51动漫

51动漫 Official Website

Gelar Konferensi Internasional,Magister Kajian dan Sastra Budaya Ulas Cultural Studies Research

Peserta International Conference Cultural Studies Research pada Kamis, (6/6/2024). (Sumber: Lady Khairunnisa)
Peserta International Conference Cultural Studies Research pada Kamis, (6/6/2024). (Sumber: Lady Khairunnisa)

UNAIR NEWS – Konferensi Internasional Cultural Studies Research merupakan forum intelektual internasional yang diselenggarakan oleh Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB) 51动漫 Konferensi ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai universitas, baik nasional maupun internasional, mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam bidang kajian budaya.

Selain itu, konferensi ini menghadirkan  keynote speaker ternama dari berbagai benua untuk saling bertukar sudut pandang.  Dr. Freek Colombijn dari Vrije Universiteit Amsterdam, Jaeshil Kim MA Ph D dari  Liberty University USA, serta Antonio Guerra Arias Ph D dari Universidad Aut贸noma de Chihuahua.

Meski diselenggarakan secara daring pada Kamis, (6/6/2024), hal tersebut tidak menurunkan antusias para peserta dalam mendiskusikan isu-isu terbaru terkait kajian budaya. Kegiatan ini diikuti lebih dari 200 orang participant dari seluruh universitas yang ada di Indonesia. 

淜ami (Hima Magister Kajian Sastra dan Budaya, Red) ingin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan penelitian eksistensi budaya. Sehingga, mendukung pengembangan riset kebudayaan dengan fokus pada penguatan akar budaya melalui keahlian lintas disiplin tingkat internasional, ujar Lady Khairunnisa Adiyani selaku Ketua HIMA MKSB UNAIR. 

Wayang Kulit lebih dari sekedar seni pertunjukan hiburan. Wayang kulit merefleksikan nilai-nilai luhur masyarakat, seperti gotong royong, kesantunan, dan penghormatan terhadap leluhur. 

Oleh karena itu, para peneliti dan budayawan kerap menjadikan wayang kulit sebagai objek kajian. Tidak hanya menelusuri sejarah dan perkembangan wayang kulit, tetapi juga menggali nilai-nilai filosofis, religius, dan sosial yang terkandung di dalamnya.

Hal inilah yang sedang dilakukan oleh Dr Antonio Guerra Arias, salah satu pembicara dalam konferensi internasional MSKB. Antonia tertarik untuk mengkaji perbedaan antara wayang bayangan dari Tiny Mexico dengan wayang kulit Indonesia. 

Kedua tradisi seni pertunjukan ini memiliki banyak kesamaan dalam hal teknik pementasan, cerita, dan makna yang terkandung di dalamnya. Perbedaan keduanya terletak pada bahan pembuatan wayang. Wayang bayangan Tiny Mexico biasanya terbuat dari kertas tipis yang dipotong dan dihias, sedangkan wayang kulit Indonesia terbuat dari kulit hewan yang diukir.

Lebih lanjut, Antonio menyampaikan, kajian wayang kulit ini bertujuan untuk mempelajari teknik-teknik pertunjukan wayang kulit serta membuat analisis etno dramatis. Pasalnya, setiap gerakan wayang, pengucapan dialog, hingga pemilihan lakon (cerita) mengandung pesan tersirat.

淪elain itu, saya juga tertarik transfer knowledge antara teknik tubuh dari wayang kulit dengan wayang bayangan Tiny Mexico. Hal ini bisa menjadi angin segar bagi kajian budaya, ungkap Antonio.

Peserta International Conference Cultural Studies Research pada Kamis, (6/6/2024). (Sumber: Lady Khairunnisa)
Peserta International Conference Cultural Studies Research pada Kamis, (6/6/2024). (Sumber: Lady Khairunnisa)

Pemateri lintas benua lainnya. Dr Jaeshil Kim menyebut, keberagaman di Indonesia menjadi kekayaan budaya yang tak ternilai dan salah satu daya tarik utama. Keberagaman ini terwujud dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bahasa, tradisi, hingga seni. Jaeshil membuat metafora 淪ayur Lodeh untuk mendeskripsikan keberagaman di Indonesia. 

Di balik kesederhanaannya, sayur lodeh menyimpan filosofi mendalam tentang nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia. Sayur lodeh terkenal dengan keragaman bahan bakunya. Mulai dari kacang panjang, terong, tempe, hingga santan dan bumbu rempah, semua berpadu menciptakan rasa yang gurih dan lezat. Keragaman bahan ini mencerminkan keberagaman budaya dan tradisi di Indonesia

Seperti halnya bahan-bahan yang menyatu dalam sayur lodeh, masyarakat Indonesia pun diharapkan dapat hidup berdampingan secara  harmonis dan  saling menghormati satu sama lain.

Penulis: Diana Febrian Dika

Editor: Feri Fenoria

AKSES CEPAT