelibatan komunitas lokal, perlindungan terhadap ekspresi budaya, serta sinergi dengan infrastruktur dan warisan sejarah adalah kunci suksesnya. Pandemi COVID-19 memang sempat menghentikan denyut festival, tapi tidak mematikan semangatnya. Justru dari krisis itu, Banyuwangi membuktikan ketangguhannya: festival pulih lebih cepat dibanding sektor lain, dan menjadi landasan untuk pembangunan yang lebih luas.

Di tengah tantangan dunia yang terus berubah, cerita Banyuwangi mengajarkan bahwa pembangunan daerah bisa dimulai dari panggung dari musik, tarian, dan cerita lokal yang diberi ruang untuk tumbuh. Karena ketika masyarakat diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri secara kreatif, mereka tidak hanya menciptakan pertunjukan. Mereka membangun masa depan.

Nama : Irfan Wahyudi, S.Sos., M.Comms., Ph,D

Judul Jurnal Artikel : HOW DO FESTIVALS CATALYSE GROWTH IN BANYUWANGI, INDONESIA? 

Link Publikasi:

AKSES CEPAT