51动漫

51动漫 Official Website

Multikulturalisme di Singkawang: Toleransi dan Praktik Komunikasi antar Etnis di antara Komunitas Diaspora

Ilustrasi kegiatan warga etnis Tionghoa bersama kelompok etnis lainnya. (Sumber: Republika)

Studi ini menyelidiki praktik toleransi dan harmoni antara komunitas diaspora Tionghoa dan masyarakat adat Melayu dan Dayak di kota Singkawang, Kalimantan Barat. Ini meneliti praktik-praktik sosial-budaya mereka dan komunikasi antar-etnis, menawarkan perspektif multidisipliner tentang migrasi global di Indonesia. Singkawang adalah kota yang damai dan toleran, rumah bagi berbagai kelompok etnis seperti Tionghoa, Melayu, Dayak, Jawa, dan Madura. Studi ini bertujuan untuk meneliti kehidupan toleransi dan harmonisasi dalam komunitas diaspora Tionghoa serta kehidupan sosial-budaya dan komunitas, serta komunikasi antar-etnis yang dipelihara oleh komunitas tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, termasuk percakapan informal, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terfokus dengan pemimpin komunitas dan anggota perwakilan komunitas dari berbagai latar belakang etnis.

Studi ini menyimpulkan bahwa persepsi publik tentang perbedaan sangat penting untuk menjaga toleransi dan komunikasi antar-etnis. Strategi empati atau empati budaya membantu menahan diri kita dan melihat perbedaan sebagai keunikan masing-masing etnis. Para pemimpin komunitas memainkan peran penting dalam meminimalkan perbedaan dengan memulai forum komunikasi dan meningkatkan pemahaman tentang perbedaan, meskipun ada tantangan dalam praktiknya. Masyarakat Singkawang tidak akan melupakan sejarah konflik antarsuku yang terjadi di kota tersebut sebelumnya. Masa lalu yang kelam menjadikannya pelajaran bagi anggota komunitas untuk menahan diri, mengekang, dan tidak mudah tersulut emosi setiap kali mendengar isu yang dapat memicu munculnya konflik.

Pengalaman masa lalu dengan kekerasan antarsuku telah membuat anggota komunitas mengambil mekanisme dengan strategi empati dengan memahami perbedaan praktik keagamaan dan budaya dari setiap suku dan agama di Singkawang. Selain itu, keberadaan lembaga adat memainkan peran penting dalam mendorong komunikasi antar-etnis di kota tersebut. Demikian pula, lembaga-lembaga adat ini berkewajiban untuk membina warganya agar secara teratur membangun mekanisme komunikasi multikultural guna terus hidup dalam harmoni. Institusi sosial lainnya, seperti Yayasan Melayu, Perhimpunan Tionghoa, dan lainnya, juga penting dan relevan karena mereka menjadi organisasi penampung bagi anggota individu dari setiap kelompok etnis. Selain itu, penghinaan atau pelabelan terhadap identitas etnis tertentu sangat diperhatikan oleh anggota komunitas. Ini adalah cara lain untuk menyelamatkan hubungan antar-etnis dan menjaga sikap toleran terhadap etnis satu sama lain. Penduduk Singkawang mengakui bahwa wacana toleransi telah menjadi ideologi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Namun demikian, konten yang disebarkan di media sosial kadang-kadang dapat memicu diskriminasi dan merusak perdamaian serta niat baik yang diupayakan di Singkawang. Isu-isu yang telah menjadi viral di media sosial telah menjadi tantangan bagi kelompok etnis budaya dan para pemimpin agama di kota tersebut untuk mengurangi dan lebih aktif dalam berkomunikasi dengan warga dan penduduk mereka yang berasal dari berbagai budaya dan agama. Pada akhirnya, bahasa dan agama telah menjadi fitur diskriminasi lainnya. Agama, yang lebih penting, bisa menjadi pemicu utama diskriminasi dan konflik antar-etnis di komunitas multietnis seperti di Singkawang. Dengan demikian, tingkat kohesi sosial dan kualitas informasi yang diungkapkan dan didistribusikan kepada anggota etnis lainnya sangat penting, karena kohesi kelompok meningkat setiap kali topik pribadi dibagikan antara individu-individu dalam kelompok tersebut. Dengan demikian, kohesi sosial melibatkan penetapan nilai-nilai bersama dan komunitas interpretasi serta toleransi untuk mengurangi disparitas dan kebocoran. Sementara itu, studi ini juga menemukan bahwa etnisitas telah membantu memperkuat monopoli kelompok dominan atas aset-aset regional, seperti kekuasaan politik di tempat lokal.

Penulis: Prof. Rachmah Ida, Dra., M.Comm., Ph.D.

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

AKSES CEPAT