Sampai saat ini stroke masih menjadi penyebab kematian kedua di dunia. Pada tahun 2019 terhitung 11,6 % kematian di dunia disebabkan oleh stroke. Ada beberapa jenis stroke yaitu stroke perdarahan (intracranial hemorrhageatau ICH), sub arachnoid hemorraghe(SAH), stroke iskemik dan stroke emboli. Diantara jenis jenis stroke tersebut, stroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling banyak ditemui.
Dan diantara pasien stroke yang dapat bertahan hidup sebagian besar mengalami kecacatan dengan berbagai derajat yang berbeda. Di Indonesia, pada tahun 2023 menurut data survei Kesehatan ditemukan bahwa prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Stroke juga dinyatakan sebagai salah satu penyakit katastropik dengan beban biaya tertinggi ketiga setelah penyakit jantung dan kanker, yaitu mencapai Rp5,2 triliun.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses perbaikan klinis pada pasien stroke iskemik. Faktor faktor ini menjadi sangat penting, terutama bagi pasien itu sendiri, bagi keluarga dan tentunya bagi pemerintah khususnya dalam hal beban biaya negara untuk penyakit ini. Faktor yang menentukan perbaikan klinis ini diantaranya adalah kecepatan pasien untuk mendapatkan penanganan di fase akut. Terdapat golden periode bagi pasien stroke iskemik terutama untuk mendapatkan terapi recombinant tissue plasminogen activator (rTPA) yang masih menjadi terapi utama untuk stroke iskemik, yaitu 3-4,5 jam dari onset.
Terapi rTPA ini akan memperbaiki aliran darah ke area otak yang mengalami iskemik, sehingga akan terjadi peningkatan aliran darah kembali pada area iskemik dan diharapkan akan memberikan perbaikan klinis pada pasien. Namun menggunakan rTPA ini sangat rendah , diperkirakan hanya 5% pasien stroke iskemik yang mendapatkan terapi rTPA, hal ini terjadi karena kriteria inklusi dan eksklusi yang cukup ketat untuk menggunakan rTPA, selain juga faktor pengetahuan pasien yang masih belum adekuat mengenai stroke, sehingga golden periode ini sering kali terlewatkan. Dengan rendahnya penggunaan terapi rTPA ini maka perlu adanya strategi lain yang harus dikembangkan untuk meningkatkan perbaikan klinis pada pasien stroke iskemik.
Salah satu diantaranya adalah mengaktivasi proses neurogenesis, yaitu proses pembentukan neuron baru di otak. Dengan aktivasi proses neurogenesis pada area otak yang mengalami iskemik akan terbentuk neuron neuron baru yang fungsional yang akan menggantikan fungsi neuron yang telah rusak. Beberapa faktor akan mempengaruhi proses neurogenesis, salah satunya adalah neuroinflamasi atau reaksi radang di otak. Neuroinflamasi akan mengganggu proses neurogenesis serta akan menginduksi proses pembentukan sel glia yang berperan dalam pembentukan glial scar / jaringan parut di otak.
Glial scar sendiri merupakan faktor yang menghambat proses regenerasi akson dan neuron. Sehingga perlu adanya terapi yang dapat menginduksi proses neurogenesis dan menghambat pembentukan glial scar. Dengan strategi yang berfokus pada dua hal tersebut diharapkan akan terjadi penurunan angka kecacatan dan bahkan angka kematian pasien akibat stroke iskemik.
Penulis: Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, drh.
Informasi detail artikel: https://inabj.org/index.php/ibj/article/view/3439





