Studi kohort prospektif dilakukan pada bulan Mei hingga September 2022 di Rumah Sakit Umum Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Sampel dahak dan darah diambil dari 36 pasien yang terkonfirmasi positif TBC melalui pemeriksaan GeneXpert MTB/RIF. Prokalsitonin diuji dengan kit VIDAS Biomerieux dan VIDAS BRAHMS PCT.
Prokalsitonin tidak berkorelasi dengan AFB (p=0.064, r= 0.327) dan GeneXpert sebelum pengobatan (p=0.169, r=0.245), tetapi berkorelasi dengan AFB (p=0.013, r=0.427) dan GeneXpert MTB/RIF (p= 0,020, r=0,405) setelah pengobatan fase intensif. Uji prokalsitonin dengan nilai cut-off 0,07 mendeteksi kasus BTA negatif setelah pengobatan dengan sensitivitas 28,6 dan spesifisitas 96,2%. Nilai cut-off prokalsitonin 0,07 juga mendeteksi Xpert MTB/RIF negatif setelah pengobatan dengan sensitivitas 16,7% dan spesifisitas 100%.
Kinerja Prokalsitonin dalam mendeteksi BTA negatif dan Xpert MTB/RIF negatif setelah pengobatan fase intensif tergolong memiliki spesifisitas tinggi, namun sensitivitasnya masih rendah. Penelitian di masa depan diperlukan untuk mengevaluasi kinerja Prokalsitonin dibandingkan dengan kultur bakteri.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemeriksaan Xpert MTB/RIF pada pasien baru suspek resistensi obat TBC yang hasil AFB-nya masih positif setelah pengobatan fase intensif. Uji Xpert MTB/RIF adalah tes DNA otomatis berbasis kartrid yang secara akurat mendeteksi TB dan mutasi pada gen rpoB yang terkait dengan resistensi rifampisin (RR) dalam waktu kurang dari 2 jam. Namun metode AFB dan GeneXpert memiliki beberapa keterbatasan, termasuk kualitas spesimen yang buruk dan kebutuhan akan penanda yang sederhana dan cepat untuk memantau respon pengobatan pada pasien tuberkulosis paru.
Prokalsitonin, suatu protein yang dikodekan oleh gen CALC-1, telah terbukti memprediksi respon pengobatan dan diagnosis TB. Ini meningkat sebagai respons terhadap sepsis akibat infeksi bakteri dan pada tingkat lebih rendah akibat infeksi mikobakteri. Produksi prokalsitonin dirangsang oleh infeksi bakteri, sedangkan peradangan sistemik akibat infeksi virus rendah. Pada penderita TBC paru, sitokin proinflamasi dihasilkan dari sel T akibat rangsangan antigen bakteri Mycobacterium tuberkulosis, yang menginduksi peningkatan ekspresi gen CALC-1 pada sel parenkim sehingga terjadi hipersekresi prokalsitonin. Prokalsitonin telah dieksplorasi sebagai biomarker untuk mendiagnosis tuberkulosis dan dikaitkan dengan risiko kematian pada pasien tuberkulosis. Prokalsitonin serum menunjukkan kegunaan diagnostik dan prognostik pada akhir pengobatan pasien TB paru. Namun, belum ada penelitian yang menyelidiki apakah prokalsitonin merupakan penanda yang berguna untuk memantau respons terhadap pengobatan TB paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan prokalsitonin dengan AFB dan GeneXpert sebelum dan sesudah pasien mendapat pengobatan fase intensif serta mengetahui kinerja tes prokalsitonin dalam memantau kemajuan pengobatan pada pasien TB paru.
Penulis: Dr. Puspa Wardhani, dr., Sp.PK.
Artikel ini dapat di akses di :





