UNAIR NEWS – Fenomena empty nest syndrome kembali menjadi sorotan, khususnya pada keluarga berlatar militer. Kondisi ini menggambarkan perasaan kesepian dan kehilangan makna hidup yang dialami orang tua ketika anak-anak mereka tumbuh dewasa dan meninggalkan rumah. Pada istri tentara, situasi ini kerap terasa lebih kompleks karena harus menghadapi peran ganda saat suami menjalankan tugas negara.
Memasuki fase dewasa madya (usia 4065 tahun), individu mengalami berbagai perubahan psikologis dan sosial. Salah satunya adalah berkurangnya peran sebagai pengasuh utama ketika anak mulai mandiri. Berdasarkan kajian Raup dan Myers (1989), kondisi ini dapat memicu perasaan sedih, hampa, hingga kesepian.
Penelitian terhadap 100 istri tentara yang tinggal di lingkungan batalyon menunjukkan bahwa sebagian besar mengalami tingkat kesepian yang rendah hingga sangat rendah. Namun, kelompok dengan tingkat kesepian sedang hingga tinggi cenderung memiliki permasalahan tambahan seperti komunikasi dengan pasangan, konflik keluarga, serta beban peran yang meningkat.
Beberapa faktor utama penyebab empty nest syndrome antara lain perubahan identitas diri, hilangnya pusat kehidupan yang sebelumnya berfokus pada anak, emosi yang tidak stabil, minimnya aktivitas di luar rumah, serta kurangnya dukungan sosial.
Meski demikian, kondisi ini tidak selalu berdampak negatif. Banyak istri tentara justru menemukan sisi positif, seperti memiliki lebih banyak waktu bersama pasangan, kesempatan untuk mengembangkan diri, serta memperkuat hubungan pernikahan. Namun, dampak negatif seperti kecemasan berlebih terhadap anak dan perasaan kesepian tetap perlu diantisipasi. Untuk mengatasi kondisi ini, sejumlah strategi dapat dilakukan, seperti meningkatkan komunikasi dengan pasangan, mengikuti kegiatan sosial (misalnya organisasi seperti Persit atau komunitas lainnya), mengembangkan hobi, serta membangun jejaring sosial yang lebih luas.





