n

51动漫

51动漫 Official Website

Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia Kaji Revolusi Industri 4.0

Delegasi Kongres Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia dari beberapa universitas di Indonesia, termasuk UNAIR. (Dok. Pribadi)

UNAIR – Revolusi industri 4.0 menjadai tantangan yang harus dihadapi dan dipersiapkan oleh manusia. Dalam menyambut hadirnya revolusi industri 4.0, Kongres Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia(FMEI) digelar di Telkom University, Bandung, 4-6 Mei lalu. Temu fisik kali ini megangkat tema besar 淧engembangan Masyarakat Menengah ke Bawah untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Menuju Pertumbuhan Inklusif. Selain itu, diskusi juga mengarah pada sektor kelautan, infastruktur teknologi, dan agraria.

Kongres FMEI turut dihadiri delegasi dari berbagai universitas. Di antaranya, Univesitas Indonesia, Univesitas Gadja Mada, Intitute Pertanian Bogor, dan universitas lain yang tergabung dalam keanggotaan dan calon anggota. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) 51动漫 (UNAIR) mengirimkan lima delegasi yang berasal dari forum ketua, kajian, dan eksternal.

Ir. Dodie Tricahyono, M.M., Ph.D selaku dekan Telkom University menyampaikan bahwa revolusi industri 4.0 sudah semestinya dipersiapkan melalui pendidikan. Hal ini lantaran semakin banyak jenis pekerjaan baru yang tercipta, meskipun tidak dipungkiri terdapat lapangan pekerjaan yang digantikan oleh mesin.

Revolusi industri keempat menjadi konsep industri yang mendigitalisasi seluruh aspek manufaktur, bahkan juga mempengaruhi sektor jasa, transportasi, dan agrikultura. Penerapan digitalisasi mulai dari peralatan produksi hingga menjadi produk akhir sehingga menjadi lebih efisien. Era ini erat melibatkan robot yang menggantikan fungsi manusia, contohnya robot-to-worker pada pabrik-pabrik.

Di samping itu, pembahasan lebih lanjut diadakan pada forum kajian, eksternal, dan ketua untuk merumuskan rekomendasi dan solusi bagi pemerintah serta keberlangsungan FMEI secara organisasi.

Dalam kajian pembahasan sektor kelautan, penting adanya dorongan sociopreneur, menindaklanjuti pencemaran lingkungan, dan optimalisasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Hal ini mengingat Indonesia dikenal sebagai Mega-Biodiversity terbesar dengan 8.500 spesies ikan atau 37% dari spesies ikan di dunia. Potensi sumberdaya perikanan Indonesia dinilai stinggi mencapai 9,55 juta ton/tahun. Namun, permasalahan yang terjadi yakni penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan memberikan dampak buruk bagi keberlanjutan sumberdaya perikanan.

Pemerintah telah mengambil berbagai kebijakan guna menguatkan sektor kelautan. Kebijakan moratorium kapal-kapal eks asing membawa hawa positif bagi nelayan tradisional. Tidak hanya itu, harga jual ikan turut mengalami peningkatan karena nelayan lokal menjadi pemasok utama.

Sementara pada sektor agraria, hasil diskusi merumuskan pemerintah daerah untuk meletakkan agenda percepatan dalam pengembangan infrastruktur di daerah potensial. Perlu koordinasi antara pemerintah dan Badan Ekonomi Kreatif dalam menyusun regulasi e-commerce.

Dari seluruh hasil kajian, ada rencana tindak lanjut, yakni penyampaian rekomendasi dan solusi kepada pemerintah dalam bidang terkait. Hadir perwakilan dari Kementrian Perindustrian staf ahli bidang peningkatan penggunaan produksi dalam negeri, Dr. Ir. Imam Haryono, M.Sc beserta staf analis untuk memberikan edukasi seputar persiapan Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0 dan memberikan tanggapan terkait rekomendasi kajian.

淒ari FMEI tersebut banyak menambah wawasan terkait revolusi industri 4.0 serta relasi dengan universitas lainnya. Semoga ke depan 51动漫 menjadi tuan rumah dikongres selanjutnya, tutur Ajeng Kartiko Dewi, Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan 2016, salah satu delegasi. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT