COVID-19 bukan hanya tentang demam, batuk, sesak atau kehilangan indera penciuman. Bagi banyak penyintas, efek virus ini bertahan lama setelah tes menunjukkan hasil negatif. Salah satu dampak yang paling sering dikeluhkan adalah gangguan tidur, yang memiliki pengaruh signifikan pada kualitas hidup (Quality of Life/QoL).
Mengapa Gangguan Tidur Menjadi Masalah?
Gangguan tidur termasuk dalam enam keluhan paling umum pada kondisi pasca-COVID-19. Tidur memiliki peran vital dalam menjaga fungsi fisik, mental, dan emosional. Gangguan tidur tidak hanya merusak rutinitas sehari-hari, tetapi juga berdampak pada kemampuan tubuh untuk pulih sepenuhnya dari infeksi. Untuk menemukan pendekatan manajemen terbaik dan meningkatkan QoL, tim peneliti melakukan studi nasional untuk menjelajahi berbagai jenis gangguan tidur yang terjadi pada penyintas COVID-19.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Penelitian ini adalah studi potong lintang (cross-sectional) yang melibatkan 757 responden dari berbagai kota di Indonesia. Para peneliti menggunakan metode wawancara dan kuesioner dengan instrumen berikut:
¢ Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI): Mengukur kualitas tidur.
¢ Insomnia Severity Index (ISI): Menilai tingkat keparahan insomnia.
¢ Epworth Sleepiness Scale (ESS): Menilai kantuk berlebihan di siang hari (Excessive Daytime Sleepiness/EDS).
¢ STOP-BANG: Mengukur risiko obstructive sleep apnea (OSA).
¢ Short Form 36 (SF-36): Menilai kualitas hidup di delapan dimensi utama.
Hasil Penelitian: Apa yang Ditemukan?
Sebagian besar responden adalah perempuan dengan usia rata-rata 39 tahun, tanpa komorbiditas, dan dengan gejala COVID-19 ringan. Beberapa temuan penting meliputi:
¢ 69,2% responden melaporkan kualitas tidur yang buruk.
¢ 55,9% mengalami insomnia, dengan sebagian kecil di antaranya menderita insomnia parah.
¢ Mayoritas responden menunjukkan kantuk yang normal di siang hari dan memiliki risiko rendah untuk OSA.
Penelitian ini juga menemukan bahwa gangguan tidur memiliki dampak signifikan pada berbagai aspek QoL:
¢ Kualitas tidur yang buruk menyebabkan keterbatasan fisik dan kesehatan mental.
¢ Insomnia berdampak pada emosi dan fungsi sosial.
¢ OSA hanya memengaruhi fungsi fisik.
Kesimpulan: Apa yang Harus Dilakukan?
Gangguan tidur dalam kondisi pasca-COVID-19 memengaruhi berbagai aspek QoL pasien. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan jalur perawatan yang terkoordinasi. Ini mencakup:
- Pendekatan medis: Mengidentifikasi penyebab spesifik gangguan tidur.
- Intervensi berbasis bukti: Seperti terapi kognitif-perilaku untuk insomnia.
- Peningkatan gaya hidup: Membiasakan pola tidur yang sehat dan mengurangi stres.
Harapan di Masa Depan
Penelitian ini menjadi langkah awal penting untuk meningkatkan penanganan gangguan tidur pada penyintas COVID-19. Dengan pendekatan yang tepat, kita dapat membantu mereka mendapatkan kembali kualitas tidur dan hidup yang lebih baik.
Referensi:
Budikayanti, A., Hakim, M., Mutiani, F., Handayani, S., Lailiyya, N., Khosama, H., Jehosua, S.Y., Puspitasari, V., Gunawan, P.Y., Hambarsari, Y., Islamiyah, W.R., Gofir, A., Vidyanti, A.N., Devicaesaria, A., Ibonita, R., Suryawati, H. & Tedjasukmana, R., 2024. The impact of post-COVID-19 conditions on sleep and quality of life in Indonesia: A nationwide cross-sectional study. Nature and Science of Sleep, 16, pp.907-916. Available at: https://doi.org/10.2147/NSS.S456979
Wardah Rahmatul Islamiyah





