Saat ini, tren peningkatan pengguna kendaraan listrik telah terjadi di Indonesia. Hal ini, karena kendaraan listrik diklaim lebih ramah lingkungan. Kendaraan listrik tidak memakai bensin sebagai bahan bakarnya, tetapi menggunakan baterai, sehingga tidak menimbulkan emisi karbon yang dapat mempengaruhi kondisi gas rumah kaca di bumi. Pada tahun 2019, diperkirakan ada sekitar 3,2 juta unit kendaraan listrik di pasar kendaraan listrik global dan akan terus meningkat pada tahun 2030 sekitar 26,9 juta unit.
Tingginya permintaan kendaraan listrik ini, secara otomatis akan membuat industri otomotif terus meningkatkan produksinya untuk memenuhi permintaan pasar. Industri yang paling berdampak dengan adanya peningkatan ini yaitu industri baterai kendaraan listrik. Saat ini, kendaraan listrik banyak menggunakan nikel sebagai bahan pada baterainya, sebab baterai lithium yag menggandung nikel akan mampu menahan daya lebih banyak dengan perjalanan yang ditempuh cukup jauh.
Potensi Nikel di Indonesia
Akhir-akhir ini, nikel menjadi perbincangan hangat di dunia, pasalnya kebijakan pemerintah Indonesia yaitu Presiden Joko Widodo yang menegaskan bahwa Indonesia akan berhenti mengekspor bahan mineral mentah, khususnya nikel. Kebijakan Jokowi ini adalah langkah awal untuk hirilisasi agar dapat memanfaatkan komoditas sendiri dengan cara mengolahnya menjadi bahan jadi maupun bahan setengah jadi. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Cadangan komoditas nikel di Indonesia setara dengan 23% Cadangan Dunia.
Total Sumber daya nikel ini mencapai 17,7 miliar ton biji dan 177,8 juta ton logam. Potensi sumber daya nikel di Indonesia yang begitu besar serta adanya hirilisasi memungkinkan Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber dayanya sendiri dan menggembangkan industrinya di dalam negeri, salah satunya pabrik baterai kendaraan listrik.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga telah memastikan bahwa Indonesia siap memproduksi baterai kendaraan listrik massal di bulan april ini. Porduksi baterai kendaraan listrik ini akan membuat Indonesia menjadi negara pertama produsen baterai di Asia Tenggara dan akan menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Pabrik sel baterai pertama ini bernama PT HLI Green Power di Karawang.
Tantangan Cadangan Nikel
Pada tahun 2022, Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia yang mencapai 21 juta metrik ton. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memperkirakan dan mewanti-wanti cadangan nikel yang akan habis dalam kurun waktu 10-15 tahun kedepan. Hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah smelter nikel di Indonesia.
Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi membeberkan bahwa total smelter pirometalurgi yang beroperasi di Indonesia mencapai 44 unit, sedangkan yang dalam tahap kontruksi ada 25 unit. Fokus juga tertuju pada biji nikel limonite untuk produksi baterai kendaraan listrik. Dada dari ESDM menyebutkan, pada tahun 2022 biji limonite di Indonesia mencapai 2,64 miliar ton.
Cadangan biji limonite ini diperkirakan masih cukup untuk 33 tahun kedepan. Meskipin begitu, proyeksi ketersediaan ini harus disesuaikan dengan perkembangan smelter HPAL yang mungkin mempengaruhi ketersediaan sumber daya nikel di masa depan. Hal lain yang tak kalah penting yaitu kegiatan penambangan yang berpotensi merusak lingkungan juga perlu segera diatasi. Penting untuk memastikan bahwa eksploitasi sumber daya alam dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan Masyarakat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa persediaan nikel yang menipis dan bahkan hanya akan bertahan beberapa tahun kedepan, hirilisasi nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik ini harus tetap berjalan, sebab Indonesia akan mendapatkan keuntungan yang signifikan dengan adanya hal tersebut, khususnya Indonesia akan di cap sebagai negara maju dan dapat membuka lapangan pekerjaan di sektor pengolahan nikel.
Penulis: Lilis Iswatun Khasanah





