Beberapa gangguan kesehatan yang dialami pekerja akibat posisi kerja yang tidak ergonomis adalah keluhan pada persendian dan otot rangka yang biasa disebut dengan gangguan muskuloskeletal. Gangguan khusus ini dapat muncul jika tubuh pekerja menerima beban secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, karena dapat membahayakan kesehatan ligamen dan sendi tubuh.
Menurut data Global Burden of Disease (GBD), terdapat sekitar 1,71 miliar orang di dunia yang menderita gangguan muskuloskeletal. Prevalensi gangguan muskuloskeletal berdasarkan usia dan tingkat keparahan diagnosis sangat bervariasi. Gangguan muskuloskeletal secara statistik merupakan penyumbang terbesar status disabilitas (YLDs) di seluruh dunia, yaitu sebesar 149 juta (17% dari akumulasi YLDs di seluruh dunia).
Gangguan muskuloskeletal dapat terwujud karena beberapa faktor yang berhubungan dengan individu seperti usia, jenis kelamin, kebugaran, antropometri, dan faktor pekerjaan seperti pengulangan gerakan saat bekerja, posisi kerja yang tidak ergonomis, serta faktor lingkungan fisik seperti getaran dan suhu. yang berujung pada keluhan gangguan muskuloskeletal.
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di PT. Lentera Alam Nusantara menunjukkan adanya gangguan keluhan muskuloskeletal dan faktor yang berhubungan.
PT. Lentera Alam Nusantara bergerak dalam bidang produk mentah dan olahan sarang burung walet. Pekerja pada bagian pembersihan dan pencucian sarang burung walet memiliki risiko yang cukup besar untuk mengalami gangguan muskuloskeletal akibat postur kerja yang tidak wajar serta adanya beban yang terus menerus pada lengan dan jari pada saat mencabut bulu burung walet.
Posisi kerja bagian pembersihan sarang burung walet dinilai menggunakan metode RULA dengan melihat risiko dari sudut pandang ergonomis pada ekstremitas atas dan mentransformasikan posisi kerja menjadi sudut dan skor. Skor yang diperoleh dijadikan bahan pertimbangan saran untuk mencegah gangguan muskuloskeletal. sebagian besar pekerja mempunyai posisi kerja risiko sedang (26 pekerja, 72,2%).
mayoritas pekerja di PT. Lentera Alam Nusantara Surabaya merasakan keluhan dengan tingkat keparahan sedang (17 pekerja, 47,2%) dan tingkat keparahan rendah (4 pekerja, 11,1%). Terdapat 14 (58,3%) pekerja berusia 每 35 tahun yang mengalami keluhan muskuloskeletal dengan derajat nyeri tinggi. Sedangkan dari 12 pekerja yang berusia.
Hasil analisis faktor pekerjaan seperti jam kerja dalam sehari dan posisi kerja ergonomis dengan keluhan gangguan muskuloskeletal menggunakan tabulasi silang dan uji statistik Spearman. Hasil uji statistik menggunakan spearman dengan nilai signifikansi 0,05 menunjukkan p-value sebesar 0,015 yang artinya ada hubungan antara jam kerja dalam sehari dengan keluhan pekerja.
Kesimpulan dari kajian tersebut adalah Mayoritas pekerja bagian pembersihan sarang burung walet di PT. Lentera Alam Nusantara Surabaya dalam menjalankan aktivitas kerjanya telah berdasarkan lembar observasi RULA, posisi kerja, mempunyai risiko sedang dan merasakan keluhan gangguan muskuloskeletal dengan tingkat keparahan sedang. Seiring bertambahnya usia, maka akan dibarengi dengan peningkatan risiko terjadinya keluhan muskuloskeletal. Wanita lebih rentan mengalami keluhan muskuloskeletal. Pekerja dengan gizi kelebihan berat badan.
Status gizi mempunyai keluhan muskuloskeletal yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan status gizi normal. Pekerja yang jarang berolahraga mengalami keluhan muskuloskeletal lebih tinggi dibandingkan pekerja yang sering berolahraga. Pekerja yang memiliki jam kerja >8 jam sehari cenderung merasakan keluhan muskuloskeletal yang tinggi jika dibandingkan dengan pekerja yang bekerja 8 jam. Semakin tinggi nilai ergonomi posisi kerja menunjukkan bahwa pekerja tersebut berisiko untuk mengalami keluhan gangguan muskuloskeletal dengan tingkat keparahan yang tinggi.
Penulis: Dani Nasirul Haqi, S.KM., M.KKK.
Link:





