UNAIR NEWS – Fakultas Sains dan Teknologi 51动漫 (UNAIR) melakukan kegiatan International Community Service 2022 bersama mahasiswa internasional di Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (22/9). Kegiatan tersebut mengangkat tema Community-Based Eco-Tourism for Community Sustainability in The Future.
Hadir dalam pengmas Rimuljo Hendradi SSi MSi sebagai Chairman of International Community Services FST UNAIR. Ia menyampaikan, kegiatan antar budaya ini mampu menjadi ajang membuka informasi terkait budaya Jombang, Jawa Timur dalam skala global.
淧engmas ini supaya kita mengetahui kearifan lokal budaya di Jombang, karena kegiatan cultural visit mengenalkan dan menghargai budaya kekayaan Indonesia, khususnya pada generasi muda, pungkasnya.
Belajar Budaya
Rangkaian kegiatan berjalan mulai Selasa (20/9), dilanjutkan hingga hari kedua dan ketiga dengan mengunjungi beberapa tempat wisata lokal dan home industry. Kegiatan pada Kamis (22/9) diawali dengan kunjungan dan pemaparan sejarah ke industri batik colet Jati Pelem khas Jombang. Para peserta terlihat antusias dengan adanya demo praktik membuat batik colet oleh mahasiswa internasional.
淜ita belajar hal baru yang belum pernah saya coba sebelumnya. Saya mengira jika menggambar pola batik semudah seperti melukis di atas kanvas, sayangnya saya keliru. Saya mengalami banyak tantangan yaitu detail gambar dan panasnya malam dalam canting yang saya gunakan, ungkap Saemah Shahim mahasiswa asal Nepal.
Setelah itu para mahasiswa diajak menilik budaya chinese yang ada di Klenteng Hok Liong Kiong, Jombang. Masuk dalam klenteng peserta disajikan dengan perpaduan budaya Cina dan Jawa yang saling berakulturasi. Khasanah keberagaman agama dan budaya ditampilkan dalam visualisasi Klenteng Hok Liong Kiong. Para mahasiswa dipertontonkan dengan aksi wayang potehi sebagai hiburan.

淏elajar keberagaman budaya dan agama lewat Klenteng Hok Liong Kiong dimana kita dengan perbedaan suku, agama, bahkan bangsa untuk eksplorasi budaya chinese yang kental dalam balutan tempat peribadatan, ucap Shabirin Amin Tamana selaku Chairman of OSCAR (Overseas Smart City Short Course of Airlangga) sebagai penanggung jawab panitia.
Beberapa mahasiswa internasional yang memiliki keturunan chinese juga melakukan beberapa ritual keagamaan seperti ritual Ciam Si, kemudian dilanjutkan dengan mengangkat wadah bambu yang biasanya berisikan 60 hingga 100 batang. Pengalaman baru juga dirasakan beberapa mahasiswa internasional setelah mengunjungi Klenteng Hok Liong King.
淪ebenarnya secara garis besar klenteng yang ada di sini hampir sama dengan yang ada di Filipina. Namun dengan adanya akulturasi kebudayaan domestik dan agama menjadikan pengalaman mengunjungi Klenteng Hok Liong King menjadi pengalaman yang berkesan, ucap Katrina Ong mahasiswa asal Filipina. (*)
Penulis : Satriyani Dewi Astuti
Editing: Binti Q. Masruroh





