51动漫

51动漫 Official Website

Hubungan antara lamanya perawatan dengan Biposfonate pada pasien osteoporosis dengan resiko terjadinya Bisphosphonate-Related Osteonecrosis of the Jaw (BRONJ)

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Osteoporosis merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat, terutama pada kelompok usia lanjut. Penyakit ini ditandai dengan penurunan kepadatan tulang sehingga meningkatkan risiko patah tulang. Salah satu terapi yang paling sering diresepkan untuk osteoporosis adalah obat golongan bisfosfonat, yang berfungsi menghambat pengeroposan tulang dan menurunkan risiko fraktur. Namun, di balik manfaatnya, penggunaan bisfosfonat dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan efek samping yang jarang tetapi serius, yaitu bisphosphonate-related osteonecrosis of the jaw (BRONJ).

BRONJ adalah kondisi di mana tulang rahang mengalami kerusakan dan gagal sembuh secara normal, biasanya setelah pencabutan gigi atau tindakan kedokteran gigi lainnya. Kondisi ini ditandai dengan terbukanya tulang rahang yang tidak sembuh selama lebih dari delapan minggu, sering disertai nyeri, pembengkakan, infeksi, hingga gangguan fungsi mengunyah. Meski kejadiannya relatif rendah, dampak BRONJ terhadap kualitas hidup pasien cukup signifikan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa insidensi BRONJ berkaitan erat dengan durasi penggunaan bisfosfonat. Semakin lama obat ini dikonsumsi, terutama lebih dari tiga hingga lima tahun, risiko terjadinya BRONJ cenderung meningkat. Selain durasi terapi, faktor lain seperti jenis bisfosfonat, dosis, kondisi kesehatan umum pasien, serta adanya tindakan invasif pada rongga mulut juga berperan penting.

Dari sisi gejala, BRONJ dapat muncul secara bertahap. Pada tahap awal, pasien mungkin hanya merasakan ketidaknyamanan ringan pada rahang, nyeri saat mengunyah, atau gusi yang mudah meradang. Pada tahap lanjut, dapat terlihat tulang rahang yang terbuka, nyeri hebat, infeksi berulang, bahkan bau mulut yang menetap. Sayangnya, banyak pasien yang tidak menyadari hubungan antara keluhan di rongga mulut dengan penggunaan obat osteoporosis yang sedang dijalani.

Oleh karena itu, kesadaran masyarakat mengenai BRONJ perlu ditingkatkan. Pasien osteoporosis yang mengonsumsi bisfosfonat dianjurkan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut secara optimal, melakukan pemeriksaan gigi rutin, serta selalu menginformasikan riwayat penggunaan obat kepada dokter gigi sebelum menjalani perawatan. Dengan deteksi dini, edukasi yang tepat, dan kolaborasi antara dokter dan dokter gigi, risiko BRONJ dapat ditekan sehingga manfaat terapi osteoporosis tetap optimal tanpa mengorbankan kualitas hidup pasien.

Oleh: Nurani Atikasari drg MBiomed

AKSES CEPAT