51动漫

51动漫 Official Website

Hidroksokobalamin vs Methylene Blue: Harapan Baru untuk Sindrom Vasoplegik

Sumber: Persada Hospital
Sumber: Persada Hospital

Sindrom vasoplegik adalah kondisi serius yang sering terjadi setelah operasi jantung. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah rendah yang sulit dikendalikan meskipun telah diberikan cairan dan obat-obatan vasopresor. Kejadian sindrom vasoplegik bervariasi tergantung pada prosedur pembedahan, berkisar dari 2,8% pada operasi bypass arteri koroner (CABG) tanpa pompa, hingga 6,9% pada operasi CABG dengan pompa terisolasi, 8,8% pada operasi jantung umum, dan hingga 19% pada penerima transplantasi jantung. Sindrom ini dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk gagal organ dan kematian. Dalam beberapa tahun terakhir, dua obat, yaitu methylene blue (MB) dan hidroksokobalamin (B12), telah digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengatasi sindrom ini. Methylene blue bekerja dengan menghambat enzim nitric oxide (NO) synthase dan guanylate cyclase, yang berperan dalam pelebaran pembuluh darah. Dengan menghambat enzim ini, MB membantu meningkatkan tekanan darah. Sementara itu, hidroksokobalamin bertindak dengan cara berbeda, yaitu menetralkan NO secara langsung, yang juga membantu meningkatkan tekanan darah. Perbedaan mekanisme kerja ini memunculkan pertanyaan: manakah yang lebih efektif dalam menangani sindrom vasoplegik?

Untuk mengonfirmasi hal tersebut, kami melakukan penelitian sekunder dengan desain studi tinjauan sistematis. Kami mengumpulkan sebanyak lima studi yang membandingkan penggunaan hidroksokobalamin dan MB pada pasien dengan sindrom vasoplegik setelah operasi. Dalam tinjauan sistematis kami, penggunaan hidroksokobalamin untuk sindrom vasoplegik secara signifikan mengurangi kebutuhan vasopresor dan meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan MB, yang dibuktikan dengan adanya peningkatan mean arterial pressure (MAP). Hal ini bersifat menguntungkan untuk pasien, mengingat bahwa sindrom vasoplegik adalah kondisi yang ditandai dengan keadaan curah jantung yang tinggi dan resistensi vaskular sistemik yang rendah. Lebih jauh, kami menemukan hasil yang menarik bahwa penggunaan B12 dalam kombinasi dengan MB tidak menunjukkan dampak yang signifikan dibandingkan dengan MB saja. Sebuah studi retrospektif yang dilakukan pada 33 pasien yang menerima hidroksokobalamin untuk hipotensi refrakter selama atau setelah bypass kardiopulmoner menunjukkan bahwa 73% pasien memiliki efek pengurangan vasopresor, meskipun responsnya sangat heterogen di antara individu yang mungkin disebabkan oleh perbedaan cara pemberian obat. Pada studi yang menilai dampak infus hidroksokobalamin berkelanjutan (5 g selama 6 jam) setelah operasi pada 12 pasien dengan syok vasoplegik berat, didapatkan pengurangan vasopresor yang signifikan pada semua pasien, dengan efek yang bertahan lebih dari 10 jam. Vitamin B12 dapat meningkatkan MAP dengan menghambat enzim NO sintase dan inaktivasi NO langsung. Sebaliknya, mekanisme utama MB untuk meningkatkan MAP adalah melalui penghambatan guanylyl cyclase. Oleh karena itu, kami berspekulasi bahwa perbedaan tersebut disebabkan oleh cara B12 dan MB memengaruhi hemodinamik.

Selain itu, kami juga menemukan bahwa tingkat kematian pada kelompok B12 cenderung lebih rendah. Hal ini mungkin terkait dengan efek samping pemberian MB, yang menyebabkan sindrom serotonin, terutama pada pasien yang menggunakan obat-obatan serotonergik. Sindrom serotonin adalah kondisi yang mengancam jiwa yang terkait dengan peningkatan aktivitas serotonergik dalam sistem saraf pusat. Gejala ini dapat muncul sebagai onset yang cepat, hiperrefleksia, tremor, dan klonus okular yang dapat diinduksi atau spontan, yang lebih sering terjadi pada tungkai bawah. Efek samping lain yang tidak menguntungkan dari MB adalah dapat menyebabkan anemia hemolitik pada pasien dengan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase, yang sangat penting untuk metabolisme obat. MB dapat memperburuk oksigenasi arteri, mengganggu pertukaran gas di paru-paru, menyebabkan vasokonstriksi mesenterika, dan mengurangi aliran darah ginjal pada dosis yang melebihi 2 mg/kg. Efek samping lainnya termasuk gangguan pada pengukuran oksimetri, yang dapat mengakibatkan penurunan palsu dari saturasi oksigen yang tampak karena penghambatan pewarna biru terhadap transmisi cahaya. Sementara itu, efek samping utama hidroksokobalamin adalah perubahan warna urin menjadi merah atau oranye (chromaturia), yang tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Hasil tinjauan ini menunjukkan bahwa hidroksokobalamin lebih efektif dibandingkan MB dalam menurunkan kebutuhan vasopresor dan meningkatkan tekanan darah pada pasien dengan sindrom vasoplegik. Selain itu, hidroksokobalamin memiliki profil efek samping yang lebih ringan dibandingkan MB. Oleh karena itu, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan hidroksokobalamin sebagai pilihan utama untuk mengatasi sindrom vasoplegik, terutama pada pasien yang memiliki risiko tinggi terhadap efek samping MB. Namun, karena penelitian yang tersedia masih terbatas, diperlukan studi lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk memastikan temuan ini. Selain itu, penelitian di masa depan juga perlu mengeksplorasi kemungkinan kombinasi kedua obat ini untuk mendapatkan efek terapi yang lebih optimal.

Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: The effect of hydroxocobalamin and methylene blue for vasoplegic syndromes: A systematic review yang dimuat pada jurnal ilmiah Electronic Journal of General Medicine vol 22(1) tahun 2025.

Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si

Link:

AKSES CEPAT