UNAIR NEWS Upaya pemanfaatan pangan lokal bergizi untuk mendukung keberhasilan ASI eksklusif terus dikembangkan. Pada 7 Februari 2026, telah diselenggarakan Pelatihan Pembuatan Puding Kelor dan Bubuk Kelor sebagai ASI Booster di Kelurahan Dalpenang. Kegiatan ini diikuti oleh anggota PKK dan Karang Taruna sebagai kelompok strategis dalam pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian 淎ksi Ottawa Charter dalam Promosi Kesehatan sebagai Upaya Akselerasi ASI Eksklusif di Kelurahan Dalpenang, Kabupaten Sampang yang diketuai oleh Dr. Dra. Shrimarti Rukmini Devy, M.Kes. Pelatihan ini sekaligus menjadi kegiatan lanjutan dari sosialisasi pemanfaatan kelor yang telah dilaksanakan pada 10 Januari 2026.
Pelatihan menghadirkan dua pemateri, yakni Dr. Rian Diana, S.Si., M.Si. (Rian) dan Asri Meidyah Agustin, A.Md.Gz. Kegiatan juga dihadiri oleh Lurah Dalpenang, Hj. Fatmawatik, S.E., M.M., serta perwakilan dari Puskesmas Banyuanyar, termasuk Kepala Puskesmas dr. Lilik Suryani.

Rangkaian kegiatan diawali dengan paparan materi dari Rian mengenai proses pembuatan bubuk kelor dan puding kelor skala rumah tangga, mulai dari pemilihan bahan, teknik pengolahan yang tepat, hingga cara menjaga kandungan gizi kelor agar tetap optimal. Materi ini menekankan potensi kelor sebagai pangan lokal bergizi yang dapat dimanfaatkan sebagai ASI booster alami.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan demo memasak yang dipandu oleh Asri Meidyah Agustin bersama Ibu Mofarrahah, selaku Ketua PKK Kelurahan Dalpenang. Dalam sesi ini, peserta diajak terlibat langsung dalam proses pembuatan puding kelor dan minuman bubuk kelor, sehingga dapat dipraktikkan secara mandiri di rumah.
Asri menjelaskan bahwa Puding Susu Kelor merupakan pangan selingan berbasis susu yang diperkaya dengan daun kelor (Moringa oleifera). Produk ini dapat digunakan sebagai snack atau selingan yang dapat membantu mencukupi kebutuhan gizi harian ibu menyusui sebagai pendukung keberlangsungan pemberian ASI eksklusif. Tidak hanya itu, selingan tersebut juga dapat membantu mencegah anemia postpartum.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa daun kelor berpotensi meningkatkan produksi ASI karena kandungan fitosterol dan senyawa bioaktif yang bersifat galaktagog, meskipun respons dapat berbeda pada setiap individu. Selain itu, daun kelor juga mengandung berbagai zat gizi penting seperti protein nabati, zat besi, kalsium, serta folat yang dibutuhkan oleh ibu menyusui.
淏erdasarkan analisis menggunakan aplikasi NutriSurvey, dalam satu resep puding susu kelor yang didemonstrasikan pada kegiatan ini terkandung sekitar 144,2 gram karbohidrat dan 42,6 gram protein, yang menunjukkan bahwa olahan ini memiliki potensi sebagai pangan selingan bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi dan protein ibu menyusui. Harapannya puding susu kelor ini bisa menjadi salah satu ide lain olahan daun kelor agar para ibu tidak bosan bila hanya dimasak sebagai sayur, jelas Asri.
Masyarakat menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung, termasuk saat sesi mencicipi hasil olahan. Peserta menilai rasa puding kelor mirip dengan teh hijau, sementara minuman bubuk kelor terasa lebih nikmat saat disajikan hangat dan ditambahkan madu. Respons positif ini menunjukkan bahwa olahan kelor dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemanfaatan kelor secara berkelanjutan, pada kegiatan ini juga dilakukan pembagian 100 bibit tanaman kelor kepada masyarakat. Bibit tersebut dibagikan kepada ibu hamil, kader kesehatan, keluarga ibu hamil, anggota PKK, serta Karang Taruna Kelurahan Dalpenang. Pemberian bibit ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk menanam kelor secara mandiri di lingkungan rumah, sehingga ketersediaan bahan pangan bergizi ini dapat terjaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, Rian berharap masyarakat Kelurahan Dalpenang semakin semangat dalam memanfaatkan kelor sebagai bahan pangan lokal untuk meningkatkan produksi ASI, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang mendukung ASI eksklusif sesuai prinsip Ottawa Charter. Kegiatan ini menjadi contoh praktik baik kolaborasi antara akademisi, pemerintah kelurahan, dan layanan kesehatan dalam mendorong promosi kesehatan berbasis potensi lokal.
Penulis: Galuh Mega Kurnia





