51动漫

51动漫 Official Website

Hubungan Indeks Bakterial dengan Gradasi Kecacatan pada Penderita Kusta

Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang serius yang masih banyak ditemukan tetapi juga sering diabaikan. Penyakit ini terjadi karena infeksi primer Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi. Infeksi ini juga dapat mempengaruhi kulit, mukosa mulut, saluran pernapasan bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang, dan testis. Selain merusak saraf yang dapat menyebabkan cacat fisik, penyakit kusta juga berdampak besar pada penurunan daya tahan tubuh. kualitas hidup penderitanya.

Aspek klinis penting seperti gambaran klinis sistemik, keterlibatan saraf, reaksi kusta, serta deformitas dan kecacatan kusta memiliki dampak yang sangat besar terhadap kualitas hidup pasien. Hingga saat ini, belum ada penelitian yang secara langsung mengaitkan indeks bakterial dengan derajat kecacatan pada penderita kusta di Indonesia, padahal masalah kusta dan kecacatan yang diakibatkannya seringkali memberikan stigma sosial dan sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Sebanyak 278 pasien dilibatkan dalam penelitian retrospektif ini, terbagi atas 13 pasien (4,7%) penderita kusta PB dan 265 pasien (95,3%) penderita kusta MB. Jumlah kunjungan pasien laki-laki sebanyak 189 pasien (68%), sedangkan pasien perempuan sebanyak 89 pasien (32%). Jumlah pasien dengan usia < 14 tahun sebanyak 12 pasien (4,3%), sedangkan usia > 14 tahun sebanyak 266 pasien (95,7%). Mayoritas pasien memiliki BI negatif, sebanyak 130 pasien (46,8%), diikuti oleh BI 2+ (21,6%) dan BI 3+ (18,3%) masing-masing memiliki proporsi tertinggi kedua dan ketiga. Sebagian besar kecacatan kusta yang ditemukan dalam penelitian kami adalah kecacatan derajat 0, di semua lokasi yang diamati (mata, tangan, dan kaki). Penelitian ini menemukan bahwa ada 112 pasien (40,3%) yang memiliki derajat 1 dan 2 disabilitas di berbagai kombinasi lokasi. Proporsi tertinggi terdapat pada pasien yang mengalami kombinasi lokasi disabilitas tangan dan kaki (34%). Jenis disabilitas yang paling banyak ditemukan adalah hipoestesia/anestesi yang merupakan disabilitas grade 1, sebanyak 76 kasus (51%). Jenis kecacatan kedua dan ketiga yang paling umum ditemukan adalah claw hand (16,1%) dan ulkus kaki (14,8%). Claw toes merupakan jenis kecacatan yang paling sedikit, yaitu hanya berjumlah 1 kasus (0,7%).

Analisis dalam penelitian ini membagi sampel penelitian menjadi 9 kelompok besar, berdasarkan jenis kusta (PB+MB, PB, dan MB) dan lokasi kecacatan (mata, tangan, dan kaki). Hasil signifikan didapatkan pada 5 dari 9 kelompok : (a) kelompok tangan pada kusta PB+MB; (b) kelompok kaki pada kusta PB+MB; (c) kelompok kaki pada kusta PB; (d) kelompok tangan pada kusta MB; dan (e) kelompok kaki pada kusta MB. Sebagai kesimpulan, korelasi positif antara indeks bakterial dan derajat kecacatan ditemukan pada 56% dari kelompok analisis. Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan baru bagi klinisi dalam mencegah kecacatan pada kusta.

Penulis: Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, SpKK (K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Correlation Between Bacterial Index and Grade of Disability Amongst Leprosy Patients : A Single Center Retrospetive Study

Felix Hartanto, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Evy Ervianti, Tessa Thendria, Regitta Indira Agusni, Bagus Haryo Kusumaputra, Medhi Denisa Alinda, Muhammad Yulianto Listiawan

AKSES CEPAT