51动漫

51动漫 Official Website

Flavonoid Quercetin dalam Pematangan Epitel Vagina untuk Pengobatan Menopause

Penuaan populasi merupakan fenomena global yang tidak dapat diabaikan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya angka harapan hidup manusia. Antara tahun 2000 dan 2019, angka harapan hidup global meningkat dari 66,8 menjadi 73,4 tahun. Angka harapan hidup meningkat menjadi 79,3 tahun di Amerika, sedangkan di Indonesia meningkat dari 69,81 pada tahun 2010 menjadi 71,57 pada tahun 2021.

Saat ini, Indonesia memiliki populasi lansia sebesar 28 juta atau 10,8% yang diperkirakan meningkat menjadi 12,5% pada tahun 2025. Dengan bertambahnya usia perempuan, kondisi hormonal yaitu menopause sangat menentukan kualitas hidup mereka.

Menopause adalah berakhirnya masa reproduksi wanita yang menandakan terhentinya fungsi ovarium secara permanen. Pada masa menopause terjadi penurunan produksi estrogen sebesar 95% sehingga menimbulkan kondisi hipoestrogen. Kondisi hipoestrogen ini mempengaruhi seluruh struktur dan fungsi jaringan tubuh sehingga menimbulkan keluhan salah satunya pada daerah genitourinari.

Menopause menyebabkan perubahan struktural pada seluruh lapisan vagina, yaitu penipisan epitel dan penurunan kepadatan jaringan ikat, otot polos, dan pembuluh darah. Perubahan ini menyebabkan sebanyak 50% wanita pascamenopause mengeluhkan kumpulan gejala yang dikenal sebagai sindrom genitourinari terkait menopause.

Beberapa gejalanya antara lain lubrikasi vagina berkurang, gatal-gatal, mudah iritasi, libido menurun, dispareunia, keputihan, infeksi saluran kemih berulang, inkontinensia urin, dan disuria. Ada juga yang memendek, menyempit, dan hilangnya elastisitas vagina, yang menyebabkan 93 % wanita pascamenopause mengalami disfungsi seksual dan 40% mengalami prolaps organ panggul. Perubahan pada saluran urogenital ini menyebabkan ketidaknyamanan, tekanan psikososial, penurunan rasa percaya diri, dan penurunan kualitas hidup wanita secara keseluruhan.

Menopause adalah suatu kondisi terhentinya fungsi ovarium secara permanen sehingga menurunkan produksi estrogen hingga 95%. Kondisi hipoestrogen mempengaruhi organ genital terutama vagina sehingga mengakibatkan perubahan struktur vagina antara lain penipisan epitel, penurunan kepadatan jaringan ikat, pembuluh darah, dan otot polos vagina yang menyebabkan atrofi vagina, pemendekan dan penyempitan vagina, kehilangan elastisitas vagina, dan prolaps organ genital.

Sampai saat ini pilihan pengobatan utama adalah non-hormonal, yaitu bersifat simtomatik, yang mempunyai kelemahan yaitu hanya mampu mengurangi keluhan gejala ringan-sedang dan tidak dapat memperbaiki atrofi vagina serta komplikasi yang menyertainya. Di sisi lain, terapi hormonal memerlukan waktu pengobatan yang lama dan memiliki efek samping berupa hiperplasia endometrium, kanker payudara, kanker kolorektal, kanker ovarium, dan penyakit kardiovaskular.

Menopause mempengaruhi seluruh sistem tubuh wanita, terutama pada daerah genitourinari. Dampaknya pada sistem genitourinari menyebabkan wanita pasca menopause mengeluhkan sindrom genitourinari terkait menopause akibat atrofi vagina, disfungsi seksual, dan prolaps organ panggul dalam jangka panjang. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari terapi alternatif, khususnya flavonoid quercetin, karena sifat fitoestrogennya.

Terapi lini pertama menopause pada sistem genitourinari hanya bersifat simtomatik. Terapi ini hanya dapat mengobati gejala ringan-sedang, sedangkan terapi hormonal memerlukan pengobatan yang lama dan mempunyai efek samping seperti hiperplasia endometrium, kanker payudara, kanker kolorektal, dan kanker ovarium. Berbagai terapi alternatif dikembangkan untuk mengatasi dampak menopause pada vagina, salah satunya adalah flavonoid. Flavonoid merupakan zat fenolik yang terdapat pada berbagai tanaman buah dan sayuran.

Artikel review ini mengumpulkan banyak literatur untuk menyoroti efek menopause pada vagina dan efek fitoestrogen dari flavonoid quercetin sebagai terapi alternatif yang potensial. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan studi eksperimental masa depan mengenai efek quercetin pada vagina. Hasil penelitian menemukan kondisi hipoestrogenik mempengaruhi seluruh lapisan vagina. Hal ini disebabkan reseptor estrogen tersebar di lapisan epitel, lamina propria, dan lapisan otot vagina.

Penelitian in vitro menunjukkan quercetin menginduksi proliferasi sel dengan mengaktifkan jalur sinyal b-catenin/c-Myc/cyclin A2, yang dimediasi oleh reseptor estrogen. Jalur sinyal meningkatkan transisi siklus sel ke fase G1. Hal ini juga meningkatkan proliferasi dan migrasi keratinosit, proliferasi antigen inti sel, dan sel integrin a6 dan b1 positif pada lapisan basal epidermis, yang menyebabkan penebalan epidermis.

Quercetin flavonoid adalah fitoestrogen yang berikatan dengan reseptor estrogen alfa, memodulasi ekspresi gen yang diatur estrogen dan menunjukkan aktivitas agonis estrogen. Quercetin flavonoid merangsang proliferasi sel, mempengaruhi re-epitelisasi sel epidermis vagina. Flavonoid quercetin merupakan alternatif yang menjanjikan untuk terapi menopause pada vagina. Selanjutnya, penelitian in vivo diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil penelitian in vitro dan sebagai data dasar untuk perbandingan dengan fitoestrogen ampuh lainnya.

Penulis:  Prof. Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, dr., Sp.OG(K).

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT