51动漫

51动漫 Official Website

Hubungan Kadar Homosistein dan Defisiensi Vitamin D dengan Sindrom Koroner Akut di Indonesia

Sindrom koroner akut (SKA) merupakan salah satu penyakit jantung koroner dengan prevalensi tinggi di Indonesia, dengan penyebab yang diketahui adalah hiperhomosisteinemia. Hiperhomosisteinemia menginduksi stres oksidatif, cedera endotel, dan peningkatan ruptur plak. Vitamin D, hormon yang dibutuhkan tubuh, berasal dari makanan atau diproduksi melalui metabolisme Vitamin D. Berfungsi sebagai anti inflamasi, anti trombotik, dan anti aterosklerotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar homosistein dan defisiensi vitamin D dengan kejadian sindrom koroner akut.

Penelitian ini melibatkan 90 subjek, dibagi menjadi dua kelompok: pasien ACS dan pasien kontrol kesehatan berdasarkan usia. Tingkat homosistein serum dan defisiensi vitamin D dihitung menggunakan uji imunosorben terkait-enzim (ELISA). Hubungan antara kadar homosistein serum dan hasil menunjukkan koefisien kontingensi sebesar 0,270 (p = 0,008), sedangkan Vitamin D dengan ACS memiliki koefisien kontingensi sebesar 0,468 (p = < 0,001).

Ada hubungan yang lemah antara tingkat homosistein dan ACS dan hubungan sedang antara kekurangan vitamin D dan ACS. Hiperhomosisteinemia dan defisiensi vitamin D dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya sindrom koroner akut. Homosistein adalah asam amino yang mengandung sulfhidril yang terbentuk selama metabolisme metionin menjadi sistein. Kadar homosistein yang tinggi secara signifikan dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom koroner akut.

Penulis: Dr. Puspa Wardhani, dr., Sp.PK.

Artikel ini dapat di akses di :

AKSES CEPAT