51

51 Official Website

FKM UNAIR Peringati Hari Tuberkulosis Sedunia, Satukan Visi Eliminasi Penyebarannya di Indonesia

Kegiatan Media Conference bertajuk GIATKAN! Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis, Senin (24/3/2025) (Foto: Istimewa)
Kegiatan Media Conference bertajuk GIATKAN! Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis, Senin (24/3/2025) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia 2025 yang jatuh setiap tanggal 24 Maret, Research Group Tobacco Control 51 (UNAIR) menggelar Media Conference bertajuk GIATKAN! Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis.

Kegiatan ini berlangsung pada Senin (24/3/2025) di Aula Sabdoadi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kampus MERR-C, UNAIR. Hadir dalam kegiatan ini sejumlah pakar kesehatan yang kompeten di bidangnya, yaitu dr Wiwin Is Effendi SpP(K) PhD FAPSR dan Prof Dr dr Santi Martini MKes (Dekan FKM UNAIR).

Dalam konferensi ini, para narasumber menyoroti kondisi terkini penyebaran TB di Indonesia serta upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit menular ini. Berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia saat ini menempati posisi kedua dengan beban kasus TB tertinggi di dunia setelah India. Diperkirakan terdapat 1.090.000 kasus TB dengan angka kematian mencapai 125.000 per tahunsetara dengan 14 kematian setiap jamnya.

Setelah TB terdeteksi melalui skrining, pengobatan hingga pencegahan harus terlaksana secara berkesinambungan. Tidak boleh ada kasus yang lolos dari penanganan agar pengendalian TB bisa lebih efektif, jelas dr. Wiwin. Ia menambahkan bahwa saat ini telah tersedia berbagai teknologi canggih untuk mendeteksi TB sejak dini.

Prof. Santi juga menyoroti tantangan dalam pengobatan TB, terutama dalam hal kepatuhan pasien terhadap terapi. Obat TB sudah tersedia gratis di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, tetapi banyak pasien yang tidak patuh menjalani pengobatan hingga tuntas. Hal ini menyebabkan resistensi obat, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit, ungkapnya.

Jawa Timur Menjadi Provinsi dengan Kasus TB Tertinggi Kedua

Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa prevalensi TB paru di Indonesia masih stagnan di angka 0,4%, sedangkan prevalensi pneumonia meningkat dari 1,6% menjadi 2%. Di Jawa Timur, kasus TB terus mengalami peningkatan signifikan, dari 53.289 kasus pada 2021 hingga 81.753 kasus pada 2022, menjadikannya provinsi dengan kasus TB tertinggi kedua setelah Jawa Barat. 

Program deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan gratis yang menjadi rencana pemerintah sebagai salah satu upaya untuk menemukan kasus TB lebih cepat. Dengan cakupan pemeriksaan yang lebih luas, diharapkan pengobatan TB dapat dilakukan lebih optimal.

Merokok sebagai Faktor Risiko TB

Dalam paparannya, Prof. Santi juga menyoroti faktor risiko yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus TB, salah satunya adalah kebiasaan merokok. Merokok merupakan faktor risiko kedua tertinggi bagi TB di Indonesia setelah malnutrisi. Perokok memiliki risiko 73% lebih tinggi untuk terinfeksi TB dan berpotensi lebih dari dua kali lipat mengembangkan TB aktif daripada individu yang tidak merokok, jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa upaya pencegahan TB harus terlaksana secara komprehensif dengan pendekatan berbasis faktor risiko. Rokok melemahkan sistem imun tubuh, sehingga meningkatkan risiko terkena penyakit, termasuk TB. Pemerintah telah menerapkan kebijakan seperti kenaikan cukai rokok sebagai salah satu langkah preventif, lanjutnya.

Arah Kebijakan dan Upaya Pengendalian TB

Dalam forum ini, para narasumber menekankan pentingnya strategi pengendalian TB melalui peningkatan deteksi dini, akses pengobatan yang lebih luas, serta kebijakan yang mendukung lingkungan bebas rokok. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan angka kasus TB di Indonesia.

Tanpa intervensi yang kuat, TB akan terus menjadi beban kesehatan yang besar bagi Indonesia. Oleh karena itu, kita memerlukan gerakan nasional yang masif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mempercepat eliminasi TB di Indonesia, ujar Prof. Santi.

Melalui kampanye GIATKAN! Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis, para narasumber berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pencegahan dan pengobatan dini. Sehingga, dampaknya adalah Indonesia dapat mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030.

Penulis : Febriana Putri Nur Aziizah
Editor : Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT