Lobster merupakan komoditas unggulan di Provinsi Aceh yang mempunyai nilai keekonomian yang tinggi. Selain itu, Kabupaten Aceh Jaya juga diyakini memiliki komoditas perikanan yang unggul. Lobster merupakan komoditas perairan yang strategis bagi perkembangan perekonomian nelayan, jenis lobster air tawar yang ada di Provinsi Aceh tergolong dalam genus Panulirus [Irfannur dkk., 2017].
Jumlah seluruhnya produksi tangkapan lobster tahun 2011-2014 di Kabupaten Aceh Jaya sebesar 382,4 ton atau setara dengan 39,16% dari total produksi tangkapan lobster pada tahun 2011-2014. total produksi Provinsi Aceh [Dinas Kelautan dan Perikanan 2016]. Eksplorasi dan pengamatan komoditi lobster hasil tangkapan sangat penting untuk mengetahui tingkat populasi dan diversity jenis lobster terkait dengan lingkungan alam dan daya dukungnya terhadap keberadaan lobster lobster tersebut.
Pengamatan untuk mendeskripsikan komposisi hasil tangkapan, hubungannya antara panjang dan berat serta produktivitas hasil tangkapan pada enam jenis lobster berbeda di Aceh Jaya dilakukan agar diketahui potensi komoditas lobster dan keberlangsungan komoditi ini dalam pengembangannya sebagai komoditas unggulan.
Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai Agustus 2022 di perairan Aceh Jaya, Kecamatan Setia Bakti, Desa Lhok Rigaih. Kajian ini berfokus pada komposisi hasil tangkapan, hubungan panjang-berat, dan pengukuran produktivitas hasil tangkapan. Jenis sampel diambil enam spesies diantaranya Panulirus homarus, P. longipes, P. penicillatus, P. versicolor, P. hiasan dan P. polifagus. Komposisi total hasil tangkapan lobster didominasi oleh Panulirus penicillatus 23,94%, disusul P. versicolor 19,71%, P. homarus 18,30%, P. longipes 18,30%, P. ornatus 18,30%, dan P. polyphagus 1,40%.
Sementara itu untuk komposisi beratnya, hasil tangkapan didominasi oleh Panulirus versicolor 23,20%, disusul P. longipes 22,79%, P. homarus 19,41%, P. penicillatus 17,42%, P. ornatus 17,02%, dan P. polyphagus sebanyak 0,13%. Adapun hubungan panjang dan berat keenam jenis lobster hasil tangkapan bersifat alometrik negatif. Pengamatan untuk produktivitas tangkapan lobster dengan menggunakan alat tangkap gillnet rata-rata mencapai 226,66 kg pada April 2021, Juni 293,51 kg, dan Desember 141,53 kg. Hasil tangkapan bulan Januari 2022 adalah 437,26 kg, sedangkan Februari 77,87 kg, disusul April 358,85 kg.
Sebagai pembanding beberapa tangkapan lobster di beberapa lokasi di Indonesia, lima jenis lobster dominan ditangkap di perairan Sulawesi Selatan [Musbir dkk., 2014]. Lobster Sumber daya perikanan merupakan komoditas pangan populer yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Komoditas perikanan ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dengan tujuan untuk dijual untuk konsumsi dalam dan luar negeri (ekspor) [Anggraini dkk., 2021]. Nilai ekonomi lobster cukup tinggi mencapai Rp. 200.000 sampai Rp. 400.000 per kg [Maisyaroh dkk., 2014].
Berdasarkan hasil tangkapan di pantai Badung Bali, ditemukan beberapa jenis lobster diantaranya Panulirus penicillatus, P. homarus, P. versicolor, P. longipes dan P. ornatus [Asvin dkk., 2019]. Perairan Nusa Tenggara Timur juga memiliki empat jenis hasil tangkapan lobster diantaranya Panulirus versicolor, P.penicillatus, P.homarus dan P.ornatus [Triharyuni dan Wiadnyana, 2017]. Panulirus versicolor merupakan salah satu spesies utama Panulirus sangat rentan terhadap tangkapan di Papua Barat [Tirtadanu et al., 2022]. Intensitas tangkapan P. homarus di perairan Gunung Kidul telah mengakibatkan penurunan hasil tangkapan per unit usaha (CPUE) [Damora dkk., 2018].
Hanya ada sedikit penelitian mengenai hal ini identifikasi hasil tangkapan lobster di Provinsi Aceh. Bahkan, penangkapan keduanya terus dilakukan untuk kebutuhan lokal, domestik dan ekspor. Oleh karena itu, penelitian pada kajian aspek biologis dan berkelanjutan penangkapan ikan penting untuk dilakukan. Tingginya permintaan lobster menyebabkan penangkapan ikan secara intensif, dan kurangnya pengendalian intensitas penangkapan ikan yang berlebihan juga berdampak pada rata-rata ukuran lobster yang ditangkap cenderung lebih kecil. Faktor inilah yang menjadi penyebabnya nilai ekonomi menjadi lebih rendah [Tirtadanu et al., 2021; Pranata dkk., 2017].
Intensifikasi penangkapan ikan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan pemanfaatan sumber daya, misalnya penangkapan lobster dengan bahan peledak, kalium dan lain-lain akan merusak habitat dan ekosistem [Setyanto dkk., 2018]. Pendekatan seperti ini akan menyebabkan penurunan stok lobster, kepunahan spesies, dan rasio ketidakseimbangan dan aspek biologis lainnya [Junaidi dkk., 2010]. Oleh karena itu, penelitian mengenai sebaran tersebut spesies terhadap ketersediaan lobster di perairan Aceh Jaya sangat signifikan. Jadi, pengelolaan lobster dapat dilakukan sesuai dengan spesies dan daerah sebarannya.
Penulis: Muchammad Yunus
URL: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1221/1/012006/pdf





