Perkembangan pengobatan, pencegahan dan kontrol pada penyakit malaria merupakan salah satu masalah subtansial di dunia, sampai saat ini penyakit ini masih tergantung pada penggunaan obat antimalaria. Saat ini sudah terjadi penurunan kemanjuran pada obat antimalaria dan banyak parasit yang sudah resisten pada beberapa obat antimalaria, juga belum adanya vaksin yang efektif untuk mengontrol infeksi malaria karena kompleknya siklus hidup parasit Plasmodium
Adanya penyebaran multidrug resisten parasit malaria sangat dibutuhkan dikembangkannya obat antimalaria baru asal bahan alam. Salah satu tanaman obat yang banyak ditemukan di Indonesia adalah buah juwet (Syzygium cumini) yang diketahui mengandung senyawa phenolic and flavonoid,mempunyai aktivitas scavenging radikal dan antioksidan yang kuat. Aktifitas buah Syzygium cumini lebih baik dari pada bagian tanaman yang lain seperti daun, kulit batang sehingga buah dikembangkan dengan fraksinasi sebagai antimalaria.
Fraksinasi buah Syzygium cumini dengan beberapa pelarut seperti n heksan, etil asetat,butanol dan air serta kloroform dan metanol untuk menarik kandungan bahan aktif yang ada dan memisahkan komponen–komponen senyawa aktif dari ekstrak yang telah dihasilkan yaitu senyawa yang bersifat polar dan nonpolar. Untuk menguji aktivitias antimalaria suatu bahan ekstrak atau fraksi dapat dilakukan melalui tahapan pengujian secara in vitro maupun secara in vivo. Data dari uji in vitro dan in vivo saling mendukung satu sama lain. Data in vitro umumnya digunakan sebagai data dasar. Uji biologis in vitro untuk mendeteksi aktivitas antimalaria sangat penting untuk langkah validasi kemanjuran dan keamanan obat-obatan tradisional sehingga dapat diidentifikasi kualitas kandungan senyawa aktifnya.
Tujuan penelitian ini untuk membuktikan aktifitas fraksi buah Syzygium cumini sebagai antimalaria secara in vitro. Pengujian antimalaria secara In vitro menggunakan kultur Plasmodium falciparum 3D7 untuk menilai konsentrasi hambatan 50 % pertumbuhan plasmodium (IC50) menggunakan microplate well 24 yang diuji secara duplo pada konsentrasi fraksi 0.01, 0.1, 1, 10, and 100 渭g/ml dan control hanya mengandung media komplit tanpa obat antimalaria, kemudian diinkubasi selama 48 m . Setelah 48 jam dibuat hapusan darah tipis difiksasi dengan methanol dan diwarnai Giemsa 20 % selama 20 menit untuk menghitung nilai IC50. Hasilnya menunhukkan nilai IC50 fraksi ethyl acetate, fraksi n.hexane, fraksi butanol, dan fraksi water berturut turut 1.189, 76.996, 1,769, dan 15.058 渭g/ml, sedangkan nilai IC50 fraksi C1 (campuran fraksi chloroform:methanol 100:0 and 90:10) dan fraksi C4 (campuran fraksi chloroform: methanol 20:80, 10:90, and 0:100) yaitu 100.126 and 1.015 渭g/ml. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai IC50 dari fraksi ethyl acetate, fraksi butanol, dan fraksi C4 mempunyai nilai lebih rendah dari 10渭g/ml yang menunjukkan aktifitas antimalaria yang bagus (aktifitas antimalaria kuat), dapat disimpulkan bahwa fraksi ethyl acetate, fraksi butanol dan fraksi C4 dari buah Syzygium cumini berpotensi dikembangkan sebagai agen antimalaria.
Penulis:Lilik Maslachah
Judul artikel : In vitro antimalarial activity of Syzygium cumini fruit fraction
Nama Jurnal : Open Veterinary Journal
Link Jurnal : https://www.openveterinaryjournal.com/
Link Artikel :
DOI: 10.5455/OVJ.2023.v13.i9.7





