51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Hubungan Antara Faktor Sosio-Demografi, Pengetahuan, dan Perilaku Seksual dengan Infeksi Menular Seksual

Ilustrasi simbol seksual lajki-laki dan perempuan (Foto: Espos.id)
Ilustrasi simbol seksual lajki-laki dan perempuan (Foto: Espos.id)

Infeksi Menular Seksual (IMS) secara serius mempengaruhi morbiditas dan mortalitas populasi, dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia. IMS melibatkan penularan suatu organisme antara pasangan seksual melalui berbagai jalur kontak seksual, termasuk oral, anal, atau vaginal. IMS dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau parasit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari 1 juta IMS yang dapat disembuhkan didapat setiap hari di seluruh dunia pada orang berusia 15“49 tahun, yang sebagian besar tidak menunjukkan gejala. Pada tahun 2022, WHO mengusulkan strategi global baru untuk mengurangi beban IMS pada tahun 2030. Strategi ini menyarankan mekanisme untuk mendukung peningkatan pemberian layanan IMS melalui kebijakan, komitmen, pemrograman, dan pemantauan tingkat nasional yang diperlukan untuk mengoperasionalkan, mempercepat, dan memantau kemajuan menuju pencapaian target strategi IMS global tahun 2030. Sebuah studi cross-sectional dilakukan dengan menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan atau Demographic Health Survey (DHS) terbaru yang diterbitkan antara tahun 2005 dan 2022 untuk lima negara Asia Tenggara. Fokus studi ini adalah pada faktor risiko IMS di DHS Timor-Leste, Filipina, Indonesia, Myanmar, dan Kamboja. Studi ini melibatkan 139.062 wanita usia produktif, berusia 15 hingga 49 tahun, yang melaporkan apakah mereka telah mengalami IMS atau gejalanya dan memiliki informasi yang komprehensif tentang variabel yang diminati, termasuk sosio-demografi, perilaku seksual, dan pengetahuan. Laporan tersebut menunjukkan bahwa prevalensi IMS atau gejala IMS di 5 negara Asia Tenggara (SEA) yang termasuk dalam penelitian ini adalah 11,6%, dengan prevalensi tertinggi ditemukan di Kamboja, dan terendah di Filipina. Perempuan berusia 15“24 tahun di Indonesia (17,08%) dan Filipina (9,81%), memiliki risiko IMS yang lebih tinggi daripada mereka yang berusia 25“49 tahun. Di sebagian besar negara Asia Tenggara yang diteliti (Kamboja, Indonesia, dan Myanmar), perempuan yang lebih miskin memiliki risiko IMS yang lebih tinggi. Selain itu, di sebagian besar negara Asia Tenggara (Kamboja, Indonesia, dan Filipina), pengetahuan tentang IMS secara signifikan terkait dengan IMS pada perempuan berusia 15“49 tahun. Faktor perilaku seksual menunjukkan bahwa penerimaan terhadap pemukulan istri karena menolak berhubungan seks dengan suaminya dikaitkan dengan IMS di semua negara kecuali Myanmar. Hubungan antara karakteristik perempuan dalam usia reproduksi termasuk sosio-demografi, pengetahuan dan perilaku seksual, dan IMS atau gejala IMS bervariasi di negara-negara Asia Tenggara. Intervensi IMS dapat disesuaikan dengan karakteristik khusus perempuan di masing-masing dari 5 negara Asia Tenggara.

Penulis: Erni Astutik

Yamani, L.N., Astutik, E., Qurniyawati, E.Ìýet al.ÌýAssociations between socio-demographics, sexual knowledge and behaviour and sexually transmitted infections among reproductive-age women in Southeast Asia: Demographic Health Survey results.ÌýBMC Public HealthÌý25, 738 (2025).

AKSES CEPAT