51动漫

51动漫 Official Website

Identifikasi Genotipe Escherichia coli Penghasil Extended Spectrum 尾-laktamase (ESBL) dari Usus Kecil Ayam Broiler di Pasar Tradisional di Surabaya, Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Keberadaan kontaminasi Escherichia coli yang berasal dari dalam tubuh ayam dapat terjadi jika ayam yang sebelumnya disembelih telah terinfeksi bakteri, atau kondisi sanitasi kandang buruk. Sementara penyembelihan, penanganan, kualitas udara, dan penyimpanan jangka panjang ayam dapat mengakibatkan kontaminasi lingkungan; usus kecil ayam, khususnya, sering diamati mengalami invasi bakteri ini. Karena kurangnya pengobatan yang efektif saat ini, kelangsungan hidup bakteri penghasil ESBL dalam makanan asal hewan dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat seperti pneumonia, infeksi saluran pernapasan, kram perut, diare, dan infeksi saluran kemih pada manusia.

Bakteri resisten antibiotik dapat melewati usus kecil hewan penghasil makanan dan kemudian dieliminasi melalui feses. Bakteri resisten yang ditularkan melalui kotoran hewan dapat menyebar di peternakan, rumah potong hewan, atau rumah potong unggas, serta selama proses pengolahan daging.

Lingkungan di sekitar peternakan dan rumah potong hewan atau rumah potong ayam juga dapat terkontaminasi meskipun jauh dari sumber kontaminasi. Hal ini penting karena penularan penyakit dari manusia ke hewan dapat terjadi di setiap titik dalam rantai produksi dan kapan saja.

Di Indonesia, masyarakat biasanya membeli ayam di pasar tradisional karena di tempat inilah aktivitas jual beli berlangsung secara tatap muka dan biasanya terjadi proses negosiasi. Pasar tradisional biasanya dikaitkan dengan lokasi yang kotor dan kacau, dan ayam yang dijual di sana biasanya diatur tanpa alas apa pun untuk mencegah infeksi bakteri. Surabaya, salah satu kota terbesar di Indonesia, memiliki beberapa pasar seperti itu. Salah satu penyebab kontaminasi E. coli adalah penempatan daging ayam yang dicampur dengan jeroan berupa usus halus.

Antibiotik dapat kehilangan kemampuannya untuk melawan kuman E. coli seiring waktu, yang menyebabkan infeksi yang tidak terkontrol. Salah satu alasannya adalah penggunaan antibiotik yang tidak tepat untuk menghentikan penyebaran infeksi E. coli. Resistensi bakteri lebih umum terjadi, sehingga pengobatan penyakit menjadi sulit, terutama infeksi sedang atau berat. Sintesis extended-spectrum 尾-lactamase (ESBL) adalah salah satu mekanisme resistensi yang digunakan oleh bakteri Gram-negatif dalam famili Enterobacteriaceae.

Resistensi ini dihasilkan dari perolehan plasmid dengan gen untuk enzim ESBL, yang sebagian besar dihasilkan oleh E. coli. Kemampuan enzim untuk memecah antibiotik seperti penisilin, sefalosporin, dan amida monosiklik sangat penting untuk memahami bagaimana E. coli mengembangkan resistensi antimikrobanya, tetapi inhibitor 尾-laktamase seperti sulbaktam, tazobaktam, dan asam klavulanat biasanya mencegah produksi ESBL terjadi. Dua gen pengkode utama untuk ESBL adalah TEM dan CTX-M. Kedua gen ini menghasilkan ESBL, yang menghidrolisis antibiotik 尾-laktam.

Masalah yang sangat serius di bidang kedokteran adalah resistensi bakteri terhadap antibiotik. Namun, informasi kasus tentang prevalensi kontaminasi E. coli yang menghasilkan ESBL dalam konteks pasar konvensional jarang dilaporkan. Penelitian diperlukan untuk mengidentifikasi genotipe E. coli yang menghasilkan ESBL di pasar tradisional Surabaya.

Uji Sinergi Disk Ganda (Double Disk Synergy Test/DDST) dilakukan pada 14 isolat E. coli MDR dan isolat yang telah diidentifikasi memiliki ESBL, dan selanjutnya dideteksi menggunakan tiga antibiotik berbeda. Enam dari 14 isolat yang diuji dengan uji DDST adalah strain E. coli yang menghasilkan ESBL. Keberadaan bakteri ESBL yang menghasilkan MDR menimbulkan bahaya bagi kesehatan masyarakat. Mungkin hanya ada sedikit pengobatan yang efektif untuk gangguan tertentu. Karena antibiotik disalahgunakan dalam hal dosis, diagnosis, dan bakteri penyebab infeksi, terdapat insiden resistensi bakteri yang signifikan. Penggunaan antibiotik di atas dosis yang direkomendasikan memberikan tekanan seleksi yang lebih kuat pada bakteri, menyebabkan bakteri bermutasi dan akhirnya mengembangkan resistensi. Antibiotik juga memiliki dosis minimum untuk menghasilkan efek terapeutik. Pemberian antibiotik dengan dosis yang kurang mencegah bakteri untuk sepenuhnya dihilangkan, yang memaksa kuman yang tersisa untuk beradaptasi dan mengembangkan resistensi antibiotik.

