Obesitas umumnya dikaitkan dengan penumpukan lemak tubuh secara berlebihan di jaringan lemak, yang mengakibatkan peningkatan berat badan dan potensi munculnya masalah kesehatan. Energi berlebih tersebut disimpan dalam sel-sel lemak, sehingga menimbulkan ciri khas patologis dari obesitas. Obesitas dapat dicegah dan dikendalikan melalui perubahan gaya hidup yang sehat. Konsumsi sayur dan buah memegang peran penting dalam pengelolaan berat badan. Selain memberikan banyak manfaat kesehatan, konsumsi sayur dan buah juga meningkatkan asupan zat gizi penting salah satunya kalium. Asupan kalium dapat membantu penurunan berat badan melalui perannya dalam sekresi insulin. yang dapat memengaruhi penyimpanan lemak dan perkembangan obesitas dalam tubuh. Sumber utama kalium yaitu sayur dan buah sudah terbukti signifikan berhubungan dan berperan pada penurunan berat badan pada obesitas.
Ada berbagai mekanisme yang menjelaskan peran kalium dalam pencegahan obesitas. Terdapat dua saluran kalium yang sensitif terhadap ATP (KATP) yang berhubungan dengan metabolisme glukosa, yaitu saluran SUR1 dan Kir6.2. Ketika asupan kalium rendah, fungsi kedua saluran ini menurun, sehingga sel beta pankreas terus-menerus mengeluarkan insulin, yang pada akhirnya menyebabkan hiperinsulinemia. Penurunan aktivitas pembukaan saluran KATP juga berkaitan dengan peningkatan glukosa ekstraseluler yang memengaruhi pelepasan insulin. Peningkatan glukosa dalam sitosol menyebabkan depolarisasi bertahap, yang mengakibatkan penutupan saluran KATP. Setelah saluran KATP tertutup, membran sel mengalami depolarisasi hingga sekitar -50 mV, yang memicu potensial aksi dan menyebabkan masuknya ion Ca虏鈦 ke dalam sel, sehingga meningkatkan kadar Ca虏鈦 intraseluler yang kemudian memicu eksositosis granula yang mengandung insulin. Ketika kadar insulin dalam tubuh terus meningkat, proses lipolisis (pemecahan lemak) terhambat, sedangkan penyimpanan lemak meningkat melalui sintesis dan penimbunan trigliserida dalam adiposit. Akibatnya, terjadi penumpukan lemak yang berkelanjutan dan peningkatan risiko obesitas.
Hasil sistematik review kaitan kalium dengan obesitas menunjukkan peningkatan asupan kalium sebesar 500 mg/hari dikaitkan dengan penurunan IMT sebesar 0,13 kg/m虏 pada imigran yang telah tinggal di AS selama lebih dari 10 tahun, dan penurunan IMT sebesar 0,62 kg/m虏 pada individu yang lahir di AS. Temuan ini didukung oleh penelitian lain, yang menunjukkan bahwa partisipan dengan penurunan IMT di atas rata-rata meningkatkan asupan kalium mereka sebesar 25% lebih besar dibandingkan dengan asupan sebelumnya, sedangkan partisipan dengan penurunan IMT di bawah rata-rata menunjukkan peningkatan asupan kalium sebesar 3%. Bagiamanapun, sebuah studi cross sectional terhadap 512 mahasiswa di Tiongkok menunjukkan hasil yang berlawanan, di mana responden yang mengonsumsi kalium 鈮2000 mg/hari memiliki IMT yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsi <2000 mg/hari, kemungkinan faktor besarnya kalori energi lebih berperan dalam kejadian obesitas. Hal tersebut menunjukkan hubungan kalium dengan obesitas masih menunjukkan hasil yang belum konsisten.
Bahan makanan sumber kalium umumnya terdapat di buah, sayur, dan kacang-kacangan. Studi epidemiologi membuktikan asupan kalium masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia masih jauh dari angka kecukupan. Peran kalium terhadap obesitas dapat dijelaskan melalui peran sayur dan buah serta serat yang sudah terbuti dapat menurunkan berat badan, namun mekanisme kalium sendiri terhadap obesitas masih belum banyak dipelajari dan masih perlu tinjauan lebih luas.
.
Penulis : Dr. Farapti, dr., M.Gizi, dan Dewi Fatimatuzahroh, S.Gz,
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Journal of Nutrition and Food Security ( dengan judul .





