UNAIR NEWS – Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur (MUI Jatim) melaksanakan kegiatan diskusi bertajuk Ranah Publik. Kegiatan itu disiarkan melalui jaringan radio di beberapa stasiun radio di Jawa Timur pada Jumat (21/10/2022).
Dalam diskusi tersebut, hadir Prof Dr Muhammad Madyan SE MSi MFin sebagai narasumber didampingi oleh H Suparto Wijoyo sebagai pensyarah. Prof Madyan merupakan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya 51动漫 (Warek SD UNAIR) sekaligus merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis 51动漫 (FEB UNAIR). Sementara itu, H Suparto Wijoyo merupakan Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana UNAIR.
Diskusi tersebut mengangkat tajuk Santri Membangun Negeri dalam Pesan Ekologis. Membuka diskusi, Prof Madyan memaparkan data jumlah pesantren dan santri yang ada di Indonesia. Data itu Ia peroleh dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).
淒ata yang saya dapat dari Kemenag RI bahwa jumlah pesantren di Indonesia mencapai 26.975 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 2,65 juta santri, jelas Prof Madyan.
Menurutnya, jumlah tersebut dapat memberi kontribusi luas biasa bagi pembangunan ekologi di Indonesia. Apabila seluruh pesantren dan santri-santri di Indonesia melakukan pelestarian lingkungan, Ia yakin, dampaknya akan sangat memberi dampak.
淢elestarikan lingkungan merupakan bagian dari perintah agama, ada lebih dari dua ratus ayat di Al-Quran yang memerintahkan pelestarian lingkungan. Contohnya, Al-A檙af ayat 56 yang memerintah manusia untuk tidak merusak bumi ciptaan Allah. Lalu, Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di bumi merupakan akibat dari perbuatan manusia dan manusia pulalah yang akan menerima ganjaran-Nya, papar Prof Madyan.
Melanjutkan pemaparannya, Prof Madyan menyampaikan contoh perbuatan manusia yang berakibat buruk pada lingkungan. Ia mengaitkan contoh tersebut dengan ayat Al-Quran yang disebutkan sebelumnya, yaitu Ar-Rum ayat 41.
淩asanya, manusia tamak sekali, contohnya ada pada peristiwa banjir yang terjadi di Banjarmasin pada 2021 silam. Banjir tersebut terjadi karena ada kerusakan ekologis yang terjadi di Kalimantan Selatan. Padahal, tidak pernah terjadi banjir di daerah itu selama seratus tahun sebelumnya, saya mengerti karena rumah kakek saya ada di sana. Namun, semenjak Kalimantan Selatan menjadi pusat batu bara, banjir terjadi karena bekas kerukan yang ditinggal tanpa ditutup kembali, papar Prof Madyan.
Menutup diskusi, Prof Madyan turut menjelaskan bagaimana cita-cita pelestarian dapat terwujud di Indonesia. Menurutnya, pesantren dapat menjadi tempat membentuk santri-santri sebagai agen perubahan di masa mendatang. Ia menekankan bahwa mendidik santri agar mengerti soal ekologi adalah sangat penting agar kelak, mereka dapat menciptakan solusi bagi lingkungan seketika lulus dari pesantren.
淜omitmen Pemerintah untuk menciptakan emisi karbon nol perlu kolaborasi dari masyarakat. Bilamana masyarakat tidak turut serta dalam kolaborasi, komitmen itu hanya akan menjadi slogan belaka tanpa tindakan. Pesantren dapat menjadi salah satu bagian masyarakat yang melibatkan diri. Hal itu dimulai dari hal kecil saja, contohnya dengan membuat tong sampah terpilah di pesantren untuk memudahkan pencegahan pencemaran lingkungan, tegas Prof Madyan.
Penulis: Fredrick Binsar Gamaliel M
Editor: Nuri Hermawan





