51动漫

51动漫 Official Website

HIMA Antropologi Ajak Mahasiswa Kritisi Penggunaan AI dalam Akademik

Lintang Wahyusih Nirmala SAnt MA, dosen Prodi Antropologi FISIP UNAIR (Foto: Istimewa)
Lintang Wahyusih Nirmala SAnt MA, dosen Prodi Antropologi FISIP UNAIR (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Himpunan Mahasiswa Antropologi (Humant) (FISIP) 51动漫 (UNAIR) menggelar seminar Dilema Etis AI bertajuk Menimbang Otentitas Penulisan dan Integritas Akademik di Era Digital. Kegiatan tersebut bertempat di Ruang A.314, Gedung A FISIP, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR pada Sabtu (13/9/2025).

Seminar ini mengundang Akbar Assagung, mahasiswa program studi Antropologi UNAIR, sebagai pemantik, serta Lintang Wahyusih Nirmala SAnt MA, dosen program studi Antropologi UNAIR, sebagai narasumber utama. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan lebih bijak dalam menggunakan akal imitasi (AI), terutama dalam ranah akademik.

Mengawali diskusi, Akbar Assagung menyoroti bagaimana AI perlahan menjadi produk modernitas yang erat kaitannya dengan kapitalisme. Menurutnya, ada tiga hal yang menopang jalannya kapitalisme, yaitu kebaruan, kecepatan, dan orientasi pada pengguna.

淢odernitas itu lebih dari sekadar kemajuan segala hal. Modernitas adalah gejolak sosial yang ditopang kapitalisme. Contohnya, kalau dulu AI bersifat open source, sekarang bergeser menjadi komoditas ekonomi dan dituntut untuk mendapat profit, ujarnya.

Akbar Assagung, mahasiswa Prodi Antropologi FISIP UNAIR (Foto: Istimewa)
Akbar Assagung, mahasiswa Prodi Antropologi FISIP UNAIR (Foto: Istimewa)

Lebih lanjut, Akbar menjelaskan berbagai kemudahan yang AI tawarkan, mulai dari akses informasi cepat dan ringkas, simulasi data yang presisi, hingga efisiensi waktu dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal-hal tersebut membuat AI semakin diminati. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan jangka panjang juga menyimpan risiko.

淎I itu dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis, menimbulkan ketergantungan, bahkan menghadirkan berbagai persoalan etika. Jadi, apakah kita yang mengendalikan AI, atau sebenarnya justru AI yang mengendalikan kita? imbuhnya.

Senada dengan Akbar, Lintang Wahyusih Nirmala SAnt MA turut menyampaikan pandangannya. Ia menilai bahwa AI sejatinya sudah lama hadir, namun kini perannya semakin melekat dalam keseharian sehingga mustahil untuk dihindari.

淗ari ini bukan lagi soal siapa yang menggunakan AI, tapi siapa yang belum pernah mencobanya. Dulu sudah ada SimSimi atau Siri yang menggunakan teknologi AI, hanya saja sekarang perannya jauh lebih besar, jelasnya.

Dalam lingkup akademik, ia melihat bagaimana AI turut mengubah pola belajar mahasiswa. Jika sebelumnya mahasiswa terbiasa mencari dan mengolah informasi secara mandiri, kini banyak yang justru bergantung pada AI. 淜alau kita terus menyuruh AI berpikir, lalu kapan kita sendiri berpikir? Hakikat manusia sebagai makhluk berakal jangan sampai sebatas menyusun prompt, tuturnya.

Alih-alih berusaha menghindari, Lintang menekankan pentingnya fokus pada cara bijak dalam menggunakan AI. Ia juga mendorong mahasiswa untuk memperbanyak ruang diskusi tatap muka. Interaksi langsung, menurutnya, penting agar daya kritis tetap terjaga, terlebih di tengah derasnya arus informasi digital.

淜ita harus bergandengan dengan AI, bukan bergantung. Kalau bergandengan, saat AI hilang, kita masih bisa berjalan. Tapi kalau bergantung, saat AI hilang, kita bisa jatuh, pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT