51动漫

51动漫 Official Website

Gangguan Musculoskeletal yang Berkaitan dengan Pekerjaan di Kalangan Profesional Teknologi Informasi

ilustrasi musculoskeletal (foto: MMI)

Work-related musculoskeletal disorders (WMSD) atau gangguan muskuloskeletal yang berkaitan dengan pekerjaan menjadi perhatian yang semakin meningkat di kalangan profesional Teknologi Informasi (TI), terutama akibat penggunaan komputer yang intensif, yang dapat menyebabkan rasa sakit, penurunan mobilitas, dan produktivitas yang lebih rendah. Di Indonesia, penelitian mengenai WMSD dan faktor risikonya masih terbatas, sehingga penting untuk melakukan studi untuk menangani isu kesehatan kerja. Memahami faktor-faktor ini sangat penting untuk pengembangan kebijakan tempat kerja dan perbaikan lingkungan kerja. Studi ini menginvestigasi masalah muskuloskeletal yang terkait dengan penggunaan komputer yang berkepanjangan dan faktor psikososial, dengan tujuan untuk memberikan strategi pengurangan prevalensi WMSD di kalangan pekerja TI.

Studi ini dilakukan dari Desember 2022 hingga Februari 2023, melibatkan 150 profesional TI di Jawa Timur, Indonesia. Penelitian ini menilai prevalensi WMSD melalui kuesioner seperti Cornell Musculoskeletal Discomfort Questionnaires (CMDQ) dan Job Content Questionnaire (JCQ). Partisipan dipilih berdasarkan penggunaan komputer mereka, dengan analisis terhadap faktor-faktor kunci seperti postur, jam kerja, olahraga, dan elemen psikososial. Persetujuan etis dan persetujuan informasi telah diperoleh untuk menjaga kerahasiaan. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor risiko dan memberikan wawasan untuk perbaikan kesehatan kerja di kalangan profesional TI.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyeri leher adalah masalah yang paling umum, dengan tingkat rasa sakit rata-rata 7 dari 10, terutama disebabkan oleh posisi leher yang statis selama waktu layar yang berkepanjangan. Nyeri punggung bawah dan bahu juga sering terjadi, terkait dengan postur duduk yang buruk dan duduk terlalu lama. Faktor lain, seperti tinggi monitor dan penggunaan komputer yang berkepanjangan, ditemukan meningkatkan risiko ketidaknyamanan. Pekerja shift malam yang menunjukkan kepadatan tulang lebih rendah juga diidentifikasi berisiko terhadap WMSD. Studi ini menemukan bahwa periode kerja yang lebih lama terkait dengan risiko WMSD di tangan dan pergelangan tangan yang lebih rendah, menunjukkan adaptasi terhadap beban psikologis di tempat kerja. Faktor psikologis, seperti stres kerja, sangat terkait dengan risiko WMSD. Penelitian ini menekankan bahwa WMSD memiliki penyebab multifaktorial, termasuk stres fisik, tuntutan pekerjaan, dan waktu pemulihan yang tidak memadai, semuanya berkontribusi pada perkembangan gangguan ini.

Partisipan penelitian berusia relatif muda dengan pengalaman kerja yang singkat, yang mungkin mempengaruhi temuan terkait risiko WMSD. Meskipun pengalaman kerja yang lebih lama tampaknya mengurangi risiko cedera pergelangan tangan, distribusi usia dan pengalaman yang lebih luas dapat menjelaskan hubungan ini lebih jelas. Penelitian ini fokus pada faktor terkait tempat kerja, menemukan bahwa ketidaknyamanan leher adalah masalah yang paling umum, diikuti oleh nyeri punggung bawah dan bahu. Elemen ergonomis seperti durasi penggunaan layar dan lebar kursi terkait dengan WMSD seluruh tubuh, sementara faktor seperti shift malam dan periode kerja mempengaruhi masalah tangan dan pergelangan tangan. Penelitian di masa depan sebaiknya mencakup faktor psikososial untuk pemahaman yang lebih komprehensif.

Reference
Prasetya, T. A. E., Samad, N. I. A., Rahmania, A., Arifah, D. A., Rahma, R. A. A., & Mamun, A. Al. (2024). Workstation Risk Factors for Work-related Musculoskeletal Disorders Among IT Professionals in Indonesia. Journal of Preventive Medicine and Public Health.

AKSES CEPAT