51动漫

51动漫 Official Website

Seks Sakral atau Prostitusi Murni? Kesehatan Perempuan Selama Pandemi COVID-19 di Makam Roro Kembang Sore

Foto by Merdeka

Praktek mencari pesugihan melalui ritual seks bebas merupakan salah satu faktor yang meningkatkan prevalensi HIV dan AIDS, khususnya di wilayah Tulungagung Jawa Timur, Indonesia. Seringkali dengan kedok tradisi, praktik ini dipertahankan tanpa pengawasan yang tepat dari lembaga pemerintahan. Untuk mengkaji permasalahan tersebut, penelitian ini berfokus pada pemetaan asal usul dan persebaran mitos seks bebas dalam ritual pesugihan, khususnya di pemakaman Nyi Roro Kembang Sore, Tulungagung.

Ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia pada tahun 2020, seperti negara-negara lain di dunia, Indonesia tidak hanya menderita dari kehancuran ekonomi tetapi juga masalah kesehatan. Karena virus COVID-19 telah menjadi perhatian utama, penyakit lain seperti HIV dan AIDS dan lainnya tidak dianggap sebagai keadaan darurat yang membutuhkan tanggapan cepat. HIV dan AIDS di masa pandemi COVID-19 di Indonesia tertinggal dan tidak diprioritaskan meskipun jumlah orang yang terinfeksi HIV dan AIDS di Indonesia terus meningkat. Situasi ini sangat disayangkan terutama mengingat HIV dan AIDS sangat lazim namun diabaikan karena pandemi.

Meski belum setenar tempat wisata lain seperti Gunung Kemukus dan Gunung Kawi, serta tempat pemakaman lainnya sebagai tempat keramat untuk mencari peruntungan dan pesugihan, Makam Nyi Roro Kembang Sore juga banyak dikunjungi pencari berkah, terutama di akhir pekan. Berdasarkan informasi yang diberikan juru kunci, pencari berkah tidak hanya berasal dari daerah Tulungangung dan Jawa Timur, tetapi juga dari luar Jawa. Motif para pencari berkah juga sangat beragam. Dalam sebuah wawancara dengan juru kunci makam, dia percaya bahwa Nyi Roro Kembang Sore hanya akan membantu para pencari untuk mencapai tujuan yang positif. Tujuan negatif seperti merugikan orang lain atau merusak bisnis orang lain tidak akan dikabulkan

Makam Roro Kembang Sore di Tulungagung, Jawa Timur merupakah salah satu tempat pesugihan yang dipadati peziarah terutama pada hari Sabtu di malam hari, di antaranya adalah pekerja seks. Hal ini sesuai dengan salah satu ritual yang harus dilakukan oleh para pencari pesugihan, yaitu secara tidak langsung meminta para pencari untuk berhubungan badan dengan orang lain selain pasangan sahnya. Ritual persetubuhan ini diyakini dapat memberikan pesugihan berupa kekayaan, harta benda, atau keuntungan tak berwujud bagi para pencari pesugihan. Praktik seks tidak aman ini sangat memprihatinkan karena dapat memperparah situasi HIV/AIDS, dan penyakit menular sexual lainnya di Kabupaten Tulungangung. Selain itu, pertukaran pasangan yang begitu banyak antara pencari pesugihan dan pekerja seks juga mengancam kesehatan seksual penduduk kabupaten ini. Sayangnya, ancaman kesehatan tersebut, dan kesehatan seksual masyarakat sekitar lokasi ini, belum menjadi perhatian aparatur dinas kesehatan Tulungagung maupun pemerintah daerah. Situasi ini, khususnya, lebih menantang karena terkait dengan ritual dan tradisi. Ritual semacam itu dikatakan tidak dapat diubah atau tidak mungkin diubah karena perubahan apa pun akan mengurangi kemanjurannya.

Mitos ritual pesugihan di makam Nyi Roro Kembang Sore ternyata memiliki narasi budaya yang berbeda-beda tergantung sistem kepercayaan setempat. Mitos ini bermula dari upaya mengingat sosok Roro Kembang Sore yang terkenal di luar Tulungagung. Alhasil, setiap daerah yang mengenal sosok perempuan ini pasti akan melahirkan mitos ritual pesugihannya masing-masing. Namun, ada satu hal yang sama dalam narasi budaya tersebut, yaitu kesucian sosok Roro Kembang Sore. Orang-orang mengunjungi makam Roro Kembang Sore karena berbagai alasan, seperti halnya mitos pada umumnya. Salah satu alasan yang selalu dibantah adalah ritual seks bebas dilakukan setelah kunjungan. Penolakan tersebut tampaknya berbahaya terutama bagi perempuan, karena penyakit menular seksual yang rentan dialami perempuan tidak diakui oleh pemerintah daerah atau masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan perempuan masih berada di pinggiran masyarakat. Perempuan berisiko terkena penyakit menular seksual tetapi kesehatan mereka tidak pernah dianggap sebagai masalah serius. Hal ini menegaskan absennya suara perempuan dalam dunia patriarki ini. Dalam penelitian ini perempuan di Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia masih terpinggirkan dalam hal kesehatan seksual. Kesehatan perempuan di masa pandemi COVID-19 terancam. Sejak pemerintah mendeklarasikan pandemi COVID-19 pada tahun 2020 ketika kasus pertama terdeteksi, segala sumber daya dan upaya dikerahkan untuk menangani pandemi ini. Sebaiknya pemerintah pusat dan daerah (provinsi, kota dan kabupaten) tidak mengabaikan pencegahan wabah HIV-AIDS dan penyakit seksual menular lainnya di masa pandemi COVID-19.

Penulis: Diah Ariani Arimbi (51动漫, Indonesia)

Jurnal:

AKSES CEPAT