UNAIR NEWS – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa 51动漫 (UNAIR). Kali ini mahasiswa Program studi Ilmu Sejarah berhasil membawa pulang dua penghargaan dalam ajang Pekan Kesejarahan Universitas Diponegoro. Pengumuman lomba itu berlangsung pada Selasa (11/11/2025) secara daring.
Abdulah Muhammad Irsyad S berhasil membawa dua penghargaan dari bidang lomba yang berbeda, yakni juara 1 bidang esai dan juara 2 bidang infografis. Keduanya menang dengan gagasan maritim yang ia suguhkan.
淭ema lombanya terkait dengan maritim karena Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro memang berfokus pada sejarah maritim. Aku mengusung perihal Wiyata Mandala untuk konflik Laut Natuna dan Panglima Laot dan alhamdulillah menang semua, jelasnya.
Gagas Sistem Politik Majapahit
Irsyad menjelaskan bahwa permasalahan terkait kepemilikan Laut Natuna bisa selesai dengan sistem politik di era Majapahit. Biasa kita kenal dengan Wiyata Mandala.
淲iyata Mandala ini lebih ke soft diplomasi. Jadi kita bisa melakukan penguatan kedaulatan negara menggunakan pendekatan yang tidak berupa senjata, tapi berupa budaya, logat, bahasa, dan lainnya, ungkapnya.
Menurutnya, Wiyata Mandala menjadi sebuah solusi yang tepat untuk digunakan sebagai penyelesaian dari konflik di Laut Natuna yang masih terjadi hingga saat ini. Irsyad juga memberikan beberapa kasus sebagai bukti konkret dalam gagasan esainya.
淒alam hubungan internasional itu ada zona ekonomi eksklusif, lalu ada yang namanya grey conflict zone. Laut Natuna menjadi sebuah wilayah yang diperebutkan kepemilikannya. Nah, sistem Wiyata Mandala menjadi sebuah solusi. Pada esai tersebut, aku sedikit menyinggung tentang kasus di Laut Natuna seperti aktivitas ilegal Tiongkok untuk memperkuat gagasan yang aku buat, imbuhnya.
Gaungkan Pengetahuan Lokal dalam Dunia Akademik
Tak hanya esai, Irsyad juga menerima penghargaan di bidang infografis. Ia menyoroti permasalahan penangkapan ikan tidak berkelanjutan yang dapat berdampak buruk pada ekosistem maritim di Indonesia.
淎ku mengusung tentang Panglima Laot, sederhananya kayak sistem mancing. Suatu sistem yang mengharuskan nelayan melaut di hari-hari tertentu. Nah, tujuannya biar ekosistem ikan ini terjaga dan ikannya bisa berkembang biak dengan baik. Panglima Laot ini jadi hakim untuk menghukum orang-orang yang tidak menaati aturan itu, terangnya.
Irsyad juga menekankan penggunaan pengetahuan lokal bisa dimaksimalkan menjadi sebuah ide yang dapat dikembangkan. Menurutnya, hal ini penting untuk dilakukan guna menyeimbangkan budaya lokal dengan pesatnya kemajuan teknologi.
淛adi pengetahuan lokal dalam dunia akademik bukan berarti harus ditinggalkan, budaya atau pengetahuan lokal ini dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tidak melulu perlu teknologi yang wah untuk menyelesaikan suatu masalah di masyarakat, tegasnya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Khefti Al Mawalia





