Pendekatan heutagogi dalam pembelajaran di era revolusi industri 4.0 menekankan kepada siswa dalam pembelajaran bagaimana belajar. Disini peserta didik memiliki otonomi penuh dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, proaktif dan menyenangkan bagi dirinya sendiri. Dengan penguasaan teknologi mahasiswa akan mampu meningkatkan hasil belajar. Peran literasi digital dalam pembelajaran sangat dibutuhkan. Teknologi pada abad ini berkembang sangat pesat dan menyebabkan perubahan pesat di berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Ada perubahan revolusioner di bidang pendidikan untuk mengikuti manfaat globalisasi (Hase & Kenyon, 2014). Pembelajaran pada abad ini dirancang agar peserta didik mampu mengikuti arus perkembangan teknologi terbaru. Pembelajaran mengarah pada pembelajaran yang mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, ketrampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi (Dewantara, 2021). Di era disrupsi seperti saat ini, dunia pendidikan dituntut untuk dapat membekali peserta didik dengan 21st Century Skills. Keterampilan abad 21 yang dimaksud adalah keterampilan siswa untuk mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta keterampilan komunikasi dan kolaborasi (Shields, R., & Chugh, R., 2018)
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa Fakultas Vokasi 51动漫 memiliki kategori literasi digital yang tinggi. Literasi digital mereka tercermin dari kemampuan mereka dalam menggunakan aplikasi digital terkini yang fungsinya untuk mengakses segala macam informasi, dari informasi formal hingga informal seperti informasi hiburan. Mereka juga mampu memahami syarat dan ketentuan dari setiap aplikasi yang mereka gunakan; itu juga membuat mereka mengetahui informasi pribadi yang direkam dalam aplikasi. Selain itu, mereka juga mampu membedakan informasi yang kredibel dan hoax serta mampu memilah informasi yang dipilih sesuai kebutuhan dan foldernya untuk memudahkan pencarian kembali. Di sisi lain, ada kemampuan yang termasuk dalam literasi digital di mana mereka merespons secara netral. Dengan kata lain, mereka tidak sepenuhnya yakin apakah mereka mampu melakukan kemampuan tersebut atau tidak. Kemampuan tersebut adalah memperbaiki perangkat keras jika rusak, memperbaiki perangkat lunak jika rusak atau terinfeksi virus, mereka juga tidak yakin apakah mereka memiliki dan mampu menggunakan strategi pencarian informasi (logika Boolean/AND, OR, NOT) untuk mencari informasi. di internet.
Pada variabel heutagogi terdapat 4 dimensi yaitu agen pembelajar, kapabilitas, refleksi, dan desain non-linear. Variabel heutagogi dalam penelitian ini diukur melalui 54 pernyataan. Dimensi agen pembelajar menunjukkan bahwa terdapat dua pertanyaan yang memiliki kategori sangat tinggi, yaitu pernyataan tentang kemampuan menggunakan media pembelajaran; dan kemampuan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Sebaliknya ada pernyataan yang hanya menanggapi secara netral yaitu mengenai kemampuan pemanfaatan perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman materi pembelajaran. Mahasiswa Fakultas Vokasi 51动漫 memiliki keterampilan yang sangat baik dalam menentukan media apa yang akan mereka gunakan untuk mengakses informasi. Selain itu, mereka juga selalu mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Namun, ada temuan bahwa siswa terkait merespons secara netral ketika ditanya apakah mereka menggunakan perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pembelajaran. Sebagai data demografi, diketahui bahwa perpustakaan hanya menjadi media keempat yang dipilih oleh siswa dan masih kalah dengan mesin pencari. Dengan kata lain, perpustakaan bukanlah media utama.
Pengukuran pada dimensi desain non-linier melalui 13 pernyataan. Dari seluruh pernyataan yang ditanyakan dan diolah, hasilnya diketahui ada dua pernyataan yang mendapatkan kategori sangat tinggi. Pernyataan tersebut adalah bahwa siswa ingin mendapatkan pengalaman baru dalam belajar; dan siswa dapat menerima kritik dari orang lain untuk meningkatkan kemampuan belajarnya. Dapat dikatakan bahwa mahasiswa Fakultas Vokasi 51动漫 terbuka terhadap pengalaman baru dan mau menerima pengalaman baru dari hasil belajarnya. Mereka juga terbuka untuk menerima kritik dari orang lain tentang diri mereka dan proses belajar mereka, sehingga mereka menyadari bahwa kritik ini dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam belajar.
Penulis: Endang Fitriyah Mannan dan Muhammad Rifky Nurpratama
Jurnal:





