51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Gambaran Depresi, Kecemasan, dan Stres Akibat Pandemi COVID-19 di Beberapa Negara

Ilustrasi oleh baladena.id

COVID-19 adalah penyakit menular di antara manusia yang disebabkan oleh Coronavirus. Virus ini awalnya muncul di Kota Wuhan, China, pada akhir Desember tahun 2019. Setelah Februari 2020, sebanyak 81.109 kasus telah terkonfirmasi positif secara global, sehingga COVID-19 ditetapkan sebagai epidemic. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan hal ini adalah masalah kesehatan yang serius. Seiring meluasnya penyebaran virus ini secara global, WHO memutuskan pandemi COVID-19 dunia sejak pertengahan Maret 2020. Menanggapi krisis kesehatan ini, karantina dan lockdown diterapkan oleh WHO dan pemerintah setempat untuk mencegah penyebaran virus. Tindakan lebih lanjut seperti tinggal di rumah, menggunakan masker, menjaga jarak, sekolah dan bekerja dari rumah, juga diterapkan di berbagai Negara. Dahulu karantina menjadi tindakan efektif yang digunakan di seluruh dunia ketika wabah penyakit menular berlangsung. Namun ternyata saat ini karantina telah menjadi pengalaman yang kurang menyenangkan bagi masyarakat. Pembatasan gerak, perpisahan dengan keluarga atau teman, ketakutan akan masa depan yang tidak pasti, kebebasan terbatas, merupakan beberapa factor yang dapat memberikan dampak negative bagi psikologis masyarakat umum. Berbagai masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, dan stress menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Sebuah studi menunjukkan bahwa beberapa stresor termasuk durasi karantina yang lebih lama, takut terinfeksi, perasaan bosan, merasa kesepian, merasa stress, terkurung, informasi palsu, dan kehilangan uang, berdampak pada memburuknya mental kesehatan. Situasi tak terduga terkait wabah COVID-19 ini jelas menunjukkan bahwa masyarakat tidak mempersiapkan diri dengan baik mentalitas dan seberapa lemah dan tidak berdayanya setiap orang.

Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi prevalensi depresi, kecemasan, dan stress di masing-masing negara di dunia. Faktor tersebut antara lain adalah jenis kelamin, usia, pekerjaan, riwayat kesehatan fisik dan mental, serta gaya hidup sebelum pandemic COVID-19 berlangsung. Secara gender, perempuan cenderung mengalami gejala gangguan jiwa seperti depresi, kecemasan, dan stress dibandingkan dengan laki-laki. Studi menunjukkan bahwa perempuan memiliki respon neurobiologis, konsep diri, serta strategi koping yang berbeda saat terpapar stressor sehingga memiliki tingkat tekanan psikologis yang lebih tinggi. Hal ini juga terjadi karena perempuan memiliki respon yang lebih besar terhadap masalah yang dihadapinya jika dibandingkan dengan laki-laki.

Usia muda juga merupakan factor yang dapat memengaruhi depresi, kecemasan, dan stress di masa pandemic COVID-19. Sebuah studi menyebutkan adanya hubungan terbalik antara usia dengan tingkat depresi, kecemasan, dan stress. Alasan yang mungkin adalah individu yang lebih muda cenderung memperhatikan dampak negative dari pandemic COVID-19 terhadap ekonomi dan lapangan pekerjaan di masa mendatang. Selain itu siaran berita tentang COVID-19 yang sebagian besar mengecewakan juga turut memengaruhi kesehatan mental individu muda karena mereka memiliki akses informasi yang lebih besar melalui media social.

Pelajar dilaporkan memiliki dampak psikologis yang lebih besar dibandingkan orang-orang yang tidak bekerja. Faktor yang berkontribusi meliputi kehidupan sehari-hari yang rutin, keterlambatan akademik, dan kemungkinan berkurangnya dukungan social. Hal ini juga dipengaruhi oleh ketidakpastian metode pembelajaran yang digunakan untuk melanjutkan proses pendidikan yang lebih tinggi. Penutupan sekolah dan kampus juga berpotensi negative terhadap kemajuan akademik sehingga memengaruhi kesehatan mental peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran sekolah dan kampus telah diubah menjadi metode online. Hal ini bisa menjadi alternative yang mendukung peserta didik untuk menimba ilmu dari guru dan dosen selama pandemi COVID-19.

Menurut penelitian lain, bekerja juga bisa menjadi tindakan pencegahan gangguan mental selama pandemic COVID-19. Sebaliknya, orang-orang yang bekerja dari rumah cenderung mengalami depresi dibandingkan dengan yang bekerja dari kantor. Hal ini kemungkinan berhubungan dengan kurangnya koneksi sosial dan pengaruh dari berita tentang pandemic COVID-19.

Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan selama pandemic COVID-19. Mereka menghadapi jam kerja yang lebih panjang, kelelahan, risiko infeksi, kurangnya alat pelindung diri, kesepian, dan risiko isolasi dari keluarga. Mereka berisiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental. Begitu juga dengan seseorang yang memiliki anggota keluarga yang bekerja sebagai tenaga kesehatan. Mereka cenderung mengalami depresi yang lebih tinggi.

Masyarakat yang memiliki riwayat penyakit sebelumnya mengalami efek psikologis yang lebih besar daripada masyarakat yang sehat. Mereka memiliki dampak keadaan psikologis yang lebih buruk dikarenakan fakta bahwa Coronavirus telah terbukti lebih agresif pada orang dengan imunitas rendah maupun penyakit penyerta.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya kesadaran dan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat untuk menghadapi permasalahan dalam masa pandemic COVID-19. Ahli medis harus mampu mengidentifikasi factor risiko berdasarkan data sosiodemografi, pemerintah dan otoritas kesehatan harus menyebarluaskan informasi yang benar tentang COVID-19, serta masyarakat umum harus lebih sadar tentang protocol kesehatan terkait COVID-19 sesuai anjuran pemerintah. Tindakan preventif tersebut dapat berdampak positif pada respon psikologis karena mereka dapat memberikan kepercayaan diri kepada diri sendiri dan orang-orang di sekitar selama pandemi COVID-19.

Penulis: Nadia Mardiana Hudan, Khisma Ekiyanti, Rozana Alfi Sania, Maftuchah Rochmanti. 

Detail tulisan lengkap dapat dilihat:

Nadia Mardiana Hudan, Khisma Ekiyanti, Rozana Alfi Sania, Alpha Fardah Athiyyah, Dewi Ratna Sari, Maftuchah Rochmanti, 2022. Depression, anxiety, and stress among general population due to covid-19 pandemic in several countries: A review article. World Journal of Advanced Research and Reviews, Volume 13, No. 1, Pp. 391“397.

Article DOI: 10.30574/wjarr.2022.13.1.0037

DOI url:

AKSES CEPAT