Keberadaan gen TEM dan CTX-M pada enam isolat E. coli yang telah dikonfirmasi menghasilkan ESBL kemudian ditentukan melalui genotipe. Empat dari enam isolat membawa kedua gen TEM dan CTX-M dalam hasil elektroforesis dari enam isolat yang diteliti, sedangkan dua isolat lainnya hanya mengandung gen CTX-M. Munculnya pita tunggal pada hasil elektroforesis menunjukkan hasil yang menguntungkan.

Hasil deteksi gen resistensi ESBL dari enam isolat yang diperiksa menunjukkan bahwa empat isolat memiliki kedua gen TEM dan CTX-M, sedangkan dua isolat lainnya hanya memiliki gen CTX-M. Enzim 尾-laktamase biasanya bertanggung jawab atas keberadaan kedua gen ini pada bakteri Gram-negatif. Plasmid yang mengandung gen resistensi antibiotik untuk aminoglikosida, trimetoprim, sulfonamida, tetrasiklin, dan kloramfenikol memiliki ESBL yang dapat menghidrolisis antibiotik. Plasmid tersebut juga mengandung gen TEM dan CTX-M, yang diturunkan dari kromosom bakteri. Integrin dan transposon memengaruhi aktivitas gen.

Dua kategori utama antibiotik 尾-laktam adalah gen TEM dan CTX-M. Namun, beberapa penelitian melaporkan prevalensi gen CTX-M yang lebih tinggi. Kemampuan bakteri untuk melawan antibiotik disebabkan oleh adanya gen resistensi antibiotik yang terdeteksi. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan gen yang ditemukan pada isolat yang menunjukkan resistensi dalam uji sensitivitas. Fenomena di mana bakteri Gram-negatif dapat mentransmisikan transfer gen horizontal atau lateral dari plasmid dan mengkloning E. coli penghasil ESBL yang ada di dalam tubuh hewan dikaitkan dengan prevalensi tinggi CTX-M dan TEM dalam menciptakan resistensi E. coli terhadap antibiotik sefalosporin generasi ketiga.

Kunci untuk menyelesaikan masalah bakteri E. coli penghasil ESBL pada ayam adalah agar peternak menyadari risiko penggunaan antibiotik sebagai aditif pakan dan peningkat pertumbuhan. Selain itu, penggunaan disinfektan secara terus-menerus untuk menjaga kebersihan kandang sangat diperlukan. Lebih lanjut, pemerintah perlu mengambil tindakan untuk memantau dan menegakkan kontrol yang lebih ketat terhadap penggunaan antibiotik, yang bahkan mudah didapatkan di pasaran. Menjaga lingkungan yang bersih dan mencuci tangan sebelum makan adalah dua cara untuk mencegah penyakit bawaan makanan. Karena banyak pekerja di pasar tradisional tidak menyadari risiko yang terkait dengan penyembelihan unggas tanpa alat pelindung diri, mereka harus mengenakan alat keselamatan kerja seperti masker, sarung tangan, dan sepatu bot sebagai tindakan pencegahan untuk menghindari paparan bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa 14 isolat MDR diisolasi dari 100 sampel usus ayam, 6 di antaranya menghasilkan ESBL dan 4 di antaranya memiliki gen TEM dan CTX-M. Kunci untuk mengatasi masalah bakteri E. coli penghasil ESBL pada ayam adalah kesadaran peternak akan risiko penggunaan antibiotik sebagai aditif pakan dan peningkat pertumbuhan.

Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Reichan Lisa Az Zahra, Sasqia Khairunnisa Aulia Prayudi, Tri Wahyu Suprayogi, Dhandy Koesoemo Wardhana, Mustofa Helmi Effendi, Aswin Rafif Khairullah, Shendy Canadya Kurniawan. Identification of the Genotypes of Extended-spectrum 尾-lactamase Producing Escherichia coli in the Small Intestine of Broiler Chickens at a Traditional Market in Surabaya, Indonesia. Asian Journal of Dairy and Food Research, Volume 44 Issue 6: 1021-1028 (December 2025)

AKSES CEPAT