Kesehatan sesorang secaara keseluruhan dapat tercermin dari kondisi kesehatan rongga mulut. Seseorang dengan kondisi kesehatan mulut yang buruk dapat memperparah suatu penyakit lain dalam tubuh. Kondisi Kesehatan muut yang buruk juga menyebabkan jaringan penyangga gigi seperti gusi dan tulang, menjadi rusak dan jika dibiarkan dan tidak segera dirawat akan menyebabkan kegoyangan yang kemundian menyebabkan lepasnya gigi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riksedas) tahun 2013 penyakit gusi terjadi sebesar 96,5% dari populasi penduduk Indonesia. Penyakit gusi (gingivitis) diawali dengan adanya keradangan gusi yang ika dibiarkan kemudian akan berlanjut menjadi radang tulang penyangga gigi (periodontitis). Gambaran utama periodontitis, dalam perkembangannya periodontitis yang berat dapat menyebabkan kehilangan gigi. Kehilangan gigi akan mempengaruhi fungsi kunyah dari seseorang dan juga memperngaruhi penampilan, sehingga mengganggu kualitas hidup seseorang (Tonetti et al.,2018).
Salah satu cara untuk mengatasi kehilangan gigi adalah dengan melakukan proses implantasi gigi. Implan gigi merupakan akar gigi tiruan yang dipasang pada tulang rahang untuk menahan gigi atau jembatan yang berfungsi untuk mengembalikan fungsi kunyah, estetis dan fungsi bicara. Bahan implan yang paling sering digunakan adalah titanium karena biokompatibel, kekuatan mekanik dan plastisitasnya untuk desain prostetik. Penelitian menunjukan bahan polimetilmetaakrilat (PMMA) yang dikombinasi dengan hidroksiapatit (HA) dapat digunakan untuk alternative bahan titanium dengan kekuatan mekanik dan bioaktivitas yang baik.
Hidroksiapatit dapat ditemukan dalam sediaan yang telah melalui Good Manufacturing Practice yang dikenal dengan HAGMP, selain itu HA juga dapat dibuat dari sumber daya alam (SDA), salah satunya adalah batu kapur. Indonesia memiliki banyak SDA tersebut, dengan jumlah sekitar 27,8 Milyar ton. Kementrian Republik Indonesia, melalui balai besar keramik (BBK) telah berhasil memproduksi ceramic HA yang terbuat dari bahan kalsium karbonat (CaCO3) yang terdapat pada batu kapur dan dikenal dengan hydroxyapatite
Berdasarkan riset in-vivo yang dilakukan pada sel osteoblast / sel tulang rahang tikus ditemukan bahwa gabungan bahan polimetilmetaakrilat (PMMA) yang dikombinasi dengan hidroksiapatit yang telah melalui good manufacturing practice (HAGMP) dan produksi Balai Besar Keramik (HABBK) yang berasal dari batu kapur Indonesia menunjukan peningkatan eksrepesi VEGF dan BMP-2 (Protein yang berperan dalam pembentukan tulang dan darah). Peningkatan terjadi lebih signifikan pada PMMA-HAGMP disebabkan oleh perbedaan calcium phosphate (Ca/P) weight ratio pada sediaan HA. Tingginya kandungan kalsium (Ca) dapat meningkatkan proliferasi osteoblas, ditandai dengan meningkatnya ekspresi calcium channel. Pada prosesnya, calcium sensing receptor (CaSR) dapat mendeteksi peningkatan konsentrasi Ca2+ ekstraseluler dan meningkatkan Ca2+ intraseluler (Dvorak et al., 2004). Konsentrasi kalsium dalam proses proliferasi memegang peranan penting, dari hasil penelitian sebelulmnya didapatkan bahwa rasio Ca/P HABBK dari hasil energy dispersive x- ray (EDX) sebesar 1,64 sedangkan rasio Ca/P dari HAGMP 42 (bovine bone) adalah sebesar 1,91 hal ini dapat menjelaskan bahwa peningkatan eskspresi BMP-2 dan VEGF yang lebih signifikan pada PMMA-HAGMP dibandingan dengan PMMA-HABBK. (Manalu, 2015, Pradanti, 2020). Bahan polimetilmetaakrilat (PMMA) yang dikombinasi dengan hidroksiapatit PMMAHA memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi alternatif bahan implan. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat potensi bahan PMMAHABBK dan PMMA-HAGMP sebagai alternatif bahan implant.
Penulis: Prof. Dr. Chiquita Prahasanti S, drg., Sp.Perio.
Jurnal: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36818023/





