Timor-Leste termasuk negara dengan endemisitas hepatitis B yang tinggi, dengan prevalensi HBsAg positif sebesar 6,9%−12,4% (Silva, 2017) dan angka sirosis hati-kanker hati berkisar 2,7% (NSD Timor-Leste, 2010). Pemerintah Timor-Leste, dengan dukungan WHO (World Health Organization) melakukan vaksinasi hepatitis B masal sejak 2008 (WHO, 2011), namun masih belum dilakukan evaluasi. Penelitian ini merupakan penelitian pertama di Timor-Leste yang mengidentifikasi genotipe-subtipe serta mutasi terkait vaccine escape mutant, keparahan penyakit dan resistensi antivirus. Diharapkan hasilnya memberikan informasi kepada Pemerintah Timor-Leste dalam merencanakan penanganan dan prevensi infeksi virus hepatitis B (VHB).
Pada penelitian ini, dilakukan identifikasi genotipe dan subtipe serta mutasi pada gen surface (S), polymerase (P), basal core promoter (BCP), precore (PC), dan core (C) dari isolat VHB dari pendonor darah di Timor-Leste. Serum yang dikoleksi, diperiksa menggunakan uji serologis (untuk deteksi HBsAg dan anti-HBc) serta PCR-sekuensing. Sekuen VHB yang diperoleh dianalisis genotipe/subtipe dan mutasinya menggunakan program Bioedit berdasarkan strain referensi dari GenBank.
Hasil penelitian menunjukkan, dari 127 serum yang diuji, 38 (30%) dengan HBsAg positif. Dari 38 sampel tersebut, diperoleh 38 sekuens gen S dan P, 22 sekuens BCP dan PC, dan 23 sekuens gen C. Hasil analisis data sekuen menunjukkan genotipe/subtipe VHB yang dominan adalah C/adrq+, diikuti oleh B/ayw1, B/adw2, dan C/adw2. Beberapa mutasi pada protein S yang terkait dengan vaccine escape mutant diidentifikasi pada isolat VHB genotipe C (I110L, S113T, T126I, T143S, Y161F) dan genotipe B (K122R), beberapa di antaranya mungkin berasal dari individu yang divaksinasi. Tidak ada healthy carrier yang mendapat pengobatan anti-HBV, tetapi ada satu orang yang terinfeksi VHB dengan mutasi pada gen P yang berkaitan dengan resistensi obat anti-HBV (Y141F). Mutasi A1762T dan G1764A pada BCP terdeteksi pada 18,1-22,7% sampel. Pada regio PC, mutasi C1858T paling sering ditemukan, diikuti oleh G1896A dan G1899A. Pada gen C, diidentifikasi sebanyak 13 mutasi (P5T, T67N, E77Q, P79Q/A, E83D, V91T, I97L/F, L116I, dan P130I/P/T) yang terkait dengan penyakit hati yang parah. VHB yang diisolasi dari empat healthy carrier yang kemudian diketahui meninggal karena karsinoma hepatoseluler (kanker hati) juga menunjukkan mutasi tersebut.
Kesimpulan dan Saran: Sebagian besar sekuen VHB yang diperoleh dari pendonor darah di Timor-Leste termasuk genotipe/subtipe C/adrq+. Jumlah mutasi pada gen S dan C lebih tinggi daripada pada gen lainnya. Healthy carrier yang berisiko tinggi mengalami penyakit progresif harus dimonitor dan diobati dengan obat antivirus jika diperlukan. Mengingat tingginya angka HBsAg pada pendonor darah dalam penelitian ini, program imunisasi nasional secara rutin juga harus dipertimbangkan.
Penulis : Juniastuti
Informasi detil dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel jurnal scopus, berjudul : Genotypes, Subtypes, and Genetic Variability of Hepatitis B Virus from Blood Donors in Timor‘Leste.





