UNAIR NEWS – Di era kecerdasan buatan, perguruan tinggi menghadapi tantangan baru, mulai dari plagiarisme berbasis AI, bias algoritmik, hingga kebutuhan akan regulasi yang adaptif. Menanggapi isu tersebut, menghadirkan seminar bertajuk AI dan Algorithmic: Antara Inovasi, Bias, dan Krisis Integritas Akademik yang terlaksana pada Selasa (5/5/2026) di Ruang Parlinah, Perpustakaan Kampus Dharmawangsa-B UNAIR.
Hadir sebagai pembicara, Shiefty Dyah Alyusi SIIP MSIP selaku pustakawan pertama UNAIR, Dr Wisnu Wibowo selaku ketua Pusat Inovasi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran (PIPTP) UNAIR, hingga Ratna Azis Prasetyo SSosio MSosio selaku dosen sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR. Ketiganya hadir untuk memberikan pemahaman, mengkritisi, dan merespons transformasi AI secara akademik dan strategis. Turut hadir dalam acara ini, Wakil Rektor bidang Ekosistem Entrepreneurial dan Pengembangan Bisnis Prof Dr Koko Srimulyo Drs MSi.
AI Sekadar Alat Bantu Pekerjaan
Dalam sambutannya, Ketua Perpustakaan UNAIR, Prof Dr Rahma Sugihartati Dra MSi menekankan bahwa seminar tersebut merupakan wadah diskusi, refleksi, sekaligus peringatan terkait masalah krusial di era digital yang berkaitan dengan AI. Ia menyebut bahwa saat ini manusia tidak berada di masa depan, melainkan di realitas saat ini. 淎I adalah inovasi yang menurut saya masuk dalam sistem pembelajaran yang adaptif dan juga teknologi yang bermanfaat bagi mahasiswa, dosen, maupun akademisi, ungkapnya.
Ia menilai ada sebuah dilema besar yang perlu mendapat atensi akibat dari kemudahan dan kecepatan AI. Menurutnya, AI hadir melalui data manusia yang memiliki kemungkinan terjadinya bias algoritma apabila tidak kritis. 淜ita berisiko melanggengkan yang dinamakan nilai-nilai kontraproduktif serta yang paling krusial, yakni krisis integritas akademik teknologi. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menjadikan AI untuk mengganti pemikiran kritis, tetapi sebaliknya, AI sebatas menjadi alat bantu pekerjaan, jelasnya.
Adaptif dan Responsif Terhadap AI
Sebagai keynote speaker, Guru Besar Bidang Manajemen Perpustakaan UNAIR, Prof Dr Koko Srimulyo Drs MSi menjelaskan bahwa kemajuan teknologi tidak mungkin bisa ditolak, mulai ketika algoritma bekerja. Ia menekankan bahwa belajar, adaptif, dan memanfaatkan AI dengan baik akan menentukan perubahan di lingkungan masyarakat. 淒ari kemampuan adaptif dan responsif kita terhadap penemuan yang akan memenangkan meskipun algoritma adalah sesuatu yang paradox. Di satu sisi, AI akan mempercepat penemuan-penemuan dalam bidang keilmuan, tetapi juga mengancam eksistensi integritas dan kejujuran kita, imbuhnya.
Lebih lanjut, ia berpesan bahwa perpustakaan harus bisa menjadi navigator tentang etika berkaitan dengan integritas karya dan pengarang. Navigasi yang berlangsung tidak hanya sekadar menyediakan akses informasi, tetapi literasi informasi kepada para pemakainya. Maka, pemakainya dapat memanfaatkan sumber informasi di perpustakaan yang terjaga aspek integritas akademisnya. 淒alam era informasi ini ada tiga tipe orang. Pertama, mereka yang tersisih di informasi dan tidak memiliki akses informasi. Kedua, mereka yang bisa mengakses informasi dan ketiga adalah mereka yang bisa mengaksesnya serta memanfaatkan informasi untuk kepentingannya, pesannya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Ragil Kukuh Imanto





