Penurunan kualitas sperma pada pria telah menjadi perhatian global dalam beberapa dekade terakhir. Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa konsentrasi sperma menurun hingga 51,5% antara tahun 1973 dan 2018. Salah satu faktor yang menarik perhatian ilmuwan adalah pengaruh latihan fisik terhadap kualitas sperma. Namun, hubungan ini tidak sepenuhnya dipahami. Penelitian ini menunjukan wawasan baru dengan mempelajari pengaruh intensitas latihan berbasis beban terhadap kualitas sperma menggunakan tikus sebagai model penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan hewan coba tikus jantan muda jenis Deutschland揇enken揧oken (Mus musculus). Tikus dibagi menjadi empat kelompok: kelompok kontrol dan tiga kelompok latihan dengan intensitas rendah, sedang, dan tinggi. Beban yang digunakan dalam latihan renang setara dengan 3%, 6%, dan 9% berat tubuh tikus. Selama empat minggu, tikus dalam kelompok latihan menjalani sesi renang tiga kali seminggu, dengan durasi latihan bertahap mulai dari lima menit di minggu pertama hingga 15 menit di minggu keempat.Setelah masa intervensi, peneliti mengukur beberapa parameter seperti kadar malondialdehida (MDA), ekspresi caspase-3, dan kualitas sperma (konsentrasi, motilitas, morfologi, dan viabilitas). MDA digunakan sebagai penanda stres oksidatif, sedangkan caspase-3 menunjukkan tingkat apoptosis, yaitu kematian sel yang terprogram.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar MDA dan ekspresi caspase-3 dalam testis lebih rendah pada kelompok latihan dibandingkan kelompok kontrol. Latihan dengan intensitas rendah memberikan pengaruh paling positif, dengan kadar MDA dan caspase-3 terendah di antara semua kelompok latihan. Sebaliknya, peningkatan intensitas latihan justru meningkatkan kadar MDA dan ekspresi caspase-3. Namun, ketika mengamati parameter kualitas sperma, seperti konsentrasi, motilitas, morfologi, dan viabilitas, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara kelompok. Meskipun begitu, ada pola yang menunjukkan bahwa kelompok latihan cenderung memiliki kualitas sperma yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol, terutama pada kelompok intensitas rendah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas latihan memiliki pengaruh linear terhadap tingkat stres oksidatif dan apoptosis pada testis tikus. Latihan dengan intensitas rendah dapat menurunkan stres oksidatif dan apoptosis, sedangkan latihan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan keduanya. Namun, dampaknya pada kualitas sperma masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan dalam aktivitas fisik. Latihan yang terlalu berat dapat menyebabkan stres oksidatif berlebihan yang berpotensi merusak kualitas sperma, sementara latihan dengan intensitas sedang atau rendah dapat memberikan manfaat kesehatan reproduksi.
Hasil penelitian ini memberikan dasar untuk mengembangkan rekomendasi latihan yang optimal untuk meningkatkan kesehatan reproduksi. Namun, perlu dicatat bahwa hasil penelitian pada tikus tidak selalu dapat langsung diterapkan pada manusia. Faktor-faktor seperti durasi latihan, interval, dan fisiologi manusia memerlukan penyesuaian tambahan dalam penelitian masa depan.
Penulis: Prof.Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Priscilia Pratami Intan, Reny I`tishom, Vellyana Lie, Ria Margiana, Syed Baharom Syed Ahmad Fuad, Gadis Meinar Sari (2024). The Effect of Load慴ased Exercise Intensity on Testicular Malondialdehyde Concentration, Testicular Caspase-3 Expression, and Sperm Quality in Mice (Mus Musculus).Biomolecular and Health Science Journal,7(2),
DOI:





