Stimulasi deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang (SDIDTK) menjadi upaya penyelesaian terbaik saat ini dalam mengatasi permasalahan tumbuh kembang pada anak. Pembinaan tumbuh kembang oleh pemerintah dilakukan melalui posyandu. Namun, kegiatan posyandu yang berjalan saat ini masih belum menyeluruh dan menyentuh pada pertumbuhan dan perkembangan anak secara komprehensif. Sehingga dapat dipastikan bahwa stimulasi deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang (SDIDTK) belum dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap permasalahan tumbuh kembang anak, diperlukan kegiatan pelatihan dan pemberdayaan kader posyandu dalam stimulasi deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang (SDIDTK) melalui meja ke empat posyandu. Peran kader dalam stimulasi deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang (SDIDTK), diharapkan penyimpangan tumbuh kembang akan terdeteksi secara dini dan dapat dilakukan koreksi sesegera mungkin.
Kami berargumen bahwa dengan pelatihan dan pemberdayaan kader posyandu dalam SDIDTK dapat meningkatkan partisipasi dan pengoptimalan meja ke empat posyandu. Kami menilai kader memiliki peran yang sangat vital, dikarenakan kader merupakan kelompok masyarakat terpilih yang paling dekat dengan masyarakat. Kader yang terlatih dianggap mampu menjalankan perannya dengan baik dalam SDIDTK sehingga stimulasi deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang (SDIDTK) dinilai lebih efektif.
Pengaktifan meja ke empat posyandu dalam stimulasi deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang (SDIDTK) membuat orangtua, pengasuh anak, anggota keluarga lain, dan masyarakat lebih meningkatkan kepedulian bahwa pentingnya upaya deteksi dini dan intervensi terhadap permasalahan tumbuh kembang anak. Munculnya kepedulian terhadap masalah tumbuh kembang anak juga dapat berdampak terhadap kemampuan kognitif, sosial, mental dan perilaku anak lebih optimal selain dalam pertumbuhan fisik dengan melakukan stimulus yang ada berdasarkan usia.
Pelatihan SDIDTK dilakukan dengan 3 tahap (pendidikan kesehatan, pendampingan dan evaluasi) dimana dalam seluruh rangkaian kegiatan para kader menunjukkan sikap antusias dalam menyimak, membaca dan melakukan simulasi serta mempraktikkan saat posyandu. Antusiasme kader membuat proses penyampaian materi dan pelatihan berjalaan dengan lancar dan berlangsung dengan menarik. Tahap pertama dalam pelatihan ini adalah pendidikan kesehatan dalam memberikan pemahaman terkait konsep tumbuh kembang dan dilanjutkan dengan pelatihan stimulasi, deteksi dini, dan intervensi terhadap permasalahan tumbuh kembang anak. Pelatihan ini menggunakan teknik demonstrasi dan simulasi dalam kelompok kecil dan diberikan buku saku tentang SDIDTK kepada kader sebagai panduan. Tahap kedua yaitu pendampingan yang dilakukan selama kader melakukan SDIDTK di Posyandu pada meja ke empat. Tahap ketiga yang merupakan tahap terakhir yaitu tahap evaluasi. Evaluasi terdiri dari evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses dilakukan melalaui proses diskusi antar kader bersama tim pengabdian masyarakat selama proses pendidikan, pelatihan, dan pendampingan. Berbeda dengan evaluasi proses, evaluasi hasil dilakukan pada akhir kegiatan melalui pengisian kuisioner oleh kader (post-test). Hasil kuisioner (post-test) selama proses evaluasi akan dianalisis bersama dengan hasil kuisioner sebelum kader menerima pendidikan dan pelatihan SDIDTK (pre-test). Hasil evaluasi (post-test) dianalisis bersama dengan hasil pre-test menunjukkan perbedaan mean tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dan pelatihan SDIDTK, dan didapatkan perbedaan yang bermakna antara tingkat pengetahuan, sikap dan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan dan pelatihan SDIDTK. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan para kader tentang SDIDTK.
Melalui pemberdayaan masyarakat yang dilakukan terhadap kader posyandu membuat kader mampu melakukan stimulasi, deteksi, dan intervensi dini tumbuh kembang pada anak usia 0-6 tahun. Sehingga stimulasi deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang (SDIDTK) dapat berjalan secara efektif dan memberi dampak positif terhadap tumbuh kembang anak dan diharapkan menjadi kegiatan yang berkelanjutan setiap posyandu pada meja ke empat agar penyimpangan dapat terdeteksi secara dini.
Penulis: Amellia Mardhika, S.Kep.,Ns.,M.Kes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Mardhika, A., Susanto, J., Qurniyawati, E., & Tyas, A. P. M. (2022). Empowerment of healthcare cadres on Stimulation of Early Detection and Intervention of Growth and Development. Abdimas Unwahas, 7(2). https://doi.org/https://doi.org/10.26905/abdimas.v7i2.6909





