Xerosis kutis adalah kondisi kulit kering, yang umumnya terjadi pada orang tua. Xerosis kutis disebabkan banyak faktor. Perubahan kulit pada lansia yang berasal dari dalam, termasuk peningkatan pH kulit, penurunan kelembaban kulit, penurunan aktivitas kelenjar minyak dan kelenjar keringat di kulit, dan peningkatan kehilangan air pada kulit (TEWL) dianggap berperan dalam terjadinya xerosis kutis. Xerosis kutis sering terjadi pada beberapa penyakit sistemik kronis, seperti diabetes melitus, gangguan ginjal, gangguan hati, dan penggunaan obat-obatan seperti statin atau diuretik. Xerosis kutis menyebabkan rasa gatal dan perih seringkali mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, terkadang xerosis kutis menyebabkan kulit terasa seperti tertarik atau terasa ketat, rasa perih atau terbakar, dan dapat menyebabkan infeksi kulit, yang mengganggu kualitas hidup individu.
Penuaan populasi terjadi sangat cepat di seluruh dunia. Fenomena ini akan menimbulkan peningkatan masalah kesehatan pada lansia, termasuk gangguan kulit. Xerosis kutis merupakan salah satu gangguan kulit yang paling sering dijumpai pada lansia, dengan prevalensi di seluruh dunia diperkirakan mencapai 29-85%. Sebuah laporan di Indonesia menunjukkan bahwa xerosis kutis merupakan 5 penyakit terbanyak pada lansia, dengan angka kejadian sebesar 6,27% dari 2.433 pasien yang datang ke Unit Rawat Jalan. Terdapat beberapa faktor komorbiditas pada xerosis kutis. Sebuah studi melaporkan bahwa dermatitis atopik berkorelasi dengan terjadinya xerosis kutis. Probabilitas terjadinya kulit kering secara umum 7 kali lebih tinggi pada pasien yang memiliki dermatitis atopik sebagai faktor komorbiditas.
Xerosis kutis disebabkan oleh banyak faktor atau bersifat multifaktorial. Tidak hanya perubahan dari dalam kulit, tetapi faktor dari luar juga berperan pada terjadinya xerosis kutis. Hipertensi merupakan komorbiditas yang paling banyak ditemukan pada penelitian ini, yaitu pada 54 dari 299 pasien lansia (18,06%) yang datang ke Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Hipertensi dan hiperlipidemia dapat menurunkan sirkulasi darah sehingga meningkatkan risiko terjadinya xerosis kutis, memudahkan patogen masuk ke dalam kulit dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi kulit. Pada penyakit atopik, terutama dermatitis atopik, xerosis kutis merupakan salah satu kriteria diagnosis minor.
Tujuan utama pengobatan untuk xerosis kutis adalah memperbaiki stratum korneum dan menjaga kadar air pada kulit. Penanganan xerosis kutis terdiri dari perubahan lingkungan dan perilaku, serta penggunaan pelembap. Pruritus pada lansia terutama disebabkan oleh xerosis kutis, oleh karena itu, mengobati xerosis kutis dapat mengurangi siklus gatal-garuk dan mengurangi risiko komplikasi. Terapi topikal yang paling umum diberikan pada pasien xerosis kutis adalah pelembap. Pelembap memainkan peran penting dalam pengelolaan xerosis kutis. Pasien dengan xerosis kutis harus menggunakan pelembap yang dapat memperbaiki fungsi sawar kulit, melembutkan dan menghaluskan kulit dengan mengisi ruang di antara sel kulit. Pilihan jenis pelembap untuk xerosis kutis tergantung pada kondisi kulit individu.
Penanganan xerosis kutis pada lansia tidak hanya perbaikan fungsi kulit saja, tetapi juga perlu memperbaiki kondisi umum atau penyakut yang mendasarinya sebagai faktor komorbid xerosis kutis. Dengan perbaikan kondisi umum individu, diharapkan xerosis kutis yang terjadi pada lansia tersebut juga akan membaik.
Penulis : Dr. Damayanti, dr., Sp.KK(K), FINSDV, FAADV
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:
The correlation between comorbid factors and xerosis cutis in elderly
Damayanti, Nadine Salsabila Putri, Dinar Chieko Triesayuningtyas, Hadiq Firdausi, Astindari, Trisiswati Indranarum, Hasnikmah Mappamasing





