UNAIR NEWS Mahasiswa 51动漫 melalui kelompok KKN-BBK 7 meluncurkan program BIMASAKTI (Bimbingan Masyarakat Budidaya Maggot Terintegrasi) di Balai Desa Raci Tengah pada Rabu tanggal 14, Januari 2026. Mengingat posisi Desa Raci Tengah yang menjadi pusat tempat pembuangan sampah (TPS) bagi beberapa desa sekitar, program ini hadir sebagai solusi strategis untuk menekan volume limbah organik yang terus menumpuk di wilayah tersebut. Program ini merupakan langkah nyata Kampus Berdampak dalam menjawab krisis lingkungan di tingkat desa. Dengan memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF), limbah organik yang semula hanya menjadi polusi bau dan sumber penyakit, kini dialihkan menjadi pakan ternak bernilai ekonomis.
Guna memperkuat edukasi, mahasiswa menggandeng narasumber AM Aljauhari, ahli dari Garda Pangan, komunitas yang berfokus pada penyelamatan makanan dan pengelolaan limbah. Dalam penyuluhan tersebut, warga diajarkan bahwa sampah organik bukanlah sekadar kotoran, melainkan aset yang bisa dikonversi menjadi pakan ternak tinggi protein. Upaya ini selaras dengan poin SDGs yang disasar, yaitu SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDG 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam teknis kegiatannya, warga dibekali keterampilan memilah sampah rumah tangga, membangun kandang lalat dewasa, hingga teknik panen maggot. Selain menghasilkan pakan alternatif, warga diajarkan mengolah sisa media pembesaran menjadi pupuk organik cair maupun padat (kasgot). Hal ini menciptakan sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan sirkular, di mana sampah dikelola habis di sumbernya sebelum mencapai titik penumpukan akhir di desa.

Praktik budidaya maggot oleh ahli dari Garda Pangan di Balai Desa, Raci Tengah, Sidayu, Gresik, pada Rabu (14/01/2026) (Foto: Cindy Gracia)
Penanggung jawab kegiatan, Muhammad Yusuf Al Hakim Barus, menegaskan bahwa status desa sebagai pusat pembuangan sampah harus diubah menjadi peluang ekonomi. 淰olume sampah yang besar di Raci Tengah adalah tantangan lingkungan yang nyata. Melalui budidaya maggot, kami ingin membuktikan bahwa sampah bukan lagi sekadar kotoran, melainkan aset yang jika dikelola dengan benar dapat menurunkan biaya pakan ternak dan menyediakan pupuk mandiri bagi lahan pertanian warga, Dengan membawa pulang bibit maggot, kami berharap warga langsung memulai siklus produksi di lingkup rumah tangga, jelasnya.
Melalui BIMASAKTI, diharapkan masyarakat Desa Raci Tengah mampu mengelola unit budidaya maggot secara konsisten. Langkah ini diharapkan mampu mengubah citra desa dari sekadar lokasi penampungan sampah menjadi pelopor desa mandiri limbah yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi kesejahteraan warga setempat.
Penulis : Kelompok BBK 7 Desa Raci Tengah





