Masa remaja adalah suatu fase pertumbuhan dan perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa ini merupakan periode transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial. Populasi remaja di dunia diperkirakan sebanyak 1,3 milyar dan merupakan 16% dari populasi dunia. Sebanyak 360 juta remaja berada di kawasan Asia Tenggara. Badan Pusat Statistik menyebutkan terdapat lebih kurang terdapat 6 juta remaja usia 10-19 tahun di Jawa Timur. Pengertian remaja menurut World Health Organization (WHO) adalah kelompok anak yang berusia 10-19 tahun dan kaum muda usia 15 -24 tahun. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no 25 tahun 2014 menjelaskan bahwa yang dimaksud remaja adalah kelompok usia 10-18 tahun. Selama periode ini remaja menderita berbagai bentuk masalah psikososial, perilaku, mental dan emosional.
Remaja dengan masalah perilaku, mental emosional, maupun psikososial, berpotensi menurunkan kualitas hidupnya, akademik, dapat cenderung memiliki masalah ekonomi, produktivitas, hukum dan masalah sosial di saat dewasa. Aktivasi hypothalamic pituitary adrenal axis (aksis HPA) menghasilkan kortisol yang diproduksi oleh korteks adrenal. Kortisol memiliki peran penting dalam mengatur respon tubuh terhadap stres dengan memodulasi metabolisme, fungsi kekebalan tubuh, dan respon inflamasi dan pengeluaran energi yang optimal dalam melawan stres. Kadar kortisol saliva memiliki hubungan dengan risiko gangguan perilaku-psikososial-emosi pada remaja. Pediatric Symptom Checklist-17 (PSC-17) merupakan instrumen yang dikembangkan Jellinek dan kawan- kawan untuk skrining dan deteksi dini gangguan perilaku, emosi, dan psikososial pada anak dan remaja usia 4-17 tahun. Dikelompokkan menjadi tiga subskala perilaku, yaitu subskala internalisasi, eksternalisasi, dan atensi. Data mengenai remaja, tentang gangguan perilaku-psikososial-emosi remaja masih terbatas dan penelitian mengenai hubungan kortisol saliva dengan perilaku, psikososial, dan emosi pada remaja masih belum banyak dilakukan, khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar kortisol saliva dengan risiko gangguan perilaku-psikososial-emosi remaja usia 12-16 tahun menggunakan Pediatric Symptoms Checklist (PSC-17). Studi analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional dilakukan pada bulan November 2022 – Maret 2023. Sampel penelitian ini adalah remaja berumur 12-16 tahun yang bersekolah di SMPN 8 Surabaya diambil dengan metoda simple random sampling. Pemilihan secara acak dari nomer absen siswa. Pengisian kuisioner biodata, karakteristik diri, keluarga dan PSC-17 dilakukan oleh subyek penelitian. Pengambilan sample saliva menggunakan metode passive drooling untuk mengukur kadar kortisol saliva subyek penelitian.
Untuk mengetahui kadar kortisol saliva diukur dengan metode Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hubungan antara kadar kortisol saliva dengan risiko gangguan perilaku-psikososialemosi remaja diuji dengan Chi-Square Test. Hasil penelitian pada 170 remaja didapatkan 53 (31,2%) remaja mengalami risiko gangguan perilaku-psikososial-emosi dengan skor total PSC-17 鈮15 yang diklasifikasikan dalam risiko gangguan internalisasi pada 73 (42,9%) remaja, risiko gangguan eksternalisasi pada 14 (8,2%) remaja, risiko gangguan atensi ada pada 23 xiv (13,5%) remaja. Sebagian besar remaja yang memiliki kadar kortisol saliva normal sebanyak 117 (68,8%) remaja, kadar kortisol saliva tidak normal (tinggi) pada 53 (31,2%) remaja. Kadar kortisol saliva berhubungan dengan risiko gangguan perilakupsikososial-emosi pada remaja (p<0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kadar kortisol saliva berhubungan dengan risiko gangguan perilaku-psikososial-emosi pada remaja. Demikian pula kadar kortisol saliva berhubungan dengan risiko gangguan internalisasi, risiko gangguan eksternalisasi, dan risiko gangguan atensi pada remaja. Deteksi dini gangguan perilaku-psikososial-emosi dan penyebabnya pada remaja diperlukan untuk menghindarkan perilaku berisiko pada masa remaja dan dewasa. Gangguan perilaku-psikososial-emosi meningkatkan kadar kortisol dan memberikan efek jangka panjang merugikan bagi remaja, keluarga serta lingkungannya.
Penulis: Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Disarikan dari artikel dengan judul: 淭he relationship between salivary cortisol levels with risk of behavioral-psychosocial-emotional disorders in adolescents aged 12-16 years yang diterbitkan bulan Mei 2023 di Bali Medical Journal, Vol. 12 (3): 1451-8. Link:





