51动漫

51动漫 Official Website

Hadirkan Ahli dari Taiwan, RSUA Bedah Revolusi Perawatan Kanker Melalui AI

Ahli dari Taiwan, Robe Yang PhD, memberikan wawasan mengenai pemanfaatan teknologi medis terkini dalam acara yang berlangsung di Hall Dharmawangsa Lantai 8 RSUA, Selasa (5/5/2026) (Foto: Istimewa)
Ahli dari Taiwan, Robe Yang PhD, memberikan wawasan mengenai pemanfaatan teknologi medis terkini dalam acara yang berlangsung di Hall Dharmawangsa Lantai 8 RSUA, Selasa (5/5/2026) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS sukses menyelenggarakan konferensi yang menghadirkan pakar internasional ternama. Konferensi ini bertajuk 淧ersonalized Approaches to Cancer and Metabolic Disorders: Integrating Science and Cutting-Edge Tech to Revolutionize Prevention, Diagnosis, and Treatment. Forum ini berlangsung pada Selasa (5/5/2026) di Hall Dharmawangsa lantai 8 Rumah Sakit 51动漫. Para pakar global hadir untuk membahas pergeseran paradigma medis menuju pelayanan yang lebih personal dan berbasis teknologi guna meningkatkan kualitas hidup pasien.

Transformasi Bedah: Menjaga Integritas Tubuh Pasien

Ahli bedah RSUA, Arga Patrianagara MD, menjelaskan bahwa penanganan kanker payudara saat ini telah meninggalkan teknik radikal masa lalu. Teknik silam tersebut berfokus pada pengangkatan jaringan sebanyak mungkin. Saat ini, fokus utama adalah bedah restoratif yang bertujuan melindungi organ secara maksimal sehingga pasien tetap merasa utuh secara fisik pasca-operasi. Arga menekankan pergeseran ini dengan menyatakan, “Sekarang fokusnya berubah dari penyakit tulang (kanker) menjadi penyakit tulang yang lebih restoratif dan bahkan di posisi molekul”.

Selain aspek teknis, Arga menyoroti bahwa inovasi sesungguhnya bukan hanya soal perangkat yang mahal, melainkan bagaimana hasil pembedahan dapat mengembalikan fungsi tubuh pasien. Beliau menjelaskan bahwa tim medis saat ini melakukan teknik nipple sparing dan pembedahan plastik untuk melindungi molekul tubuh. “Tujuannya supaya setiap pasien masih merasakan bahwa dia merasa seperti sebelum terkena kanker. Pasien seperti masih sehat seperti awal,” ungkap Arga dalam pemaparannya.

Hambatan Sistemik dan Aksesibilitas Teknologi di Indonesia

Meskipun kemajuan medis terus berkembang, Arga memberikan catatan kritis mengenai tingginya angka kematian kanker di Indonesia. Seringkali angka kematian tersebut disebabkan oleh keterlambatan diagnosis. Beliau mengoreksi persepsi umum yang sering menyalahkan pasien atas keterlambatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa faktor geografis, ekonomi, dan sistem rujukan yang panjang menjadi kendala utama. Arga menegaskan secara langsung, “Ini bukan salah mereka. Bukan karena mereka datang terlambat, mungkin sistem kita yang terlambat untuk mendiagnosa penyakit mereka,” pungkasnya.

Arga mengungkapkan bahwa tantangan besar bagi praktisi medis di Indonesia adalah menyediakan teknologi maju namun terjangkau di tengah keterbatasan. Ia menyebutkan bahwa pusat spesialis masih terlalu terkonsentrasi di kota-kota besar, yang menciptakan beban transportasi dan ekonomi bagi pasien dari luar daerah. “Tantangan di sini adalah bagaimana kita bisa memiliki teknologi yang terjangkau dengan keterbatasan yang ada,” tutur Arga mengenai fokus inovasinya saat ini.

Ahli dari Taiwan: Mengoptimalkan Alur Kerja Klinis Masa Depan

Melengkapi sisi teknologi, Robe Yang PhD dari Quanta Computer Inc, Taiwan, memaparkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) kini telah mengubah imajinasi ilmiah menjadi realitas klinis yang nyata. Melalui infrastruktur GPU yang kuat, AI masa kini mampu mendukung diagnosis cerdas dan interaksi dua arah yang mempermudah dokumentasi medis.

“Itulah mengapa saya berada di sini, kami menyediakan layanan dan banyak solusi untuk membantu alur kerja medis di Indonesia. Khususnya Rumah Sakit 51动漫, jelas Robe.

Pakar asal Taiwan ini juga menjelaskan bahwa kolaborasi yang berlangsung dengan berbagai rumah sakit di Taiwan bertujuan untuk menemukan teknologi AI yang lebih aman dan efisien bagi pasien. Beliau menekankan bahwa model bahasa besar seperti GPT bukan sekadar tren. Menurutnya, GPT ialah alat yang mampu merevolusi cara tenaga medis berinteraksi dengan data dan pasien di tahun 2026 ini. “Kita harus memiliki peralatan yang mudah digunakan dengan sumber daya manusia yang berkualitas,” pungkas Robe Yang mengenai pentingnya menjaga nilai kemanusiaan dalam teknologi.

Penulis: Fauziah Laili Romadhon

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT