Stroke iskemik adalah subtipe utama dari stroke dan terjadi pada sekitar 70% dari semua kasus stroke (85-87% di Amerika Serikat), dengan sisanya disebabkan oleh perdarahan intraserebral atau subarachnoid. Stroke iskemik terjadi ketika kehilangan aliran darah secara tiba-tiba karena trombosis atau emboli menyumbat pembuluh darah otak yang mengakibatkan hilangnya fungsi neurologis. Terlepas dari efeknya yang melemahkan pada seseorang, stroke juga menimbulkan beban keuangan yang serius pada sumber daya kesehatan di seluruh dunia. Meskipun mayoritas pasien stroke dapat bertahan pada tahun pertama setelah kejadian, namun lebih dari 10% mengalami kecacatan jangka panjang.
Karena kecacatan ini, intervensi standar (termasuk trombolisis intravena dan pengambilan klot/bekuan endovaskular secara mekanik) telah terbukti meningkatkan hasil, termasuk kelangsungan hidup dan kecacatan. Bagaimanapun, efeknya tergantung waktu, dan sekaligus menjadi bentuk penanganan segera bagi pasien stroke iskemik untuk mencegah hasil yang lebih buruk. Hanya sekitar 10% pasien stroke yang dapat menerima penanganan segera untuk terapi revaskularisasi, bahkan di pusat-pusat penanganan khusus stroke.
Aktivator plasminogen jaringan rekombinan intravena, saat ini merupakan satu-satunya zat yang disetujui untuk intervensi stroke iskemik, memiliki rentang waktu efektivitas yang sempit hanya 4,5 jam, dan dilaporkan hanya 5% pasien yang dapat menerima terapi ini. Mengingat tantangan ini, studi lebih lanjut, pengembangan metode terapi baru dengan rentang waktu yang lebih luas dan lama, serta metode yang less invasive sangat penting untuk meningkatkan outcome dari pasien stroke iskemik.
Baru-baru ini, laporan pemberian sel punca telah muncul dan menunjukkan bahwa itu adalah pendekatan terapi yang ideal untuk meningkatkan fungsi neurologis pada pasien stroke iskemik. Terapi sel punca telah ditunjukkan untuk mempromosikan neuroprotektif endogen dan proses perbaikan otak, termasuk imunomodulasi, neuronal, vaskular, dan remodeling glial.
Penelitian pada hewan telah membuktikan bahwa berbagai jenis sel punca mampu meningkatkan fungsi neurologis yang terjadi setelah stroke serebral. Selain itu, berbagai uji klinis juga menunjukkan hasil yang menjanjikan, menunjukkan bahwa terapi sel punca layak dilakukan, aman, dan dapat mendorong pemulihan pada pasien dengan stroke iskemik. Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan hasil yang bervariasi, dengan beberapa melaporkan tidak adanya peningkatan yang signifikan secara statistik dalam beberapa parameter yang berbeda. Selain itu, beberapa tantangan muncul dalam proses mewujudkan terapi sel punca, yaitu keamanan serta tantangan non-ilmiah lainnya termasuk perlunya persetujuan regulasi yang kompleks, biaya produksi yang tinggi, pengawetan, dan proses transfer sel itu sendiri.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis dilakukan oleh Permana dkk., (2022) dari 51动漫 – RSUD Dr. Soetomo Surabaya, penelitian yang telah diterbitkan dalam Surgical Neurology International (Scientific Scholar) ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil klinis pasien stroke iskemik setelah terapi sel punca. Selain itu, tinjauan sistematis ini juga dilakukan untuk mendapatkan informasi dasar dan data tentang efektivitas terapi sel punca untuk kasus stroke iskemik. Hal ini juga diperlukan untuk membantu dokter serta para pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan untuk menentukan apakah terapi sel punca untuk pasien stroke iskemik perlu dipromosikan. Selain itu, penelitian ini juga penting guna menentukan manfaat dan tantangan terkait penggunaan terapi sel punca bagi pasien stroke iskemik.
Para penulis melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis sesuai dengan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Sebuah pencarian literatur menyeluruh dilakukan pada database PubMed, Scopus, dan Cochrane. Artikel dipilih secara sistematis berdasarkan protokol PRISMA dan ditinjau secara lengkap. Sebanyak 19 publikasi yang berkaitan dengan terapi sel punca pada rute iskemik dimasukkan dan kemudian ditinjau. Hasil efikasi diukur dengan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS), Modified Rankin Scale (mRS), atau Barthel Index (BI).
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa hasil efikasi menunjukkan hasil yang menguntungkan setelah terapi sel punca, meskipun tidak semua hasil studi signifikan secara statistik. Terapi sel punca pada kasus stroke menunjukkan hasil yang lebih baik daripada terapi konservatif standar saja, meskipun analisis para peneliti menunjukkan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil ini, dan efek yang signifikan hanya dapat dilihat setelah beberapa bulan.
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa terapi sel punca untuk pasien stroke iskemik menunjukkan kemanjuran yang menjanjikan dan hasil yang memuaskan, serta memiliki tingkat efek samping serius yang relatif rendah.
Penulis: Dr. Asra Al Fauzi
Jurnal: ‘Clinical outcome and safety of stem cell therapy for ischemic stroke: A systematic review and meta-analysis’ yang telah terpublikasi di Surgical Neurology International,





