Fistula vesikovaginal, salah satu komplikasi prosedur ginekologi dan kebidanan, merupakan lubang abnormal antara kandung kemih dan vagina. Kasus-kasus ini masih umum terjadi di negara-negara berkembang, dengan perkiraan mencapai setidaknya tiga juta perempuan. Catatan medis di Afrika menunjukkan bahwa 30.000-130.000 kasus fistula vesikovaginal terjadi setiap tahunnya (Stamatakos et al., 2014).
Hasil penelitian di Uganda menemukan bahwa wanita menderita gejala fistula vesikovaginal rata-rata selama 4,97 tahun dengan rata-rata skor keparahan ICIQ sebesar 7,21 (McCurdie et al., 2018). Kesehatan mental pasien dapat terganggu karena munculnya fistula vesikovaginal yang menyebabkan morbiditas yang signifikan. Hal ini disebabkan kebocoran urin yang terus menerus (Colenbrande et al., 2021).
Meskipun pembedahan merupakan standar emas, kekambuhan fistula vesikovaginal dapat terjadi. Perawatannya tidak memuaskan (Ezeonu et al., 2017). Tingkat keberhasilan perbaikan fistula vesikovaginal pada upaya pertama adalah sekitar 89% (Warner et al., 2020). Pada beberapa kasus, seperti radioterapi induksi, hasil rekonstruksi bedah lebih dari 90% dan kurang optimal (El-Azab et al., 2019).
Kekambuhan Fistula vesikovaginal di Serbia menunjukkan terdapat 15 formasi Fistula berulang yang terdiri dari dua belas setelah operasi pertama dan tiga setelah operasi kedua (Hadzi-Djokic et al., 2009). Dalam penelitian lain, 68,9% pasien mengalami fistula primer dan 31,1% pasien mengalami penyakit fistula berulang (Kumar dkk., 2019). Perkembangan fistula vesikovaginal mengganggu proses histerektomi (Bodner-Adler et al., 2017).
Penyembuhan pasca operasi merupakan suatu tantangan dalam proses penyembuhan fistula vesikovaginal. Keberhasilan suatu pembedahan ditentukan oleh percobaan pertama (Stamatakos et al., 2014). Proses penyembuhan luka, infeksi, dan sistem imunologi menjadi poin penting yang menentukan keberhasilan pengobatan (Lindberg et al., 2015).
Proses penyembuhan luka khususnya melibatkan proses yang kompleks dan dinamis penyembuhan luka di daerah kandung kemih. Area ini akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mengganti jaringan yang rusak (Ninan et al., 2015). Fase remodeling merupakan salah satu fase dalam kompleksitas penyembuhan luka. Fase ini berlangsung selama satu tahun atau lebih dan dimulai dua hingga tiga minggu setelah timbulnya lesi (Gonzalez et al., 2016).
Pengobatan regeneratif saat ini sedang dikembangkan khususnya pemanfaatan sel punca dari beberapa bagian tubuh manusia. Amnion merupakan bahan yang mudah ditemukan dan kaya akan zat pertumbuhan untuk perbaikan jaringan. Amnion dapat menjadi bahan potensial baru dalam mendukung pengobatan khususnya pada gangguan dasar panggul (Qiu et al., 2020).
Di dalam penelitian sebelumnya, amnion telah digunakan untuk penyembuhan luka melalui pembentukan epitel dan perlindungan dari infeksi (Roubelakis et al., 2012). Amnion kering berguna dalam mendukung pembedahan mata dan telah terbukti memiliki keunggulan logistik dibandingkan amnion beku (Allen et al., 2013).
Membran amnion beku-kering memiliki efek yang lebih baik dibandingkan membran amnion kriopreservasi dalam transplantasi lapisan untuk mengobati ulkus kornea (Memmi et al., 2022). Perbandingan struktur jaringan pada fase remodeling pada Fistula vesikovaginal antara penggunaan beku-kering amnion dan penjahitan primer pada hari ke 21 dianalisis dalam penelitian ini. Penelitian eksperimental ini menggunakan kelinci New Zealand yang berjenis kelamin betina dengan berat 3-4,5 kg.
Penelitian tahap pertama menciptakan model dari fistula vesikovaginal. Penelitian tahap kedua menutup fistula vesikovaginal yang berhasil dibuat tahap pertama. Penelitian ini menggunakan desain kelompok kontrol post-test only. Pemeriksaan histologis meliputi fibroplasia, angiogenesis, re-epitelisasi, dan deposisi kolagen pada hari ke 21. Data dianalisis secara deskriptif dan statistik. Skor rata-rata angiogenesis, fibroplasia, re-epitelisasi, dan deposisi kolagen di New Zealand. Fistula vesikovaginal model kelinci yang dijahit dengan penyemaian sel induk amnion manusia lebih tinggi dibandingkan kelinci tanpa penyemaian sel induk amnion, kelompok injeksi sel induk, dan kelompok kontrol.
Ada perbedaan yang signifikan antar kelompok hanya pada angiogenesis pada hari ke 21. Amnion beku-kering berperan dalam penyembuhan luka proses, terutama dalam angiogenesis dalam model perbaikan fistula vesikovaginal. Penggunaan amnion beku-kering bisa diterapkan untuk membantu proses penyembuhan luka pada pasien namun masih perlu diteliti pada manusia
Penulis: Prof. Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati, dr., Sp.OG(K).
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





